“Tetapi tetangga-tetangganya dan mereka yang dahulu mengenalnya sebagai pengemis berkata: ‘Bukankah dia ini yang selalu mengemis?’ Ada yang berkata: ‘Benar, dialah ini.’ Ada pula yang berkata: ‘Bukan, tetapi ia serupa dengan dia.’ Orang itu sendiri berkata: ‘Benar, akulah itu.’ Kata mereka kepadanya: ‘Bagaimana matamu menjadi melek?’ Jawabnya: ‘Orang yang disebut Yesus itu mengaduk tanah, mengoleskannya pada mataku dan berkata kepadaku: Pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi, dan setelah aku membasuh diriku, aku dapat melihat.’ Lalu mereka berkata kepadanya: ‘Di manakah Dia?’ Jawabnya: ‘Aku tidak tahu.”
(Yohanes 9:8-12)
Tidak bisa dipungkiri, sesuatu yang baru atau berbeda dari biasanya pasti akan membuat banyak orang heran dan bertanya-tanya. Tidak jarang, sesuatu yang baru tersebut menimbulkan perbantahan, baik yang sifatnya negatif maupun positif. Contoh nyata adalah ketika Timnas Indonesia melawan Timnas Jepang pada hari Jumat, 15 November 2024 lalu. Negara-negara di belahan dunia sangat heran atau takjub dengan Indonesia. Mereka menilai bahwa koreografi dan dukungan dari para suporter Timnas Indonesia sangat luar biasa, bahkan FIFA pun memuji Indonesia setinggi langit.
Dalam kisah di Alkitab, keheranan serupa juga terjadi. Ketika Naomi kembali ke Betlehem, kampung halamannya, orang-orang gempar dan bertanya, “Naomikah itu?” (Rut 1:19). Ketika Raja Saul bernubuat di tengah kumpulan para nabi, orang-orang bertanya dengan heran, “Apakah gerangan yang terjadi dengan anak Kish itu? Apa Saul juga termasuk golongan nabi?” (1 Samuel 10:10-11). Ketika Yesus mengajar di Nazaret dengan hikmat yang luar biasa, orang-orang bertanya, “Bukankah Ia ini anak Yusuf?” (Matius 13:53-56).
Dan sekarang, giliran si buta sejak lahir dalam Yohanes 9:8-12. Ketika dia bisa melihat, orang-orang bertanya dengan heran, “Bukankah dia ini, yang selalu mengemis?” Dalam bahasa sehari-hari mungkin mereka berkata, “Kalau melihat badan dan wajahnya sih dia itu pengemis tetangga kita, tapi kok tidak buta lagi ya?” Pertanyaan mereka masuk akal, karena biasanya mereka melihatnya dalam kondisi buta tanpa harapan, dengan tangan terulur mengharap pemberian orang lain. Kini, mereka melihatnya berjalan normal!
Respon si buta sangat menarik. Ia tidak membiarkan mereka berlama-lama dalam kebingungan. Dengan tegas, ia menjawab, “Benar, ini aku.” Namun, jawabannya justru memunculkan pertanyaan baru tentang siapa yang telah menyembuhkannya. Tanpa ragu, ia menjelaskan bahwa Yesus-lah yang menyembuhkannya, bahkan menceritakan dengan rinci bagaimana Yesus membuatnya dapat melihat. Ia tidak menutupi kebenaran meskipun ia tahu tindakan Yesus pada hari Sabat bisa menimbulkan kontroversi di kalangan orang Yahudi. Sukacita dalam hatinya mendorongnya untuk bersaksi tentang Yesus tanpa rasa takut.
Kita semua telah menerima banyak kebaikan dari Tuhan, mulai dari jaminan keselamatan jiwa hingga berkat-berkat jasmani. Tidak ada alasan untuk menutupi siapa yang telah memberikan semua itu. Kita harus bersaksi dengan tegas bahwa Yesus-lah sumber keselamatan dan berkat-berkat kita. Jika kita memiliki motivasi yang kuat, Tuhan pasti membuka jalan untuk bersaksi. Selamat bersaksi tentang Yesus Kristus. Tuhan memberkati.
(AP21112024)
Pokok Doa GBIK:
- Doakan Pemerintah Indonesia dalam menjaga perekonomian dan stabilitas harga kebutuhan pokok agar tetap terjangkau oleh masyarakat Indonesia.
- Berdoa untuk jemaat yang lama tidak hadir beribadah supaya diberikan kerinduan untuk kembali beribadah di gereja.
- Doakan Jemaat yang sedang mencari pekerjaan dan pasangan hidup kiranya Tuhan memimpin, memberkati dan memberi jawaban yang terbaik sesuai dengan kehendak Tuhan.
Pokok Doa Cabang PURWONEGORO, Jawa Tengah
- Doakan Gembala Sidang Pdm. Eko Kristianto dan keluarga dalam keadaan sehat.
- Mendoakan agar jemaat rindu untuk ikut Sekolah Minggu dengan antusias.
- Doakan Kesehatan dan kesetiaan Jemaat GBIK Cab. Purwonegoro.
