“Perempuan itu melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagi pula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.”
(Kej. 3:6)
Pada waktu digoda Iblis, Adam dan Hawa merupakan pasangan suami isteri pertama di dunia yang masih muda dan belum berpengalaman dalam hidupnya. Usia muda dan belum berpengalaman itulah yang dilihat Iblis merupakan kesempatan emas untuk menjadi sasaran godaannya. Pilihan Iblis tepat karena pada umumnya orang muda lebih terbuka untuk pembaharuan segala sesuatu, dan Iblis menawarkan pembaharuan menilai suatu perintah Tuhan.
Mari kita perhatikan bagaimana Hawa yang didampingi Adam dalam menyikapi godaan Iblis untuk makan buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, sementara Tuhan melarang untuk memakannya. Dengan rayuan mautnya Iblis menggoda, siapapun yang mau makan buah yang dilarang Tuhan untuk dimakan itu, yang bersangkutan akan dapat menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat. (Kej. 3:5). Ini adalah bujukan, rayuan, godaan yang tajam dan langsung menghujam pikiran dan nurani manusia. Siapapun di dunia ini kalau menjadi Hawa saat itu pasti klepek-klepek, sulit untuk menolaknya. Dan karena pengaruh godaan itu, lihatlah respon Hawa,
(1)“buah itu kelihatan baik untuk dimakan,
(2) buah itu kelihatan sedap dan
(3) buah itu kelihatan menarik hati karena memberi pengertian.”
Ketiga hal yang dilihat Hawa itu merupakan kondisi yang mendukung untuk menerima godaan Iblis. Memang Iblis sudah mengondisikan seperti itu sebagai senjata untuk menembakkan godaan pada sasaran yang tepat. Apa yang dilihat dengan mata jasmani yang kelihatan serba menyenangkan dan menghiurkan, patut kita waspadai. Dalam kenyataannya bisa saja seperti itu, tetapi lebih banyak merupakan “tipuan mata” yang dapat menyesatkan. Hawa telah tergoda dan tertipu oleh apa yang dilihat mata jasmani itu.
Dalam kehidupan sehari-hari, janganlah kita hanya mengandalkan apa yang dilihat secara jasmani dengan mata jasmani. Perbanyaklah melihat segala sesuatu dengan kacamata rohani berdasarkan kebenaran firman Tuhan yang telah kita yakini. Di sinilah diperlukan kepekaan menyesuaikan apa yang dilihat, apa yang diingini dengan pengajaran-pengajaran firman-Nya. Yakinlah kalau hal itu sudah kita lakukan, kita dapat terhindar dari berbagai godaan. Tuhan memberkati.
(RI21102020)
Pokok Doa:
- Mari doakan kebutuhan dana bantuan pendidikan untuk PJJ yang diperlukan pendidik maupun peserta didik , kiranya di cukupkan;
- DMari doakan para guru SM terus dalam hikmat Tuhan melayani dan semangat mendidik;
- Doakan Persiapan Jemaat yang akan di baptis , diberi kesehatan dan mental makin mengasihi Tuhan Yesus.
