“Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat”
(Kejadian 12:1-3)
-
Peristiwa Allah memanggil Abraham keluar dari negerinya adalah peristiwa yang sangat penting. Panggilan itu mempunyai dampak yang sangat luar biasa. Allah sedang merencanakan mendirikan suatu bangsa yang besar yang dimulai dari Abraham. Allah akan memberkati orang yang memberkati Abraham dan Allah akan mengutuk orang yang mengutuki Abraham. Kapan peristiwa itu terjadi dan di mana Allah memanggil Abraham, ada beberapa pendapat. Ada yang berpendapat bahwa Allah memanggil Abraham waktu dia berada di Haran tetapi ada pula yang berpendapat bahwa Allah memanggil Abraham waktu dia berada di Ur-Kasdim.
- Mendoakan Badan Legislatif NKRI dalam menjalankan tugas dengan hati takut Tuhan dan rela berkorban;
- Mari doakan Para anggota Panitia Perancang , melayani Tuhan Yesus dengan hati bersyukur , makin mengasihi Tuhan Yesus dan sesama;
- Mendoakan Murid-murid SM kelas Dewasa diberikan kesehatan dan makin semangat bertumbuh dalam pengenalan kasih Kristus.
Mari memperhatikan beberapa pernyataan berikut. Ketika Allah mengulangi janji-Nya kepada Abram dalam Kejadian 15:5-7, “Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman, “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.” Maka firman-Nya kepadanya: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Lagi firman TUHAN kepadanya: “Akulah TUHAN, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim, untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu.”
Selain itu kata “negerimu” erets dan “sanak saudaramu” moledeth’ di Kejadian 11:28, diterjemahkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia demikian: “Ketika Terah, ayahnya, masih hidup, matilah Haran di negeri kelahirannya, di Ur-Kasdim.” Akan bertambah jelas jika kita membaca Kisah Para Rasul 7:2, ketika Stefanus bersaksi: “Jawab Stefanus: “Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah! Allah yang Mahamulia telah menampakkan diri-Nya kepada bapa leluhur kita Abraham, ketika ia masih di Mesopotamia, sebelum ia menetap di Haran,”.
Yang penting dari keterangan ini ialah Allah memanggil Abraham keluar dari negerinya dan dari sanak keluarganya karena mereka tinggal di negeri yang penuh dengan penyembahan berhala, sedangkan Allah berencana membentuk suatu bangsa yang besar sebagai Umat-Nya. Terah, ayah Abraham adalah penyembah berhala. Penjelasannya terdapat dalam Yosua 24:2, ”Berkatalah Yosua kepada seluruh bangsa itu: “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Dahulu kala di seberang sungai Efrat, di situlah diam nenek moyangmu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain.” Allah memanggil Abraham, karena itu dia harus keluar meninggalkan ruang lingkup penyembahan allah lain kalau dia mau menerima berkat Tuhan. Abraham mesti menjauhkan diri dan meninggalkan kawasan penyembahan kegelapan kalau dia mau dipakai Tuhan dalam rencana-Nya.
Hal seperti itu seringkali kita temukan dalam firman Tuhan. Ketika Yesus memanggil murid-murid-Nya, mereka segera meninggalkan jala, perahu, meja pemungut cukai dan bahkan meninggalkan orang tuanya. Ketika Tuhan Yesus memanggil orang untuk mengikut Dia, ada yang menjawab “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku”. Orang lain menjawab: “Izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku. Tetapi Yesus berkata “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah” (Lukas 9:59-62). Jika ada orang yang mau mengikut Yesus, Kristus ingin orang itu meninggalkan segala yang merintangi mereka, dan mereka menjadi milik Dia sepenuhnya.
Sering kita melihat banyak orang kehilangan berkat yang sudah dijanjikan Allah, hanya karena mereka masih terus terikat dengan kehidupan-lama-nya. Contohnya ialah Istri Lot ketika Allah memusnahkan Sodom dan Gomora: “Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam” (Kejadian 19:26).
Sama seperti Abraham ketika dengan iman dia rela meninggalkan segala- galanya, lalu menerima panggilan Allah dan pergi ke negeri perjanjian, marilah kita mengikut Yesus sepenuhnya. Tinggalkanlah segala kepercayaan lama kita. Misalnya, agama nenek moyang kita, perbintangan, ramalan ramalan dan lain sebagainya. Mari ikut Yesus sepenuhnya ke negeri Perjanjian. Dalam firman Tuhan (Alkitab) kita menemukan banyak janji Allah yang luar biasa bagi kita.
(JET28082020)
Pokok Doa:
