“Jika kami menderita, hal itu menjadi penghiburan dan keselamatan kamu; jika kami dihibur, maka hal itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga”
(2 Kor. 1:6)
Dimanapun dan siapapun yang pernah mengalami masalah pasti membawa noda dalam kehidupan manusia. Putus asa, tawar hati, kepahitan, dan bahkan ragu akan kuasa Allah. Namun setiap masalah sejatinya membuahkan sesuatu yang berguna bagi kita yang mengalaminya. Masalah membuat manusia lebih dekat kepada Allah, berdoa dan berseru kepada-Nya seperti yang ditulis dalam Mazmur 107:6, “Maka berseru-serulah mereka kepada Tuhan dalam kesesakan mereka, dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka”.
Kepada jemaat di Roma, rasul Paulus menganjurkan kepada mereka untuk tidak saja bermegah akan anugerah Allah dan pengharapan akan kemuliaan Allah, tetapi juga bermegah akan masalah dan kesengsaraan yang mereka alami. “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecawakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm. 5:3-5). Mengapa demikian? Karena masalah, penderitaan atau kesengsaraan sungguh mengubah serta membentuk watak dan karakter seseorang, sebagai contoh yang Alkitab ceritakan adalah cerita anak yang hilang dalam Injil Lukas 15:11-32. Masalah dan penderitaan juga membuat kita semakin dewasa, arif, dan bijaksana dalam membawa diri di hadapan Allah dan sesama. Masalah memberi kita kemampuan untuk menolong sesama kita yang menderita atau menjadi teladan bagi orang lain. Itu yang diungkapkan rasul Paulus “Jika kami menderita, hal itu menjadi penghiburan dan keselamatan kamu; jika kami dihibur, maka hal itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga” (2 Kor. 1:6).
Jadi saudara, tugas kita adalah menjawab dan menyelesaikan masalah dan bukan menciptakan masalah. Kitalah jalan keluar dari masalah sesama kita. Jika ada sesama kita yang menjerit, dengarkan dan jawablah jeritan mereka! Tuhan Yesus melakukan hal itu. Ketika manusia hidup dalam jeritan dosa dan masalah, Ia tidak berdiam diri dalam istana-Nya, tetapi Ia keluar dan turun dari Istana-Nya ke bumi dan mencari setiap manusia yang menjerit, bermasalah lalu menjawab kebutuhan mereka. Ia di perahu, di Bait Allah, di pinggir danau, di jalan-jalan pegunungan Yudea, Samaria, dan Yerusalem. Biarkan kita seperti Tuhan Yesus yang mampu menghapus air mata seseorang. Biarlah kita seperti rasul Paulus dan rasul-rasul lainnya yang juga menghapus air mata orang lain dari pengalaman penderitaan dan kesengsaraan yang pernah mereka alami. Biarlah kita juga seperti bapak/ibu rohani kita, kakak-kakak rohani kita yang juga meneladankan kehidupan yang bermakna bagi kita ketika kita sedang menghadapi masalah. Tuhan Yesus memberkati.
(AP28052020)
Pokok Doa:
- Doakan koordinasi antar lembaga Kementerian berjalan dengan baik agar kebijakan yang dikeluarkan dapat mengurangi dampak penyebaran covid-19;
- Doakan tim keamanan gereja agar tetap dapat bertugas dengan baik dan dalam kondisi sehat;
- Doakan jemaat yang berprofesi sebagai pengusaha atau wiraswasta agar dapat membuat kebijakan usaha yang terbaik baik perekonomian maupun kondisi karyawan.
