“Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya. Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus.”
(Kis. 28:30-31)
Setiap pemimpin gereja dan anggota gereja selalu memiliki kerinduan dan usaha untuk menjadi gereja yang berakar kuat, bertumbuh lebat, berbuah banyak, dan dapat dinikmati oleh banyak orang sehingga berbagai upaya pelayanan dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Namun, untuk mencapai hal itu ternyata tidaklah semudah kita membalikkan telapak tangan. Ada-ada saja faktor penghambat untuk mencapai hasil yang maksimal sesuai dengan apa yang menjadi harapan kita bersama. Dan seringkali yang menghambat perkembangan pelayanan adalah sikap hidup orang-orang yang ada di dalamnya, baik yang terlibat secara langsung maupun tidak. Bisa saja sebuah gereja, organisasi atau kepanitiaan dalam kelompok pelayanan mempunyai program yang bagus dan dana yang cukup, tetapi jika orang-orang yang ada di dalamnya tidak mempunyai sikap hidup yang mendukung, maka pelayanan itu tidak akan berkembang atau maju.
Dalam bacaan firman Tuhan di atas, Rasul Paulus memberikan beberapa teladan hidup yang baik agar sebuah pelayanan yang kita lakukan bisa berkembang dan memberkati banyak orang.
Pertama, Paulus rela berkorban dalam pelayanan. Dalam rangka naik banding kepada Kaisar, setelah sampai ke Roma, Paulus diperbolehkan tinggal dalam rumah sendiri, tetapi tetap dalam kawalan prajurit (Kis. 28:16). Dan ia tinggal dua tahun lamanya di rumah yang disewanya sendiri dan digunakan untuk pelayanan tanpa meminta bantuan kepada orang-orang Kristen yang ada di Roma (Kis. 28:30).
Kedua, Paulus memiliki sikap terbuka dan ramah kepada siapapun. Setiap orang yang datang kepadanya dalam kurun waktu tertentu tanpa dibatasi umur, strata sosial dan perbedaan-perbedaan lainnya ia terima dengan penuh sukacita. Dan inilah jalan pembuka bagi Paulus sebagai kesempatan untuk menyampaikan Injil Tuhan (Kis. 28:23&31). Ketiga, Paulus bersemangat memberitakan dan mengajar Kerajaan Allah. Paulus memberitakan Kerajaan Allah itu sangat tepat bagi lingkungan dan orang-orang Yahudi yang di Roma. Mereka selalu mendambakan kerajaan dan Roma merupakan ibukota kerajaan. Jika Paulus memberitakan tentang kerajaan yang sejati, yaitu Kerjaan Allah maka mereka pasti akan mudah menangkap. Dan inti dari pengajaran dan pemberitaan Paulus adalah bahwa Yesus Kristuslah yang berkuasa dalam Kerajaan Allah.
Dari keteladanan sikap hidup Paulus di atas, mari kita kembangkan sikap hidup pribadi kita masing-masing yang mendukung perkembangan pelayanan di gereja kita dengan rela berkorban, terbuka dan ramah, serta semangat menyampaikan Injil Tuhan serta mari kita tinggalkan sikap hidup yang menghambat perkembangan pelayanan kita bagi Tuhan dan gereja kita, misalnya egois, iri hati, pertikaian, dan lain sebagainya. Tuhan Yesus memberkati.
(AP26052020)
Pokok Doa:
- Doakan agar masyarakat yang tetap mudik tetap menaati protokol kesehatan dan tidak menyebarkan covid-19 di daerah masing-masing;
- Doakan agar para Pendeta, Diakon dan Panitia Gereja diberi hikmat, kemampuan dan ide-ide baru dalam mengembangkan program & pelayanan selama masa pandemi;
- Doakan para jemaat yang memiliki anak di bangku sekolah agar diberikan hikmat & kebijaksanaan untuk mendampingi proses belajar anak di rumah.
