“Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.”
(Amsal 16:32)
Sabar dalam segala hal adalah kekuatan jiwa seseorang. Lebih kuat dari seorang pahlawan atau seorang perwira yang merebut suatu kota. Kesabaran ibarat tanaman, harus dirawat dan diberi pupuk, sehingga dapat tumbuh subur dan berbuah lebat. Dengan kata lain kesabaran adalah kunci keberhasilan. Namun saat ini, dalam menghadapi covid-19 yang semakin mewabah dan memakan korban jiwa, masyarakat Indonesia benar-benar diuji kesabarannya untuk menanti kapan berakhirnya covid-19 ini, terlebih dengan himbauan pemerintah Indonesia untuk mencegah dan menghindari covid-19, masyarakat harus taat kepada peraturan yang sudah ditetapkan negara yaitu agar masyarakat tetap berada di rumah dan tidak melakukan aktivitas dikeramaian. Tentu bagi kebanyakan masyarakat Indonesia ini bukan perkara yang mudah untuk dilakukan apalagi jika dikaitkan dengan masalah ekonomi. Namun demikian, untuk segera memutus dan mengakhiri covid-19, sangat dibutuhkan kesadaran dan kesabaran kita semua sebagai warga Negara Indonesia karena kesehatan dan keselamatan jiwa lebih dari segala-galanya.
Oleh karena itu, mengapa kita harus sabar dalam segala hal? Karena kesabaran menolong kita dari berpikir sempit yang bukan saja merugikan diri sendiri tetapi juga sesama dan lingkungan dimana kita tinggal (Ams. 14:29); kesabaran menolong kita tidak mencampuri urusan orang lain yang menyeret kita kepada bencana dan malapetaka (Ams. 15:18; 1 Tim. 5:13); kesabaran menolong kita kuat dalam menghadapi segala masalah dan tantangan kehidupan yang menyeret kita ke dalam dosa dan segala hal yang memalukan (Ams. 16:32; Mat. 6:13); kesabaran mencegah kita melakukan berbagai kesalahan yang membawa kita ke dalam berbagai bencana (Pkh. 10:4); bahkan kesabaran adalah rahasia segala sukses dan jawaban segala doa, karena sukses dan jawaban doa menuntut kesabaran (Rm. 12:12; Luk. 11:8). Namun demikian orang yang sabar bukan berarti tidak melakukan sesuatu untuk keberhasilan, melainkan justru mengerahkan dan mengembangkan segala potensi yang ada saat menghadapi kesulitan dan penderitaan (2 Tim. 4:5).
Lalu bagaimana caranya supaya kita dapat memiliki sifat sabar? Kita harus meminta kepada Allah dalam doa, karena panjang sabar adalah sifat dan karakter Allah (Bil. 14:14, 18; Kel. 34:6; Neh. 9:17; Mzm. 145:8; Nah. 1:3); kita harus merelakan hati kita dipenuhi Roh Kudus karena sabar adalah buah Roh (Gal. 5:22); dan yang terakhir untuk kita bisa sabar harus terus dilatih (1 Kor. 9:27; 1 Tim. 4:8) seperti cara kerja seorang petani (2 Tim. 2:6; Yak. 5:7) dan pola hidup para pahlawan iman (Ibr. 6:15; Yak. 5:10).
Jadi, jika kesabaran yang merupakan sifat dan karakter Allah ada pada kita maka kita pasti juga sabar terhadap persoalan yang ada, sehingga kapan saja dan dimana saja sukses atau keberhasilan menanti kita. Tuhan Yesus memberkati.(AP2632020)
