Bacaan Alkitab : I Samuel 13 : 1 – I Samuel 14 : 52;
I Tawarikh 8 : 1 – 9 : 1a; I Tawarikh 9 : 35 – 44; I Tawarikh 5 : 7 – 10; I Tawarikh 5 : 18 – 22
(Kurun waktu : diperkirakan 1.350 – 1.050 S.M.)
”Iman Atau Ketegaran Hati?”
download versi word file: Renungan Harian Tgl 13 April 2017
“Saya tidak perlu bantuan. Saya bisa kerjakan itu sendiri!”, kata anak-anak kecil (dan seringkali para remaja dan orang dewasa juga mengatakan hal yang sama, bukan?). Meskipun kita ingin mendorong anak-anak untuk berani mencoba melakukan hal-hal demi kepentingan mereka sendiri dan juga belajar meraih keberhasilan dengan usaha mereka sendiri, tetapi kadang-kadang memang tugas-tugas yang dihadapi masih terlalu berat untuk mereka lakukan. Sejenak mereka harus belajar percaya kepada orang tua mereka, dan belajar melakukan hal-hal dengan benar. Apa yang akan kita lakukan ketika anak-anak (atau bahkan mereka yang beranjak dewasa) bersikap tegar hati atau keras kepala? Hari ini kita akan belajar cara bersikap tentang hal tersebut.
Raja Saul memulai masa pemerintahannya dengan baik, karena ia bersikap rendah hati dan mengerti bahwa kekuatannya untuk memerintah berasal dari Allah. Saul telah menunjukkan perhatian dan semangat tinggi yang berasal dari Allah, untuk menolong orang-orang Yabes-Gilead yang telah ditekan dan diancam dengan sangat keras oleh orang Amon. Lalu Saul memotong sepasang lembu dan mengirimkan potongan-potongannya kepada kedua-belas suku Israel dan mengancam mereka bahwa ia akan melakukan hal yang sama kepada lembu mereka jika mereka tidak bersatu mendukung Saul dan Samuel untuk melawan orang Amon. Kemudian segera sejumlah pasukan terdiri dari 333.000 orang laki-laki dapat dikumpulkan untuk berperang melawan bani Amon, dan Allah memberikan kemenangan yang besar kepada mereka. Lalu Saul diteguhkan kembali sebagai raja. Saul telah menunjukkan kebesaran hatinya untuk memaafkan penghinaan sebagian orang Israel yang sebelumnya menentang Saul, dan ia juga telah memimpin ummat Israel sehingga mereka dapat memuji Allah atas kemenangan tersebut. Allah telah bermurah hati kepada Saul dan Saul pun telah bersikap setia kepada TUHAN, tetapi sayangnya dengan cepat hal tersebut berubah. Dengan bodoh Saul mulai bersandar kepada kemampuannya sendiri; jabatannya sebagai raja, serta kemenangannya, telah membuat ia menjadi besar kepala.
Beberapa waktu kemudian, Raja Saul menghadapi ancaman dari orang Filistin. Saat itu ia sedang berkemah di Mikhmas di daerah perbukitan Betel beserta dengan 2.000 orang pasukannya. Anaknya, Yonatan, berkemah di Gibea dengan 1.000 orang laki-laki. Tampaknya inilah pasukan yang biasanya pergi berperang dengan Saul. Namun demikian :
“(13:5) Adapun orang Filistin telah berkumpul untuk berperang melawan orang Israel. Dengan tiga ribu kereta, enam ribu orang pasukan berkuda dan pasukan berjalan kaki sebanyak pasir di tepi laut mereka bergerak maju dan berkemah di Mikhmas, di sebelah timur Bet-Awen. (13:6) Ketika dilihat orang-orang Israel, bahwa mereka terjepit–sebab rakyat memang terdesak–maka larilah rakyat bersembunyi di gua, keluk batu, bukit batu, liang batu dan perigi; (13:7) malah ada orang Ibrani yang menyeberangi arungan sungai Yordan menuju tanah Gad dan Gilead, sedang Saul masih di Gilgal dan seluruh rakyat mengikutinya dengan gemetar”. (I Samuel 13 : 5 – 7)
Kadang-kadang saat tekanan hidup menjadi besar dan menekan, para orang tua, para pemimpin usaha, gereja ataupun organisasi lainnya merasa bahwa mereka harus melakukan sesuatu, bahkan saat mereka sendiri mengerti bahwa sebenarnya hal terbaik yang harus dilakukan adalah menantikan Allah. Raja Saul menghadapi tekanan yang membuatnya menjadi tidak patuh dan akibatnya juga membuat ia kehilangan hak nya untuk memiliki kerajaan dan pemerintahan yang bertahan lebih lama. Orang Filistin mulai bersiap menyerang dan pasukan Saul menjadi takut dan membubarkan diri ataupun bersembunyi (I Samuel 13 : 1 – 14). Alih-alih percaya kepada TUHAN seperti yang dilakukan juga oleh Gideon, dan tetap memberi semangat kepada pasukannya, Saul menjadi panik dan mempersembahkan sendiri suatu korban bakaran untuk mendapatkan berkat Allah sebelum maju berperang. Saul nekat melakukan hal tersebut meskipun dia bukan seorang suku Lewi. Oleh karena ketidak-taatannya kepada TUHAN tersebut, maka Samuel berkata bahwa Allah tidak mengijinkan kerajaan yang dipimpinnya untuk bertahan. Allah menghendaki seorang pemimpin Israel yang mencari hadirat dan kehendak Allah .
Sekilas mungkin kita akan berpikir bahwa penghukuman Allah tersebut agak keras. Lagipula, jika kita berada di pihak Saul, mungkin kita pun akan menyerah terhadap tekanan serupa. Ya, mungkin hal tersebut pun akan kita lakukan, tetapi apakah kita sadar bahwa ini adalah pemimpin atas ummat pilihan Allah? Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut (Lukas 12 : 48). Saul bukan hanya menjadi pemimpin secara politik, tetapi ia adalah juga pemimpin rohani. Kemanapun arah rohani yang diberikan raja, maka rakyatpun akan mengikutinya. Dalam masyarakat modern, kita telah mencoba untuk memisahkan sama sekali antar politik dengan agama dan moralitas, tetapi sebenarnya hal tersebut tidak pernah berhasil dan ataupun sulit untuk dilakukan. Banyak rakyat yang akan mengikuti pemimpin moral mereka, dan keputusan-keputusan yang dibuat bagi bangsa, biasanya selalu menyangkut hal-hal tentang moral. Raja Israel tidak hanya harus melindungi rakyatnya dan memimpin mereka berperang secara fisik; ia juga harus memimpin bangsa Israel secara spiritual. Apakah kita berprofesi sebagai pemimpin di pemerintahan, pemimpin usaha ataupun para pemuka dan pemimpin gereja, kita harus selalu berpikiran bahwa apa yang kita lakukan akan berpengaruh kepada orang lain secara rohani. Maka kita dapat saja memimpin orang lain untuk makin berdekat kepada Allah atau sebaliknya, makin menjauhi TUHAN. Bahkan sikap yang tidak memihak atau tidak berbuat apapun, akan dapat membimbing orang lain untuk menjauh dari Allah.
Saul telah bertindak dengan bodoh dengan bersandar kepada kemampuannya sendiri. Tetapi anaknya, Yonatan, telah menunjukkan iman yang lebih besar dibandingkan ayahnya ( I Samuel 13 : 3 – 5; I Samuel 14 : 1 – 15). Yonatan memimpin serangan terhadap orang Filistin. Pada serangannya yang ke dua kalinya, hanya Yonatan bersama pembawa senjatanya yang berperang melawan orang Filistin. Yonatan memiliki iman bahwa Allan sanggup menyelamatkan Israel dengan banyak ataupun sedikit jumlah pasukan ummat Israel. Saul bersandar pada ‘jumlah’ pasukan, tetapi Yonatan bersandar kepada TUHAN. Allah menolong Yonatan dengan membuat kepanikan di pihak pasukan Filistin, dan tentara Filistin pun dipukul mundur oleh Yonatan dan pasukan Saul.
Apa yang dilakukan seorang pemimpin saat ia berada di bawah tekanan, akan menunjukkan karakter asli orang tersebut. Selain insiden di Gilgal di dalam kitab I Samuel 13, Saul melakukan hal-hal bodoh lainnya ( I Samuel 14 : 23 – 25; I Samuel 15 : 12). Dalam usahanya yang bodoh untuk mendapatkan kemuliaan bagi dirinya sendiri, Saul mengikat pasukannya dengan sumpah untuk mereka semua tidak makan sesuatu makananpun sampai ia dapat membalaskan dendam atas musuh-musuhnya. Ini merupakan ambisi pribadi dan keegoisan Saul; ia tidak mempedulikan kesejahteraan pasukannya. Apakah pasukannya menolak perintah tersebut? Tidak, walaupun Saul bertindak bodoh dan hanya ingin melaksanakan keinginannya sendiri, tetapi ia adalah raja, dan pasukannya membiarkan Saul mengalami akibat tindakan bodohnya tersebut, meskipun mereka semua harus menanggung akibatnya. Sumpah yang dilakukan secara bodoh oleh Saul telah menyebabkan pasukan Israel yang sangat kelaparan berbuat dosa dengan memakan darah binatang hasil tangkapan dari jarahan. Namun agaknya Saul mencoba menebusnya dengan mendirikan sebuah mezbah sehingga daging hewan tersebut dapat dipersembahkan kepada Allah, memasaknya, dan kemudian memberikannya kepada pasukannya.
Tetapi Saul adalah seorang yang belajar dengan lambat. Ia tidak mengakui dosanya sendiri dengan membuat sumpah yang bodoh, yang telah menyebabkan anak buahnya berdosa. Saul malahan mencoba bergerak maju dengan berdoa mohon berkat selanjutnya dari TUHAN untuk memberikannya kemenangan. Tetapi TUHAN tidak berkenan dengan tindakan Saul tersebut dan tidak menjawab seruan permohonannya. Setidaknya, seharusnya Saul menyadari bahwa ada sesuatu yang salah yang telah dilakukannya.
(14:38) “Lalu kata Saul: “Datanglah ke mari, kamu segala pemuka rakyat; berusahalah mengetahui apa sebab dosa ini terjadi pada hari ini. (14:39) Sebab demi TUHAN yang hidup, yang menyelamatkan orang Israel, sekalipun itu disebabkan oleh Yonatan, anakku, maka ia pasti akan mati. ” Tetapi seorangpun dari seluruh rakyat tidak ada yang menjawabnya. (14:40) Kemudian berkatalah ia kepada seluruh orang Israel: “Kamu berdiri di sebelah yang satu dan aku serta anakku Yonatan akan berdiri di sebelah yang lain.” Lalu jawab rakyat kepada Saul: “Perbuatlah apa yang kaupandang baik.” ( I Samuel 14 : 38 – 40).
Rakyat Israel tidak berusaha untuk mengkoreksi Saul yang keras kepala. Orang-orang yang keras kepala selalu yakin bahwa diri merekalah yang benar dan mereka tidak akan mau mendengar nasihat. Maka jika keadaannya baik dan aman, orang-orang yang keras kepala tersebut sebaiknya dibiarkan saja untuk melakukan kesalahannya sendiri, apakah mereka adalah anak-anak, remaja ataupun sudah dewasa. Keberhasilan dan kegagalan adalah bagian kehidupan yang harus dipelajari setiap orang demi kemajuan dirinya sendiri. Dalam keangkuhannya, Saul hendak mempertahankan sumpahnya dan rela mengorbankan anaknya, Yonatan, yang telah membantunya melakukan kemenangan yang gilang gemilang yang diberikan Allah kepada mereka. Untungnya kemudian pasukan Saul menghentikan kebodohan Saul tersebut. Kadang-kadang kita harus menghentikan kebodohan yang dilakukan orang-orang yang keras kepala, karena penderitaan atau kerugian yang terjadi menjadi sangat besar. Saul dapat saja kehilangan bukan saja jiwa anaknya, tetapi juga kepercayaan dari pasukannya.
Meskipun sikap Saul yang tegar hati, Allah masih bekerja di dalamnya untuk memberi kemenangan bagi Israel terhadap orang Filistin. Sama seperti Simson yang juga bersifat keras kepala, Allah menggunakan para pemimpin yang sering ingin mengambil langkahnya sendiri, untuk menghukum orang Filistin, sebab Ia mengasihi ummatNya. Kebanyakan dari kitapun harus melayani para pemimpin yang bersifat tegar hati seperti ini, sehingga kabar baik dari TUHAN ini kiranya memberi secercah harapan bagi kita. Tetapi baik Simson maupun Saul, tidak satupun dari mereka yang kemudian memiliki kekuasaan yang bertahan lama dengan perkenanan dari Allah. Apakah kita menginginkan agar berkat-berkat Allah yang dicurahkan bagi kita dapat tetap berlangsung? Kita perlu bertindak dengan sikap iman yang rendah hati dan jangan melakukan kebodohan. Kita perlu memilih untuk mencari kemuliaan bagi nama Allah saja, dan jangan mencari hormat bagi diri sendiri.
Pada jaman pemerintahan Raja Saul, suku-suku Ruben, Gad dan setengah dari suku Manasye yang berdiam di timur Sungai Yordan juga sibuk berperang (I Tawarikh 7 : 10). Merekapun memperoleh kemenangan sama seperti Yonatan. TUHAN menjawab doa-doa mereka karena mereka menaruh kepercayaan mereka kepadaNya ( I Tawarikh 5 : 19-20). Karena suku-suku ini percaya kepada Allah, maka para suku Israel di sebelah timur Sungai Yordan pun berhasil melucuti musuh-musuh di sekitar kediaman mereka.
“(5:21) Mereka mengangkut ternak orang-orang itu sebagai jarahan: untanya lima puluh ribu ekor, kambing domba dua ratus lima puluh ribu ekor dan keledai dua ribu ekor, juga manusia seratus ribu jiwa. (5:22) Banyak orang yang tewas karena mati terbunuh, sebab pertempuran itu adalah dari pada Allah. Lalu mereka menduduki tempat orang-orang itu sampai waktu pembuangan.” ( I Tawarikh 5 : 21 – 22)
Untuk Direnungkan dan Dilakukan :
- Jika Anda adalah orang yang sangat keras kepala, apakah Anda tidak lelah untuk tetap bersikap demikian? Allah dapat mengampuni Anda, memberi damai dan menjadikan Anda sebagai pribadi yang baru ;
- Jika Allah telah bermurah hati memberikan suatu tampuk kepemimpinan bagi kita, maka kita harus bersikap rendah hati, berhati-hati dan bertanggung-jawab. Kita perlu mengingat bahwa Allah telah memberikan tanggung-jawab ini bagi kita untuk melayani orang lain dan memuliakan namaNya, dan bukannya mencari hormat bagi diri sendiri ;
- Kita perlu menanti-nantikan Allah, bahkan di saat kita sedang takut ataupun tertekan ;
- Kita dapat saja melakukan tindakan yang memimpin orang lain makin berdekat kepada Allah, atau sebaliknya, akan membuat mereka makin menjauh dari TUHAN ;
- Lakukanlah tugas kepemimpinan yang diberikan kepada Anda dengan penuh tanggung-jawab, atau jika tidak demikian, maka TUHAN dapat saja mengalihkan kepemimpinan Anda tersebut kepada orang lain yang lebih pantas memperolehnya ;
- Jika kondisinya akan aman ataupun baik-baik saja, orang-orang yang bersikap keras kepala sebaiknya dibiarkan membuat kesalahan atas tindakan mereka tersebut. Tetapi di saat lain, kita memang harus menghentikan tindakan bodoh yang dilakukan oleh orang-orang yang tegar hati tersebut oleh karena penderitaan ataupun kerugian yang harus ditanggung menjadi terlalu besar ;
- Apakah kita menghendaki agar berkat-berkat Allah dapat terus berlangsung di dalam hidup kita? Maka kita perlu bertindak dengan sikap iman yang rendah hati dan tidak melakukan tindakan yang bodoh. Kita perlu memilih untuk mencari kemuliaan bagi Allah saja dan tidak mencari hormat bagi diri sendiri.
Pertanyaan Untuk Diskusi :
- Melalui pembacaaan ayat-ayat di kitab I Samuel 13 hari ini, kiranya kita dapat belajar untuk tidak bersikap seperti Saul. Apakah kita pun sering bersikap tidak sabar sama seperti Saul? Apakah kita tetap akan menantikan TUHAN ketika hal-hal tidak berjalan dengan cepat sesuai yang kita inginkan? Haruskah kita menantikan TUHAN, atau sebaliknya, segera mengambil keputusan yang menurut kita baik dan benar? Bagikanlah pengalaman Anda tentang hal tersebut ;
- Melalui pembacaan kitab I Samuel 14, kitapun dapat mempelajari tentang kasus-kasus mabuk kekuasaan, ego yang tinggi dan sumpah yang dengan bodoh diucapkan Saul saat ia berkuasa menjadi raja. Menurut Anda, mengapa hal-hal tersebut terjadi pada diri Saul? Apa yang sesungguhnya sedang terjadi kepada Saul? Apakah kita pun dapat memiliki masalah yang disebabkan oleh kekuasaan, egoisme yang tinggi ataupun ucapan sumpah atau ikrar yang diucapkan dalam kebodohan?
Ayat Hafalan Hari Ini :
- I Samuel 14 : 6c “….sebab bagi TUHAN tidak sukar untuk menolong, baik dengan banyak orang maupun dengan sedikit ”
