Bacaan Alkitab : Hakim-Hakim 6 – 7
(Kurun waktu : diperkirakan 1.350 – 1.050 S.M.)
“Mengatasi Iman Yang Lemah”
“Saya tidak dapat melakukannya.”
“Tidak mungkin Allah memakai saya untuk tugas tersebut”
“Kalau saja Anda tahu tentang masa lalu saya…”
“Saya tidak berbakat seperti….”
download versi word file : Renungan Harian Tgl 4 April 2017
Hal-hal tersebut di atas merupakan alasan-alasan yang sering digunakan orang ketika dihadapkan dengan tantangan-tantangan yang lebih besar daripada diri mereka sendiri. Tetapi jika Allah memanggil kita untuk menjawab suatu tantangan, artinya adalah bahwa kita harus bergantung kepadaNya agar dapat meraih kemenangan. Jika kita hanya ingin melakukan hal-hal yang dapat kita lakukan saja, maka kita tidak memerlukan Allah dan Ia tidak akan menerima segala kemuliaan yang sepatutnya diberikan kepadaNya. Allah senang untuk menyatakan kekuatan kuasaNya di dalam cara-cara yang tampaknya mustahil, dan dengan melalui orang-orang yang tidak terduga. Mungkin kita masih ingat tentang Renungan Harian yang belum lama berlalu, di mana Allah menggunakan seorang wanita asusila, Rahab, untuk menyembunyikan para pengintai Israel dari kejaran pasukan Yerikho. Allah dapat menggunakan orang-orang yang imannya masih lemah; mereka (ataupun kita) hanya perlu mengambil langkah pertama untuk percaya dan patuh kepadaNya.
Pada masa itu, Israel tidak mempunyai seorang raja; setiap orang melakukan apa yang benar menurut pandangannya sendiri. Ketika orang Israel mengalami persoalan dan berteriak minta tolong kepada TUHAN pada saat mereka mengalami kesengsaraan, maka Allah mengirimkan Hakim-Hakim (para pemimpin militer) untuk membebaskan mereka dari penindasan yang dilakukan musuh-musuh mereka. Di dalam Renungan Harian kita yang lalu, kita mengetahui bahwa Debora telah dipilih oleh Allah untuk menjadi hakim atas Israel, dan juga seorang perempuan yang bernama Yael, telah dipakai TUHAN untuk meraih kemenangan final atas Sisera, kepala pasukan raja Yabin. Kedua wanita ini, yang berada di tengah masyarakat di mana laki-laki adalah yang paling utama yang mendominasi masyarakat, maka keberadaan kedua wanita tersebut mungkin akan dipandang para pria Israel sebagai calon pemimpin bangsa yang tidak mungkin ataupun kecil kemungkinannya untuk dipilih Allah. Tetapi Allah mau memakai kedua wanita tersebut untuk melakukan pekerjaanNya, karena para wanita pun berharga di mata TUHAN.
Di dalam Renungan Harian hari ini, ummat Israel dibebaskan dari penindasan orang Midian melalui cara-cara yang dipandang mereka kurang lazim. Orang-orang Midian tersebut akan datang pada setiap musim panen untuk merusakkan dan menghancurkan segala sesuatu, baik tanaman maupun hewan peliharaan mereka, dan meninggalkan Israel dengan tanpa adanya bahan makanan untuk dimakan. Ketika mereka berteriak minta tolong kepada Allah, maka Ia menegur mereka karena telah berpaling dariNya dan menyembah illah-illah lain. Tetapi di dalam kemurahan kasihNya, Ia mengirimkan seorang pembebas, yaitu Gideon.
Gideon bukanlah seorang pahlawan yang terkenal; ia berasal dari suku yang terlemah di dalam kaum Manasye dan dia juga orang yang paling tidak penting di dalam keluarganya. Gideon memang memiliki hati seorang pejuang, tetapi ia juga penakut. Gideon sedang mengirik gandum di tempat pemerasan anggur untuk melindungi dari orang-orang Midian yang hendak merampok (Hakim-Hakim 6 : 11, 15, 27, 36-40, Hakim-Hakim 7 : 9-11). Malaikat TUHAN (kemungkinan merupakan penampakan pre-inkarnasi dari Yesus Kristus) menghampiri Gideon dan memerintahkan agar ia bangkit menyelamatkan ummat Israel. Gideon menjadi ragu. “Lalu berpalinglah TUHAN kepadanya dan berfirman: “Pergilah dengan kekuatanmu ini dan selamatkanlah orang Israel dari cengkeraman orang Midian. Bukankah Aku mengutus engkau!” (Hakim-Hakim 6 : 14). Sama seperti yang biasanya kita lakukan jika merasa takut, Gideon pun meminta tanda-tanda bahwa memang Allah sungguh-sungguh memintanya untuk melakukan hal-hal tersebut, dan bukan hanya karena pikirannya sendiri.
Allah berfirman, “Tetapi Akulah yang menyertai engkau…”(Hakim-Hkaim 6 : 16). Ketika Allah menunjukkan kepada Gideon bahwa Ia memiliki kuasa untuk melakukan hal-hal yang mustahil untuk diadakan (Hakim-Hakim 6 : 20-22), Gideon mulai bersemangat dan berani. Ketika kita merasa lemah iman, Allah menghendaki agar kita mau pergi di dalam kekuatan yang diberikanNya. Segala sesuatu menjadi mungkin jika Allah beserta kita (Markus 10 :27). Perhatikanlah tentang banyak hal-hal besar yang akan dilakukan Allah, jika kita mau sungguh-sungguh percaya kepadaNya. Namun demikian kita harus melakukan langkah pertama untuk bersikap patuh, agar dapat mengalami kuasa Allah bekerja di dalam diri kita.
Ujian ketaatan yang pertama bagi Gideon adalah untuk menghancurkan illah palsu Kanaan yang bernama Baal, dan menggantikannya dengan pendirian suatu mezbah bagi Allah, dan menggunakan kayu yang berasal dari tiang dewi Asyera (dewi yang menyertai Baal), menyalakan api untuk mempersembahkan korban bakaran bagi satu-satunya Allah yang sejati (Hakim-Hakim 6 : 25-27). Ini adalah tugas yang sulit yang dapat mengancam jiwa Gideon. Dengan menghancurkan berhala-berhala dewa Baal dan Asyera, Allah hendak menunjukkan kepada orang Midian dan Israel bahwa Ia lebih berkuasa dibandingkan dengan illah-illah palsu mereka. Gideon takut untuk melakukannya sendiri, lalu ia mengumpulkan sepuluh hambanya dan melakukan perintah TUHAN tersebut pada malam hari, tetapi ia tetap mematuhi perintah Allah. Allah tidak memanggil kita untuk menghancurkan berhala-berhala yang ada di tanah kediaman kita, tetapi apakah kita bersedia untuk taat melakukan kehendakNya? Apakah kita akan bersikap setia bahkan jika tugas yang diberikan kepada kita tersebut penuh resiko?
Setelah menghancurkan berhala-berhala, Roh TUHAN turun ke atas Gideon, dan ia mengumpulkan suku-suku Manasye, Asyer, Zebulon dan Naftali untuk bangkit mempersenjatai diri. Lalu 32.000 orang Israel bangkit untuk memerangi 135.000 suku Midian, Amalek dan musuh-musuh Israel di bagian timur.
Roh yang ada di dalam diri Gideon memang rindu melakukan kehendak TUHAN, namun tubuhnya lemah; sekali lagi ia merasa ragu-ragu ketika dihadapkan pada suatu perintah untuk berperang datang. Ia ingin tahu apakah : “Allahku, apakah Engkau sungguh-sungguh memanggilku untuk melakukan hal tersebut?”, tanya Gideon sambil meminta tanda dari Allah. Ia memiliki sebuah guntingan bulu domba. Pada suatu pagi ia memohon agar Allah membuat guntingan bulu domba tersebut menjadi basah tetapi tanah di sekitarnya tetap kering, dan keesokan paginya ia meminta agar lembaran bulu domba tersebut menjadi kering, sedangkan tanah di sekitarnya menjadi basah, jika memang Allah sungguh-sungguh menghendakinya untuk melakukan perintah-perintahNya. Mungkin juga (meskipun kita tidak tahu pasti) Gideon bukan mempertanyakan tentang kehendak Allah baginya, ataupun hendak meminta kepastian bahwa ia sedang melakukan hal yang benar. Tetapi mungkin ia hendak memastikan bahwa ia benar-benar diminta Allah untuk melakukan hal tersebut. Dan Allah tidak menghukum Gideon atas permohonannya tersebut; dengan murah hati, Allah meyakinkan Gideon dengan melakukan tanda-tanda yang dimintanya tersebut.
Kemudian Allah melakukan sesuatu yang tidak terbayangkan dalam pikiran kita: Allah mengurangi pasukan Israel yang jumlahnya hanya 32.000 orang menjadi hanya 300 orang, sehingga setiap orang akan tahu bahwa hanya TUHANlah yang sanggup memberikan kemenangan bagi Israel, dan 22.000 orang laki-laki dipulangkan kembali karena mereka gentar untuk berperang. Kemudian dari 10.000 orang yang tersisa, Allah meminta Gideon untuk memilih kembali sehingga hanya 300 orang yang dipilih untuk berperang. Hal yang aneh, dan kemenangan terjadi atas Israel bersama sekutu mereka satu-satunya, yaitu Allah. Martin Luther, seorang ahli theology pada abad ke 15 dengan benar berkata, “Jika beserta dengan Allah, maka satu orang adalah mayoritas.” Ia sungguh-sungguh Allah Yang Maha Kuasa.
Meskipun Gideon tidak memintakannya, sekali lagi Allah mengerti bahwa Gideon memerlukan suatu tanda yang lain untuk membuktikan bahwa Allah menyertainya. Allah berfirman kepada Gideon bahwa jika ia merasa takut, ia harus pergi mendatangi perkemahan orang Midian pada malam hari. Ketika ia mendatangi kemah orang Midian, kemudian ia mendengar orang Midian yang tengah menceritakan mimpi dan interpretasinya tentang Allah yang menyertai Gideon untuk mengalahkan orang Midian, dan Gideon pun merasa diyakinkan. Segera sesudahnya, Gideon beserta dengan pembantunya kembali ke perkemahan mereka dan membangunkan 300 orang tentara Israel yang tersisa, untuk melakukan penyerangan. Setiap orang mendapat lampu obor di dalam buyung dan juga sangkakala. Lalu mereka mengelilingi perkemahan Midian pada malam hari, memecahkan buyung-buyung tersebut dan meniup sangkakala. Dalam keadaan kekacauan pada malam hari tersebut, maka pasukan Midian menjadi panik dan saling membantai di antara mereka sendiri. Apakah Gidion berhasil memenangkan pertempuran tersebut? Ya!
Untuk Direnungkan dan Dilakukan:
- Mungkin saja Anda tidak percaya sama sekali kepada Allah, namun ketahuilah bahwa Ia adalah Sang Maha Pencipta alam semesta yang Penuh Kuasa, dan Ia mengasihi Anda. Ia memberikan bagi Anda pengampunan, kedamaian dan kehidupan rohani yang baru ;
- Latar belakang masa lalu kita, koneksi ataupun talenta yang kita miliki, tidak menjadi masalah.; sampai hari ini pun Allah masih dapat memakai orang-orang yang mau taat kepadaNya ;
- Ketika kita merasa lemah iman, Allah menghendaki agar kita mau datang kepadaNya untuk menerima kekuatan dariNya. Segala sesuatu menjadi mungkin apabila Allah besrta dengan kita ;
- Kita harus melakukan langkah pertama untuk patuh kepada Allah dan mengalami kuasaNya bekerja di dalam hidup kita ;
- Anda dapat meminta jaminan penyertaan Allah bagi hidup Anda, tetapi janganlah mencobai Dia. Anda tetap harus mengarahkan hidup untuk selalu taat kepadaNya ;
- Mematuhi Allah juga berarti mau menanggung resiko nya ;
- Allah dapat membebaskan dan memenangkan pertempuran dengan sejumlah tentara yang besar ataupun kecil. Cara Allah bekerja mungkin terlihat bodoh untuk orang lain, tetapi Ia adalah Allah yang Maha Kuasa dan layak menerima segala kemuliaan. Percayalah saja kepadaNya.
Pertanyaan Untuk Diskusi :
- Mengawali pembacaan kitab Hakim-Hakim pasal 6 : 1-2, kita melihat pola kehidupan ummat Israel yang mungkin juga berlaku atas kita pada masa kini; Ummat Israel melakukan hal yang jahat di mata TUHAN, lalu mereka berteriak minta tolong kepada Allah, dan Allah menyelamatkan mereka, namun kemudian Israel melakukan hal yang jahat kembali di mata TUHAN.
Jelaskanlah, apakah pola hidup seperti hal di atas tersebut juga kerap terjadi di dalam hidup sehari-hari? Seringkah terjadi suatu hubungan ‘jatuh- bangun’ dengan Tuhan Yesus ? Apakah konsekuensinya jika kita sering mengalami ‘jatuh-bangun’ didalam hubungan rohani dengan Tuhan Yesus, sehingga harus ‘melarikan diri ke gua-gua”? Bagaimanakah cara terbaik untuk mengatasinya?
Ayat Hafalan Hari Ini :
- Keluaran 15 : 11 “Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya TUHAN; siapakah seperti Engkau, mulia karena kekudusan-Mu, menakutkan karena perbuatan-Mu yang masyhur, Engkau pembuat keajaiban?”

Shalonm, selamat pagi ytk. Bapak/Ibu/Saudaraku di dalam Tuhan, kami mohon maaf atas keterlambatan penayangan Renungan Harian hari ini disebabkan kendala internal. Kiranya kita tetap bersemangat untuk ber Saat Teduh pribadi bersama Tuhan. Terima kasih banyak dan Tuhan Yesus memberkati!