“…. dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”
(Rm. 5: 4-5)
Dalam SRHI kemarin, Senin 1 Agustus 2022, kita disadarkan bahwa ketekunan dalam beribadah memiliki peran yang sangat penting dalam menjadikan kita tahan uji. Tahan uji dalam pengertian terbukti kwalitas atau mutu kita. Setelah teruji daya tahan seeorang, maka hal tersebut akan berpengaruh terhadap kekuatan pengharapan yang dimilikinya.
Benarkah tahan uji menimbulkan pengharapan? Pengharapan adalah sesuatu yang diharapkan, atau keinginan supaya menjadi kenyataan, atau orang yang diharapkan/dipercaya. Seseorang yang mengharapkan sesuatu, kemudian orang tersebut mendapatkan kesulitan mengusahakannya, jika dia tahan uji akan memiliki pengharapan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya itu. Tetapi jika dia tidak tahan uji, maka pengharapannya itu hilang seketika, punah sudah harapannya.
Apa yang tertulis dalam Roma 5: 3-5 yang menyatakan bahwa kita bermegah dalam kesengsaraan kita, karena kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan, sebenarnya merupakan akibat nyata dari pembenaran yang dilakukan Tuhan bagi setiap orang yang percaya. “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.” (Rm. 5: 1). Kita menyadari bahwa diri kita adalah orang berdosa yang harus mendapat hukuman maut/mati karena dosa-dosa kita (Rm. 6: 23). Namun oleh karena kita mendengar berita adanya pembenaran yang dilakukan Tuhan Yesus kepada barang siapa yang mau bertobat, dan kita merespon dengan pertobatan yang sungguh, maka kita dibenarkan karena beriman/percaya kepada-Nya.
Bapak, Ibu dan Saudara yang dikasihi Tuhan, rentetan prosesi sebagai akibat dari pembenaran, kesengsaraan – ketekunan – tahan uji – pengharapan, merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari proses pembentukan kekuatan iman kita. Semakin sering kita mengalaminya, semakin terbentuk kekuatan iman yang kokoh dalam diri kita. Apakah kita sudah merasakan proses semakin kokoh tersebut melalui pengalaman hidup kita bersama Tuhan? Hanya pribadi kita sendiri yang mengetahui jawabannya. Yang harus kita yakini adalah pengharapan itu bukan kayalan semata, tetapi akan kita nikmati sebagai kenyataan pada saatnya nanti sesuai waktu Tuhan. Tuhan Yesus memberkati, Amin.
(RI02082022)
Pokok Doa:
- Kegiatan persekutuan WBI hari ini, jemaat dapat hadir, setia dan mendapatkan makanan rohani yang menyehatkan, memberi kekuatan dan meningkatkan imunitas;
- Pengurus WBI dan PBI dapat melayani dengan hati dan diberikan hikmat Tuhan;
- Pemerintah dari Presiden, Wakil Presiden, para Menteri dan pemimpin lembaga hingga satuan terkecil, ketua RT dan perangkatnya diberikan hikmat Tuhan dalam memerintah negeri.
Pokok Doa Cabang PURWONEGORO, Jawa Tengah
- Jemaat yang sedang sakit: Bpk. Yadmadi, bpk. Saltiel, Bpk. Budi, sdri. Tari;
- Jemaat yang sedang mencari pekerjaan atau merintis usaha:Bpk. Budi, Ibu nanik, Ibu Hepi;
- Anak-anak yang baru memulai studi di jenjang SD, SMP, SMA;
- Jemaat yang sedang persiapan ke Jepang: Sdri. Bayun;
- Jemaat yang belum setia ke gereja: Bpk. Teguh sekluarga, Sdr. Yosa, Sdr. Yoyo, Sdr. Alvin, Sdr. Toyo.
