Bacaan Alkitab : Kej. 42 – 44
(Kurun waktu : diperkirakan 2.119 – 1.983 S.M.)
“Ujian Karakter Yang Sejati”
download versi word file : Renungan Harian – Tanggal 29 Januari
Apakah Anda seorang yang murni dan tulus? Jika kita hendak memastikan apakah seseorang memiliki karakter , keyakinan ataupun perasaan yang murni, kadang-kadang adalah bijak untuk melakukan periode pengujian. Meskipun seringkali saat-saat tersebut benar-benar terasa seperti pencobaan yang berat dan tidak menyenangkan, namun ujian tersebut akan dapat menghasilkan karakter yang tahan uji.
Di dalam cerita Alkitab tentang Yusuf, imannya telah diuji sebanyak tiga kali. Ia disayang oleh ayahnya, Yakub, dan saat ia baru berusia 17 tahun, ia bermimpi bahwa suatu hari kelak ia akan memerintah atas saudara-saudara dan orang tua nya. Mimpi tersebut telah menyebabkan timbulnya kebencian di dalam keluarga. Saudara-saudara Yusuf iri hati kepadanya karena mereka tahu tentang sikap favoritisme yang dilakukan ayah mereka, dan mereka juga menjadi dengki oleh sebab mimpi Yusuf tersebut. Pada suatu hari, ketika Yusuf disuruh ayah mereka untuk menemui saudara-saudaranya karena ada urusan tertentu, mereka menangkap Yusuf dan menjebloskannya ke dalam sebuah sumur kering, lalu mereka menjual Yusuf ke pedagang-pedagang yang tengah melintasi tempat tersebut. Kemudian Yusuf dijual kembali dan menjadi hamba Potifar, seorang pegawai tinggi di istana Firaun, raja Mesir (hal ini menggenapi mimpi Yusuf bahwa ia akan menjadi orang terkenal). Lalu dikisahkan bahwa meskipun Yusuf adalah seorang karyawan yang penuh tanggung-jawab, tetapi kemudian, saat Yusuf menolak untuk tidur dengannya, istri Potifar berhasil melakukan tuduhan palsu atas usaha pemerkosaan terhadap dirinya yang dilakukan oleh Yusuf. Atas tuduhan palsu tersebut, lalu Yusufpun dijebloskan kedalam penjara. Kejadian tersebut pastilah telah membuat Yusuf merasa ‘digembosi” Selang beberapa waktu kemudian, kepala juru minuman dan kepala juru roti raja telah bertindak yang membuat Firaun murka, sehingga mereka pun dimasukkan ke dalam ruang tahanan yang sama dengan tempat Yusuf dipenjarakan. Saat mereka masing-masing kemudian bermimpi, dengan pertolongan Tuhan, Yusuf berhasil mengartikan mimpi mereka tersebut. Tetapi sayangnya kebaikan Yusuf tersebut dilupakan oleh kepala juru minuman raja, saat mimpinya menjadi kenyataan dan ia dipulihkan kedudukannya . Meskipun mungkin saat itu Yusuf merasa patah semangat, tetapi imannya tetap tidak dtergoyahkan. Karakternya telah mengalami ujian, dan ia terbukti tetap setia kepada Tuhan.
Kesetiaan Yusuf tersebut telah menuai hasil. Dua tahun kemudian, Firaun mendapat mimpi yang aneh, dan kepala juru minuman raja pun teringat akan Yusuf yang dapat mengartikan mimpi. Kemudian Yusuf dikeluarkan dari penjara tersebut. Lalu Firaun menjadi sangat terkesan akan Yusuf, sehingga ia mengangkatnya menjadi orang nomor dua di kerajaan setelah dirinya. Yusuf telah lulus ujian tentang integritas dan hikmat. Seperti yang telah kita ketahui di dalam Renungan Harian kemarin, akan ada tujuh tahun masa panen raya yang berkelimpahan, yang akan disusul dengan tujuh tahun masa kekeringan dan hama penyakit tanaman. Selama masa tujuh tahun kelimpahan panen tersebut, Yusuf menimbun bulir-bulir gandum dalam jumlah yang sangat besar, sehingga Mesir memiliki persediaan makanan yang berkelimpahan untuk dikonsumsi, dan juga untuk dijual ke negara lainnya, selama tujuh tahun masa kekeringan tersebut.
Lalu tujuh tahun masa kelimpahan pun segera berakhir dan mulailah tujuh tahun bencana kelaparan. Yakub dan anak-anaknya juga terkena dampak hama penyakit atas tanaman pangan mereka, sehingga kemudian Yakub menyuruh anak-anaknya pergi ke Mesir untuk membeli biji gandum. Ketika Yusuf bertemu dengan saudara-saudaranya tersebut, ia berbicara dengan sikap keras terhadap mereka dalam bahasa Mesir, menuduh mereka sebagai mata-mata (Kej. 42 : 7-9, 14-20). Mungkin saja ia berpikir bahwa saudara-saudaranya tersebut memang harus belajar bersikap hormat terhadap raja Mesir, tetapi yang lebih penting juga, Yusuf hendak menguji saudara-saudaranya tersebut untuk mengetahui apakah kini mereka telah berubah. Meskipun saudara-saudaranya tersebut telah berkata bahwa mereka adalah orang-orang yang jujur dan tidak berniat jahat, tetapi Yusuf tetap meminta mereka ditahan sementara selama tiga hari.
(42:18) Pada hari yang ketiga berkatalah Yusuf kepada mereka: “Buatlah begini, maka kamu akan tetap hidup, aku takut akan Allah. (42:19) Jika kamu orang jujur, biarkanlah dari kamu bersaudara tinggal seorang terkurung dalam rumah tahanan, tetapi pergilah kamu, bawalah gandum untuk meredakan lapar seisi rumahmu. (42:20) Tetapi saudaramu yang bungsu itu haruslah kamu bawa kepadaku, supaya perkataanmu itu ternyata benar dan kamu jangan mati.”
Demikianlah diperbuat mereka seperti yang telah diperintahkan oleh Yusuf, (42:21) mereka berkata satu sama lainnya : “”Betul-betullah kita menanggung akibat dosa kita terhadap adik kita itu: bukankah kita melihat bagaimana sesak hatinya, ketika ia memohon belas kasihan kepada kita, tetapi kita tidak mendengarkan permohonannya. Itulah sebabnya kesesakan ini menimpa kita.”
Ruben berkata kepada mereka : “(42:22)….. Bukankah dahulu kukatakan kepadamu: Janganlah kamu berbuat dosa terhadap anak itu! Tetapi kamu tidak mendengarkan perkataanku. Sekarang darahnya dituntut dari pada kita.” (Kej. 42 : 18 – 22)
Saudara-saudara Yusuf tidak tahu bahwa Yusuf mengerti bahasa dan isi percakapan mereka. Dari percakapan mereka, Yusuf tahu bahwa saudara-saudaranya merasa sungguh-sungguh menyesal atas perbuatan yang dahulu mereka lakukan terhadap dirinya.
Yusuf menaruh uang mereka kembali ke dalam karung gandum saudara-saudaranya tersebut. Itu adalah ujian kejujuran. Saat mereka dengan rasa cemas menemukan tentang uang tersebut, mereka menunjukkan kejujurannya dengan mengembalikan uang pembayar harga gandum tersebut sebanyak dua kali lipat, serta memberi hadiah bagi Yusuf, dan mengatakan hal yang sebenarnya (Kej. 43 : 11 -22). Pernahkah kejujuran Anda diuji? Anggaplah Anda memang seorang yang jujur; lalu bagaimana cara Anda menunjukkannya?
Setelah ujian ini, masih ada satu ujian lainnya; piala perak milik Yusuf ditaruh di karung gandum Benyamin. Hasil dari ujian ini menunjukkan bahwa sudah tidak ada lagi kecemburuan terhadap anak-anak Rahel : Yusuf dan Benyamin. Mereka kini lebih memperhatikan kesejahteraan ayah mereka, dan bukan diri mereka sendiri. Sesungguhnya hati mereka telah berubah menjadi baik. (Kej. 44 : 17 – 31). Bagaimana dengan hati kita; apakah oranglain dapat berkata bahwa kita telah berubah? Apakah dengan melihat perbuatan-perbuatan kita, kemudian orang lain dapat menilai bahwa kita sungguh-sungguh seorang Kristen yang dilandasi sifat kasih, Atau sebaliknya, apakah kita sedang menjadi tertuduh atas rasa iri hati dan kepahitan? Jangan biarkan akar kepahitan menguasai diri kita dan mempengaruhi orang lain juga (Ibrani 12 ; 15). Mari mengakui segala dosa kita dan hiduplah dalam kasih satu sama lainnya . Karakter kemurnian yang tulus dimulai dengan kemauan untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan, dan hal tersebut dapat dimungkinkan melalui suatu hubungan pribadi dengan Allah.
Untuk Direnungkan dan Dilakukan :
- Jika kita hendak memastikan bahwa seseorang memliki karakter, kepercayaan atau perasaan yang murni, kadang-kadang bijak juga untuk melakukan saat pengujian. Meskipun saat ini kadangkala kita merasa sudah mengalami pencobaan yang berat dan tidak menyenangkan, hal tersebut berguna untuk pembangunan karakter sesuai Firman Tuhan.
- Kesetiaan kelak akan mendatangkan upah dari Tuhan,
- Jika kita telah berbuat dosa, saat pengujian tersebut dimaksudkan untuk menghasilkan pertobatan sejati . Hal tersebut dinyatakan tidak hanya lewat perkataan, tetapi juga melalui tindakan yang tepat”
- Hidup seorang Kristen haruslah ditandai dengan kasih, dan bukannya sikap iri hati dan kepahitan
Pertanyaan Untuk Diskusi :
- Apakah pelajaran yang dapat kita petik saat mengetahui bahwa akhirnya Yusuf dipertemukan kembali dengan saudara-saudara kandungnya, dan juga mimpi Yusuf yang mulai digenapi oleh Allah.. Mohon jelaskan jawaban Anda. ;
- Apakah kita setuju dengan tindakan Yusuf yang mencoba menguji saudara-saudara kandungnya? Mengapa ia tidak berkata jujur saja kepada kakak-kakaknya dari awal, dan apakah ini tindakan yang baik
Ayat hafalan hari ini :
- I Tawarikh 29 : 17a “Aku tahu, ya Allahku, bahwa Engkau adalah penguji hati dan berkenan kepada keikhlasan”
