Bacaan Alkitab : Kej. 37 – 39
(Kurun waktu : diperkirakan 2.136 – 2.119 S.M.)
“Permusuhan, Pemeliharaan Tuhan dan Pengudusan”
download versi word file : Renungan Harian – Tanggal 27 Januari
Hal-hal apakah yang dapat menyulut permusuhan di rumah tangga ataupun tempat kerja? Biasanya kebencian berawal dari favoritisme dan perlakuan yang tidak adil, baik hal tersebut merupakan fakta yang ada, ataupun baru berdasarkan persepsi seseorang saja. Kadang-kadang kita lah yang menjadi pelaku kebencian tersebut, dan di lain waktu, kita dapat pula menjadi korban tak berdosa atas rasa benci tersebut. Apakah Allah peduli? Apa yang harus kita lakukan?
Sikap yang salah dari tokoh pendahulu iman kita, Yakub, telah menyebabkan timbulnya iri hati dan rasa benci di dalam keluarganya. Berdasarkan kitab I Tawarikh 5 : 1-2 dan Kej. 37 : 3, Yakub telah mengorbankan hak anak sulungnya, Ruben, atas harta warisan keluarganya. Hal ini terjadi karena Ruben telah tidur dengan Bilha, salah satu istri Yakub. Hak kesulungannya kemudian tidak diberikan kepada anaknya yang ke dua yang dilahirkan Lea bagi Yakub, tetapi diberikan ke Yusuf, anak sulung yang dilahirkan oleh Rahel. Tindakan ini menimbulkan kebencian terhadap Yusuf, karena Yakub lebih menyukai Yusuf dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain yang lebih tua dari Yusuf. Keadaan ini bertambah parah dengan diberikannya Yusuf suatu jubah yang indah untuk dikenakan, yang membuat kedudukan Yusuf seolah-olah lebih tinggi daripada saudara-saudara kandungnya yang lain. Berdasarkan pengalaman masa lalu nya, seharusnya Yakub sudah memahami bahaya yang ditimbulkan di dalam keluarganya akibat sikap favoritisme tersebut, tetapi Yakub tetap lebih menyukai Yusuf dibanding dengan anak-anaknya yang lain. Apakah Anda pun sedang melakukan sesuatu hal yang dapat menimbulkan rasa iri hati di rumah tangga, tempat usaha ataupun gereja?
Perasaan iri hati di dalam rumah tangga Yakub pun berkembang menjadi makin buruk, Saat Yusuf berusia 17 tahun, ia memberikan laporan tentang kelakuan buruk kakak-kakak nya kepada ayah mereka. Mungkin saudara-saudara kandung Yusuf memang malas ataupun kurang bertanggung-jawab atas tugas-tugasnya, tetapi juga memang tidak ada seorangpun yang ingin terlihat buruk di mata keluarga nya ataupun atasan/ perusahaan tempat ia bekerja.
Kemudian Yusuf menerima dua buah mimpi yang berasal dari Tuhan mengenai masa depannya. Pada jaman itu mimpi merupakan tanda-tanda khusus dari Tuhan dan memiliki arti khusus. Arti dari mimpi Yusuf tersebut kemudian dipahami oleh keluarganya: Yusuf akan ditinggikan atas semua kakak-kakak nya, dan bahkan ibu dan ayahnya pun kelak akan bersujud di hadapan nya. Tangan Allah yang penuh berkat pasti sedang ditujukan atas diri Yusuf, tetapi sayangnya kakak-kakaknya tidak menganggapnya demikian. Mereka berpikir bahwa Yusuf memang bertingkah menyombongkan diri, dan ingin menempatkan dirinya di atas mereka sekeluarga, dan pemikiran tersebut membuat mereka makin benci kepadanya.
Setelah kejadian tersebut, lalu Yusuf mendapat tugas untuk menemui dan melaporkan tentang kakak-kakaknya. Mungkin Yakub berpendapat bahwa anak-anaknya yang lain kurang dapat dipercaya, tetapi ia sungguh-sungguh percaya kepada Yusuf. Lalu Yusuf mendatangi saudara-saudaranya tersebut sendirian, dan jauh dari penjagaan ayah mereka. Ketika kakak-kakaknya melihat Yusuf datang dari kejauhan, mereka berencana hendak membunuh Yusuf, tetapi kemudian sebagai pilihan yang lebih baik, akhirnya Ruben berhasil membujuk saudara-saudaranya yang lain untuk memasukkan Yusuf ke dalam sebuah sumur yang kering. Ruben berharap untuk nanti dapat membebaskan adiknya tersebut, tetapi ketika rombongan caravan pedagang-pedagang suku Ismael mendatangi tempat itu, saudara-saudaranya yang lain kemudian menjual Yusuf kepada pedagang-pedagang tersebut. Dalam pemeliharaan Tuhan yang sempurna, maka Yusuf tidak jadi dibunuh tetapi ia kemudian dijual lagi ke Mesir (Kej. 50 :20). Lalu kakak-kakaknya mengambil jubah Yusuf, mencelupkannya ke dalam darah kambing, dan membohongi ayah mereka dengan berkata bahwa Yusuf telah mati diterkam binatang buas.
Pelajaran-pelajaran apakah yang kita peroleh tentang bahaya yang ditimbulkan akibat sikap favoritisme? Yang pertama: favoritisme dapat menyebabkan persaingan, iri hati, kebencian dan hilangnya ketentraman di dalam rumah tangga, tempat usaha ataupun wadah organisasi lainnya. Kita perlu menghargai setiap orang dengan baik sebagaimana adanya mereka dan sesuai dengan cara Allah menciptakan dan memperlakukan mereka dengan baik. Hal yang ke dua : dari pengalaman hidup Yusuf, kita dapat belajar bahwa Allah memberikan perlindungan dan pemeliharaanNya yang sempurna bagi setiap orang yang setia kepadaNya.
Di dalam kitab Kej.38, kita melihat bahwa cerita tentang kisah kehidupan Yehuda sepertinya menjadi suatu interupsi atas cerita tentang Yusuf tersebut, namun sebenarnya hal itu adalah untuk menunjukkan tentang kebijakan Allah yang lebih memilih Yusuf dibandingkan dengan Yehuda, untuk menjalankan rencanaNya. Bagi Allah, hal yang terpenting bukanlah soal kedudukan seseorang ataupun kepemimpinannya, tetapi kuncinya adalah tentang kepatuhan.
Mengapa Yehuda meninggalkan saudara-saudaranya dan pergi ke Adulam, sekitar 15 mil (24 km) jauhnya dari rumah mereka? Mungkin saja Yehuda mencoba untuk membebaskan diri dari rasa bersalahnya terhadap Yusuf dan atas kebohongan terhadap ayah mereka…karena : “Pada waktu itu”.. Yehuda meninggalkan saudara-saudaranya dan menumpang pada seorang Adulam, yang namanya Hira (Kej.38 : 1); Adulam adalah kota di tanah Kanaan.
Yehuda adalah contoh sebuah hidup yang terjerat oleh dosa. Pertama, ia telah berbohong dan melakukan penipuan. Yang ke dua, ia melarikan diri dari persoalan yang terjadi. Ke tiga: ia telah berkompromi dengan kehidupan duniawi yang berdosa, dengan menikahi seorang perempuan Kanaan. Pengaruh cara hidup istrinya dan atau budaya yang jahat yang diwariskannya tersebut, mungkin juga telah mempengaruhi anak-anakYehuda menjadi orang-orang yang berperangai jahat juga, sehingga kemudian Allah membawa mereka kepada kematian. Hal yang ke empat : Yehuda telah menipu menantunya, Tamar, untuk melindungi anaknya yang bungsu, tetapi kemudian dirinya lah yang tertipu.
Setelah istri Yehuda mati, lalu Tamar, yang tidak kunjung juga dikawinkan dengan Syela, anak Yehuda yang bungsu, kemudian menyamar menjadi seorang wanita penghibur, agar dapat memperoleh keturunan. Dan Yehuda pun hangus oleh hawa nafsu dan tertipu. Kitab Kej. 38 dan Kej. 39 mencatat pertentangan sikap moral yang sangat jelas antara Yehuda dan Yusuf. Apakah Anda pun sedang terperangkap oleh dosa-dosa mu? Janganlah melarikan diri dan sembunyi dari kesalahan, ataupun mencoba untuk menjalani hidup yang baru sesuai kehendak Anda sendiri. Sebaliknya, bertobatlah dan Allah yang sangat murah hati akan mengampuni dosa-dosa Anda dan menolongmu untuk dapat menanggung segala resiko yang harus dihadapi.
Di dalam kitab Kej.39 kita mengetahui bahwa lalu Yusuf dijual ke Mesir dan menjadi pelayan di rumah Potifar, salah seorang perwira di istana Firaun. Yusuf mendapatkan perhatian dan disayang oleh majikannya tersebut, karena ia dapat dipercayai dalam segala hal. Namun sayangnya, Yusuf pun mendapat perhatian khusus dari istri Potifar. Ia ingin tidur dengan pria tampan yang perkasa tersebut, tetapi Yusuf menolaknya. Yusuf berkata kepadanya : “(39:9)…di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (39:10) Walaupun dari hari ke hari perempuan itu membujuk Yusuf, Yusuf tidak mendengarkan bujukannya itu untuk tidur di sisinya dan bersetubuh dengan dia. (39:11) Pada suatu hari masuklah Yusuf ke dalam rumah untuk melakukan pekerjaannya, sedang dari seisi rumah itu seorangpun tidak ada di rumah. (39:12) Lalu perempuan itu memegang baju Yusuf sambil berkata: “Marilah tidur dengan aku.” Tetapi Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar. (39:13) Ketika dilihat perempuan itu, bahwa Yusuf meninggalkan bajunya dalam tangannya dan telah lari ke luar. (39:14) dipanggilnyalah seisi rumah itu.. (Kej. 39 : 9 – 14a)
Ia menuduh bahwa Yusuf mencoba untuk memperkosanya. Akibat dari dusta tersebut, Yusuf dipenjara. Kemudian apakah yang dilakukan Tuhan bagi Yusuf? Apakah yang dapat kita pelajari jika harus menjadi korban atas tuduhan palsu, ataupun pihak yang disalahkan akibat terjadinya ketidakadilan? Kadangkala hidup pun tidak memberi keadilan. Kadang-kadang kita tidak dapat memahami jika hal yang buruk terjadi dalam hidup kita, bahkan saat kita merasa bahwa kita telah bekerja keras dan menjalani hidup yang menyenangkan hati Allah. Namun demikian di dalam semua hal tersebut, Allah sedang bekerja dalam hidup kita bagi kemuliaanNya, dan Ia pun sedang membentuk hidup kita untuk menjadi seorang Kristen yang lebih baik. (Roma 8 : 28-29) Allah pasti akan membebaskan kita dari semua jerat dosa dan persoalan tersebut, maskipun hal tersebut mungkin tidak terjadi seketika. Akan tetapi, jika kita tetap bertahan di dalam ujian hidup dan tetap setia saat diperlakukan dengan tidak adil, maka Allah akan memberikan upah bagi kita. (Wahyu 2 : 10) Apa yang terjadi dengan Yusuf kemudian? Tetaplah bertekun dalam Renungan Harian untuk pelajaran berikutnya.
Untuk Direnungkan dan Dilakukan :
- Jangan lakukan hal-hal yang dapat menimbulkan rasa benci, baik di rumah, tempat kerja ataupun gereja ;
- Favoritisme dapat menyebabkan persaingan, iri hati, rasa benci dan hilangnya ketentraman di dalam rumah tangga, tempat kerja ataupun di dalam organisasi lainnya. Kita perlu menghargai setiap orang sebagaimana adanya mereka sebagai ciptaan Tuhan yang baik, dan juga seperti Tuhan telah memperhatikan mereka ;
- Allah menyatakan pemeliharaanNya yang sempurna bagi setiap orang yang setia kepadaNya ;
- Bagi Tuhan yang penting bukanlah kedudukan ataupun kemampuan kepemimpinan seseorang, tetapi Ia lebih menghargai kepatuhan seseorang kepada perintahNya ;
- Apakah Anda sedang terjerat oleh dosa? Jangan melarikan diri dan sembunyi, ataupun mencoba menjalani hidup baru sesuai keinginan Anda sendiri. Bertobatlah dan Tuhan akan bermurah-hati untuk mengampuni mu dan menolong Anda untuk dapat menanggung segala resiko akibat kesalahan-kesalahan tersebut.
- Kadang-kadang hidup dapat menjadi tidak adil. Jika hal-hal buruk terjadi dalam hidup kita, percayalah bahwa pada saat itu pun Allah sedang bekerja dalam hidup kita untuk mendatangkan kemuliaan bagi namaNya, meskipun pembebasan bagi masalah tersebut tidak datang seketika. Akan tetapi, jika kita mau bertahan di dalam setiap ujian tersebut dan tetap setia saat diperlakukan dengan tidak adil, maka Allah akan memberi kita upah.
Pertanyaan Untuk Diskusi :
- Dari kitab Kej. 37 kita mengetahui bahwa semuanya berawal dari Yusuf yang menceritakan semua mimpinya yang berasal dari Allah, kepada saudara-saudaranya. Menurut Anda, apakah tindakan Yusuf tersebut cukup bijak, atau dapatkah: jika kita merasa telah menerima visi ataupun petunjuk dari Allah, maka kita akan menyimpannya dalam hati saja dan hanya kita dan Allah saja yang tahu tentang hal tersebut? Apakah sampai saat ini pun Allah masih berbicara tentang kehendak2Nya bagi kita melalui mimpi yang kita alami?
- Dalam kitab Kej. 39: 5, kita belajar bahwa Allah berkenan memberkati Potifar oleh karena keberadaan Yusuf. Menurut Anda, apakah sampai saat ini pun Allah berkenan memberkati orang-orang atau lingkungan di mana ada ummat Tuhan yang mengasihiNya dan hidup takut akan Allah? Apakah menurut Anda, Allah pun turut bekerja dalam setiap lingkungan usaha ataupun tempat kerja di mana Anda berada, untuk memberkati Anda dan lingkungan tersebut? Apakah Anda pun pernah mendoakan hal tersebut? Dan sama seperti yang terjadi dalam hidup Yusuf, apakah Anda percaya bahwa Allah juga tetap memberkati orang-orang yang ada di sekitar kita, oleh sebab kasihNya bagi kita, meskipun orang-orang tersebut mungkin tidak memiliki hubungan pribadi yang dekat dengan Allah?
Ayat hafalan hari ini :
- Amsal 28 : 13-14 “(28:13) Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi. (28:14) Berbahagialah orang yang senantiasa takut akan TUHAN, tetapi orang yang mengeraskan hatinya akan jatuh ke dalam malapetaka.”
