Bacaan Alkitab : Kej. 31:1- Kej. 33:15
(Kurun waktu : diperkirakan 2.136 – 2.119 S.M.)
“Akhir Sebuah Perjuangan”
download versi word file :Renungan Harian – Tanggal 25 Januari
Hasil akhir dari suatu lomba, ataupun akhir dari suatu hubungan kekeluargaan ataupun relasi kerja, kadang bukan merupakan hal yang mudah. Kita berjuang sampai semuanya terasa sudah sia-sia dan harus diakhiri. Mungkin kita merasa pahit, atau akhir semua itu membuat kita jadi menyimpan dendam. Meskipun tampaknya semua sia-sia, tetapi kita tidak harus menjadi putus asa.
Yakub adalah seorang penipu; ia terlah menipu Esau dan ayahnya, Ishak. Karena mendapat ancaman akan dibunuh oleh saudara sulungnya, sebab ia telah menipu dan merebut hak kesulungan kakaknya tersebut, maka kemudian Yakub melarikan diri ke rumah pamannya, Laban. Di tempat itu Yakub bekerja selama tujuh tahun untuk dapat menikahi anak Laban yang bernama Rahel. Tapi kemudian Yakub ditipu oleh ayah mertua nya dan harus mengambil Lea sebagai istrinya yang pertama, dan kemudian harus bekerja tujuh tahun lagi, untuk mendapatkan Rahel. Kita telah belajar dari Renungan Harian yang lalu, bahwa apa yang kita lakukan, hasilnya akan kembali kepada kita. Sebagai majikan, ternyata ayah mertua Yakub telah bertindak sewenang-wenang dengan mempermainkan upah dan keuntungan yang menjadi hak Yakub. Anak-anak laki-laki Laban juga iri hati atas berkat-berkat yang diterima Yakub dari Allah, dan mereka menuduh Yakub telah mencurangi dan mencuri hak milik ayah mereka. Keadaan tampaknya buruk, Yakub merasa bahwa semuanya akan berakhir dengan tidak baik, sehingga ia ingin meninggalkan keluarga Laban. Istri-istri Yakub pun setuju bahwa mereka tidak lagi memiliki hak warisan dari ayah mereka, dan bahkan mereka merasa telah diasingkan oleh ayah mereka tersebut (Kej.31 : 15).
Lalu Yakub bertindak salah saat memutuskan cara kepergian keluarganya untuk berpisah dari Laban. Ia telah membohongi Laban dengan pergi meninggalkan Laban secara diam-diam tanpa sepengetahuannya, dan tanpa berpamitan untuk berpisah dengannya. Sekali lagi, Yakub melakukan hal yang baik, tetapi dengan cara yang salah. Meskipun seandainya kita harus berpisah dari anggota keluarga lainnya, ataupun dari atasan, karena telah terjadi kekerasan, tetapi kita tetap harus melakukannya dengan cara yang pantas dan tidak mendendam. Sikap menyimpan dendam akan berakibat pada persoalan yang lebih besar. Kadang-kadang sikap tersebut dapat berakibat pada tindak kejahatan, dan kadang pula, pada situasi saat ini, dapat berujung pada masalah/ tuntutan hukum. Memperburuk masalah yang terjadi pada keluarga Yakub, dengan pergi begitu saja tanpa berpamitan, maka Yakub telah mengajari keluarganya untuk berbohong dan bersikap dendam. Karena merasa bahwa ayahnya telah menghabiskan harta yang seharusnya menjadi bagian warisan bagi Lea dan Rahel, lalu Rahel mencuri benda-benda pemujaan berhala yang dianggap berharga dan dipuja-puja oleh ayahnya. Tetapi Yakub tidak tahu tentang hal tersebut, dan ia marah karena dituduh telah mencuri benda benda pemujaan berhala tersebut. Lalu Yakub bersumpah bahwa jika Laban mendapati benda-benda tersebut di antara harta benda bawaannya, maka si pencuri tersebut harus mati. Jika Rahel, istri favorit Yakub, kemudian tidak menyembunyikan terafim tersebut, tentu Rahel terancam mati. Meskipun Rahel merasa berhak juga atas barang-barang tersebut, tetapi ia berbuat salah dengan mencuri barang-barang milik ayahnya tersebut. Mengambil apa yang menjadi hak milik anggota keluarga lainnya, ataupun hak milik atasan kita, dapat membawa akibat serious yang tidak diinginkan.
Ketika Laban mengetahui bahwa Yakub beserta keluarganya, hewan dan ternak peliharaannya telah melarikan diri, maka ia dan anggota keluarga lainnya kemudian mengejar Yakub. Saat kemudian Laban berhasil menjumpai Yakub, tentunya menjadi momen pertemuan yang tidak menyenangkan. Akhirnya, karena perselisihan dan perasaan yang tidak menyenangkan di antara keduanya, kemudian Yakub dan Laban membuat tumpukan batu-batu sebagai lambang suatu garis pemisah di antara keduanya, untuk tidak saling melanggarnya. Ini merupakan perjanjian visual di antara mereka untuk saling menjauh dan tidak melakukan hal-hal yang saling menyakiti/ membahayakan bagi keduanya. Sesudahnya, barulah Laban boleh memberi ciuman perpisahan pada anggota keluarganya dan melepas kepergian mereka dengan damai.
Menjauh dari persoalan dengan anggota keluarganya, Laban, ternyata tidak mengakhiri persoalan yang harus dihadapi Yakub. Lalu sekarang, apa yang harus dilakukannya? Mengikuti bimbingan Tuhan, maka sekarang ia harus kembali kepada keluarga kandungnya sendiri….dan juga kembali bertemu Esau, yang selama ini telah menjadi ancaman bagi dirinya, karena ia telah mencuri hak kesulungan kakaknya tersebut. Allah tidak menghendaki kita melarikan diri dari masalah yang telah kita buat; Ia ingin kita menghadapinya. Yakub pun harus mengakhiri masalah yang telah ia lakukan tersebut. Sama hal nya dengan kebanyakan dari kita yang telah berjuang dan harus mengakhiri semuanya, Yakub pun memohon bantuan kepada Allah. Bagaimanakah bantuan tersebut datang?
Yakub harus bergulat dengan Allah, dan secara fisik, Yakub bergulat sepanjang malam dengan seseorang yang tidak dikenalnya sampai menjelang fajar. Tampaknya Yakub telah bergulat dengan sosok preinkarnasi Yesus Kristus. Kelihatannya pergulatan itu berakhir seri, sampai akhirnya sosok pria tersebut berhasil melumpuhkan Yakub secara super natural. Kemudian, menyadari bahwa ia telah bergulat bukan dengan manusia melainkan dengan Tuhan, lalu Yakubpun memeluk sosok pria tersebut dan memohon berkat dari sosok pria super natural tersebut. Kita tidak dapat bergulat secara fisik dengan Allah, tetapi seringkali ada pergulatan spiritual antara kita dengan Allah, saat kita merasa berada pada titik akhir keberdayaan kita. Saat kita merasa sudah tidak berdaya lagi untuk menyelamatkan diri, lalu kita perlu melekat dengan segala rasa ketidak-berdayaan itu, kepada Allah, dan memintaNya untuk memberkati hidup kita.
Bagaimana cara Allah memberkati Yakub? Allah mengubah namanya. Nama Yakub telah berubah dari arti namanya yang berarti penipu dan penggusur/ pengganti, tetapi oleh sebab kini ia telah melekat kepada Allah dan memohon berkat-berkatNya, namanya kemudian diubah Allah menjadi “Israel”, yang berarti “Allah telah bergumul”. Mungkin nama ini melambangkan saat di mana Yakub telah bertobat dan mempercayakan iman dan hidupnya pada Allah. Maka kini Allah lah yang akan bergumul bagi Yakub dan keluarganya. Apakah Anda merasa telah mencapai akhir perjuangan diri mu? Apakah Anda telah melekatkan diri kepada Allah di dalam ketidak-berdayaan diri mu, dan memohon Nya untuk menyelamatkan hidup Anda? Allah menawarkan pembebasan atas dosa-dosa dan masalah yang kita lakukan, jika kita mau percaya sepenuhnya kepada Allah, dan kemudian Ia akan mengubah nama kita dari seorang pendosa menjadi orang kudus milikNya. Santa atau ‘orang kudus’ adalah nama Alkitabiah untuk seseorang yang mempercayakan dirinya kepada Kristus sebagai juru selamatnya. Dalam bahasa sehari-hari, kita menyebut orang kudus tersebut sebagai “orang Kristen”.
Sekarang Yakub harus menemui Esau. Ia mendatangi Esau dengan rombongan yang terdiri dari 400 orang pria. Apakah akhirnya Esau akan membalas dendam, atau akankah Allah membela Yakub? Yakub telah melakukan hal-hal yang bijak untuk meredakan kebencian yang mungkin masih melekat di hati Esau. Kitab Kej. 32 : 3-5 dan : 13-18 mencatat bahwa Yakub mengirimkan seorang pesuruh di depan rombongan mereka untuk memberitahukan maksud kedatangan Yakub kepada Esau, dan untuk memohon perkenanan dari Esau. Yakub juga telah mempersiapkan keluarganya terhadap kemungkinan penyerangan dari pihak Esau. Yakub memohon pertolongan Allah. Ia pun menyuruh orang untuk menyampaikan pemberian-pemberian bagi Esau. Ia memberi penghormatan kepada saudara sulungnya tersebut, dan menempatkan dirinya sebagai hamba terhadap Esau dan memanggil saudara sulungnya tersebut dengan sebutan “Tuan ku” (Kej.32: 4, 18). Kisah nyata ini memberi petunjuk bagi kita tentang cara menyembuhkan/ menebus kesalahan yang pernah kita lakukan kepada anggota keluarga yang lain. Kita perlu mengambil waktu untuk memohon maaf dan membuktikan bahwa kita sungguh-sungguh menghargai anggota keluarga yang merasa tersinggung atau marah tersebut. Mungkin saja keadaannya tidak berakhir dengan baik seperti yang terjadi pada diri Yakub. Rasa dendam, kebencian dan kepahitan memang sulit diatasi. Namun demikian, waktu adalah penyembuh bagi setiap luka, dan jika kita mempercayai pertolongan Allah bagi diri kita tentang hal tersebut, dan kita pun menunjukkan kesabaran yang tinggi, kasih dan kemauan untuk menanggung setiap beban yang ada, maka hubungan dengan keluarga tersebut dapat dipulihkan kembali.
Untuk Direnungkan dan Dilakukan :
- Rasa dendam dapat berakibat pada persoalan dan kesulitan yang lebih besar. Kadang-kadang ia dapat berakibat pada tindakan kejahatan dan kekerasan, dan kadang pula, pada saat kini, menyebabkan timbulnya perkara hukum;
- Mengambil hak milik anggota keluarga lainnya ataupun milik majikan atau perusahaan tempat kita bekerja, adalah merupakan perbuatan yang salah dan tercela, dan hal tersebut dapat berakibat pada masalah yang lebih besar;
- Allah tidak menghendaki kita untuk melarikan diri dari masalah yang kita lakukan: Ia ingin kita menghadapinya;
- Seringkali terjadi pergumulan rohani di dalam diri kita terhadap Tuhan, saat kita berada pada akhir titik keberdayaan kita. Saat kita merasa bahwa kita tidak berdaya lagi untuk dapat menyelamatkan diri, maka kita perlu melekat kepada Allah didalam ketidak-berdayaan tersebut, dan memohon agar Allah berkenan memberkati kita.
- Allah menawarkan pembebasan atas dosa-dosa dan masalah yang kita lakukan, jika kita mau mempercayakan diri kepadaNya dan memohon keselamatan dari padaNya. Maka Ia akan mengubah nama kita dari seorang pendosa menjadi orang kudusNya.
- Jika kita mau mempercayai Allah untuk menolong hidup kita, dan kita mau sungguh-sungguh bersabar, tetap mengasihi orang lain dan mau menanggung semuanya dengan sabar, maka hubungan kita dengan anggota keluarga lainnya serta orang lain dapat dipulihkan.
Pertanyaan Untuk Diskusi :
- Dalam Kitab Kej. 32 : 22 – 32 diceritakan tentang pergumulan antara Yakub dengan Allah; menurut Anda, apakah maksud kejadian tersebut bagi hidup Yakub? Dalam hal apakah kiranya Yakub telah bergumul dengan Allah dan dalam hal apakah pula ia telah bergumul dengan manusia? (Kej. 32 : 28) (Perhatikanlah tentang kondisi Yakub saat itu dan tentang doa nya saat itu kepada Allah)
Ayat hafalan hari ini :
Mazmur 135 : 14 “Sebab TUHAN akan memberi keadilan kepada umat-Nya, dan akan sayang kepada hamba-hamba-Nya.”
