Bacaan Alkitab : Kej. 25:1-6; 1 Tawarikh 1:32-34; Kej.25:19-26; Kej. 25:7-11; Kej. 26:1-34
(Kurun waktu : diperkirakan 2.149 – 2.139 S.M.)
“Berdamai Dengan Para Tetangga”
download versi word file : RH – Tgl 22 Januari
Bunyi berisik tetangga, sikap yang kurang menghargai properti orang lain, dan bahkan lelucon-lelucon yang kurang menyenangkan, seringkali membuat kita merasa sulit untuk mengasihi para tetangga. Kadang-kadang kesulitan menjadi timbul hanya karena mereka tahu bahwa kita adalah seorang Kristen. Di lain waktu, persoalan timbul karena adanya iri hati. Beberapa keluarga Kristen kadang diberkati secara luar biasa oleh Tuhan. Mungkin mereka bukan orang yang sempurna, tetapi mungkin saja karena baik ayah dan ibu sungguh-sungguh memiliki komitmen yang baik dalam keluarga, dan semua anak mereka telah menjadi orang Kristen yang bersungguh-sungguh rohani nya, dan anak-anak ini menikah secara baik-baik, sehingga sekarang cucu-cucu merekapun adalah orang-orang yang diberkati Tuhan. Mungkin mereka juga adalah orang-orang yang diberkati Tuhan dalam usaha nya. Oleh karena kerajinan, kerja keras, kedisiplinan dan kecerdikan mereka, mereka berhasil mendirikan usaha yang sukses dan menjadi kaya-raya. Mungkin saja saat ini mereka memiliki banyak tanah dan property lainnya. Mereka menikmati berkat-berkat Tuhan yang luar biasa, tetapi kadang-kadang kesuksesan dan berkat tersebut tidak dirasakan oleh tetangga mereka, sehingga mereka menjadi iri hati. Bagaimana orang-orang yang diberkati Tuhan tersebtu (ataupun diri kita) dapat hidup berdamai dengan para tetangga?
Setelah kematian istrinya, Sara, dan meskipun sudah berumur lanjut, Abraham kemudian menikah lagi dan memiliki enam anak lagi beserta cucu-cucu. Allah telah memberkati Abraham seperti yang telah dijanjikanNya (Kej.15 : 4-6; 17 : 1-7). Abraham dan keluarganya hidup dengan damai di tanah yang mereka diami, tetapi keluarganya yang tadinya hanya sedikit, kemudian bertambah-tambah banyaknya dan menjadi suatu suku bangsa yang cukup besar. Pertumbuhan anggota keluarga Abraham yang sedemikian pesatnya ini telah membuat tetangga-tetangga di sekitar mereka menjadi takut bahwa tanah merekapun nantinya dapat dirampas. Kadang-kadang pertumbuhan ataupun berkat yang dialami suatu keluarga dapat dianggap menjadi ancaman yang membuat tetangga sekitarnya menjadi cemas. Misalnya, jika ada suatu kelompok keluarga kaya yang menganut suatu kepercayaan tertentu kemudian pindah menetap di lingkungan yang baru dan mulai membeli banyak rumah di area tempat tinggal kita; akankah kemudian kita menjadi cemas bahwa ada kemungkinan mereka akan mengambil alih sebagian besar lingkungan tempat tinggal kita dan memaksakan kepercayaan mereka kepada kita sebagai kaum minoritas? Adalah hal yang wajar jika kemudian kita berusaha melindungi diri. Sikap ingin melindungi diri sendiri inilah yang kemudian dapat menyebabkan pertikaian dengan para tetangga. Inilah yang terjadi dengan Ishak, anak Abraham yang dipilih Allah untuk mewarisi berkat-berkat Abraham, yang bertikai dengan orang-orang Gerar , suatu kota di barat daya tanah Kanaan (atau tanah orang Filistin), dekat Laut Mediterrania. Bagaimana caranya agar kita dapat hidup berdamai dengan para tetangga?
HIdup berdamai dengan para tetangga dimulai dengan sikap percaya dan hidup benar. Kita harus sungguh-sungguh menjadi orang Kristen yang berintegritas dan percaya kepada Allah yang memelihara hidup kita hari demi hari. Ishak diberkati secara luar biasa, karena adanya kasih karunia Allah dan janji-janji Allah yang telah diberikan kepada Abraham. Jika kita sedang diberkati Tuhan, kita harus tetap rendah hati, bersyukur dan dengan setia tetap melayani Tuhan; Ishak tidak perlu takut kepada tetangga-tetangganya, karena Allah selalu menyertai dan menjaganya.
Namun demikian, Ishak tidak sungguh-sungguh percaya kepada Allah. Sama seperti ayahnya, Ishak meniru sifat Abraham yang licik; Ishak takut bahwa para tetangganya akan membunuhnya, mengambil istrinya yang cantik dan seluruh harta-bendanya. Baik Abraham maupun kini Ishak, mengalami kondisi yang sama; mereka sama-sama mengalami bencana kelaparan di tanah Kanaan, sehingga mereka kemudian pergi mencari tanah yang lebih subur. Allah telah berfirman kepada Ishak untuk tidak pergi ke Mesir. Oleh sebab itu, sama seperti ayahnya, Abraham, Ishak kemudian pergi menetap di Gerar di tanah orang Filistin. Ishak ingin mencari keamanan dan ingin diterima dengan baik di lingkungannya yang baru tersebut, sehingga kemudian ia berkata kepada tetangga-tetangganya bahwa Ribkah, istrinya, adalah saudara perempuannya. Sama seperti Abraham, kemudian kebohongan Ishak ini menimbulkan masalah dengan tetangganya. Berbohong/ tidak jujur adalah cara yang buruk untuk memulai hubungan baik dengan tetangga sekitar, ataupun untuk hubungan apapun. Kebohongan membuat lingkungan Anda menjadi marah dan kemudian mereka tidak akan mempercayai Anda lagi. Jika saja bukan oleh karena kasih kemurahan Allah, Ishak mungkin sudah diusir dari tanah Gerar dan mati di padang gurun.
Bagaimana cara kita menghadapi tetangga yang menentang kita ? Bagaimana sikap Anda, jika ada tetangga yang melanggar batas property milik Anda, ataupun mengklaim bahwa pohon yang rimbun dan indah yang ditebangnya adalah miliknya dan bukan milik Anda? Ataupun, apa yang akan Anda lakukan jika tetangga Anda memarkir kendaraannya di wilayah milik Anda di depan rumah Anda, walaupun tempat parker tersebut memang sesungguhnya milik lingkungan tempat Anda tinggal? Apakah Anda akan bertengkar dengan tetangga? Apakah Anda akan menuntutnya sampai ke pengadilan? Perhatikanlah apa yang terjadi dengan Ishak :
“(26:12) Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN 3 . (26:13) Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya. (26:14) Ia mempunyai kumpulan kambing domba dan lembu sapi serta banyak anak buah, sehingga orang Filistin itu cemburu kepadanya. (26:15) Segala sumur yang digali dalam zaman Abraham, ayahnya, oleh hamba-hamba ayahnya itu, telah ditutup oleh orang Filistin dan ditimbun dengan tanah’ (Kej.26 : 12-15).
Telah tiga kali Ishak berusaha untuk menggali kembali sumur-sumur yang dahulu digali ayahnya, tetapi ditentang oleh orang Filistin. Mereka takut kepadanya, karena anggota keluarganya telah bertambah menjadi sangat banyak, dan mereka melihat bahwa Allah nya Ishak telah memberkati Ishak dengan sangat luar biasa. Mereka ingin menjaga jarak antara kaum mereka dengan suku bangsa yang menjadi sangat besar ini, agar nantinya tidak akan mengambil tanah milik mereka; mereka tidak ingin jika suatu hari nanti, harus berperang dengan Ishak dan kaumnya tersebut.
Kemudian apa yang dilakukan Ishak? Ishak tidak memerangi kaum Filistin. Sebaliknya, ia tetap pergi menggali sumur-sumur baru, di daerah yang tidak ditentang oleh orang Filistin, walaupun lokasinya jauh di selatan tempat sumur-sumur nya yang mula-mula. Apakah kita juga bersikap mengalah saja jika mendapat perlakuan tidak adil? Meskipun tidak selalu hal ini berlaku, tetapi apakah salahnya jika sesekali kita mengalah demi membina hubungan yang baik dengan para tetangga? Meskipun kadang ada tetangga yang bersikap selalu ingin menentang kita, tetapi tidak berarti bahwa kitapun harus membalasnya dengan bersikap yang sama. “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.” (Amsal 15 : 1) JIka masalahnya kemudian menjadi makin besar dan memuncak sampai ke kepala, dapatkah Anda kemudian memilih mengalah dan menawarkan ‘obat penyembuh’nya? Mengapa kita tidak memilih untuk dilukai ataupun diperlakukan dengan tidak adil, daripada harus membuat kesaksian hidup kita sebagai pengikut Kristus menjadi buruk? 2 Timotius 2 : 24 berkata : “….sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar”
Mengambil pelajaran dari kisah hidup Ishak dan masalahnya dengan Abimelekh, kita belajar bahwa : jika kita tidak dapat mendapatkan hal-hal yang kita ingini sebagaimana seharusnya, maka hal terbaik yang perlu dilakukan adalah merelakan sebagian hak kita. Kadang-kadang adalah lebih baik jika kita kemudian pindah ke daerah lain, daripada harus hidup dalam pertengkaran setiap harinya, tetapi cobalah untuk mengasihi tetangga tanpa mengharapkan balasan. Hal pertama yang harus dilakukan: doakanlah tentang masalah tersebut; Allah peduli terhadap Anda dan juga tetangga Anda. Allah menghendaki agar Ishak dapat menetap sementara di Gerar. Mungkin kehadiran Ishak di Gerar dimaksudkan untuk memberi kesaksian tentang Allah kepada para tetangganya, ataupun untuk memelihara hidup Ishak. Berdoalah minta hati yang mampu mengasihi para tetangga. Mintalah kepada Tuhan tentang cara-cara terbaik untuk dapat membimbing mereka kepada Tuhan. Mintalah hikmat surgawi untuk dapat mencari penyelesaian yang damai, dan agar Tuhan memberi Anda tempat tinggal yang damai tanpa harus berpindah-pindah tempat lagi.
Untuk Direnungkan dan Dilakukan :
- JIka kita sedang diberkati Tuhan, kita harus tetap memiliki sikap hidup Kristiani yang benar dan percaya bahwa Allah selalu memelihara hidup kita agar tentram dan damai ;
- Kita perlu selalu bersikap rendah hati dan bersyukur kepada Allah atas kemurahanNya di dalam hidup kita, dan tetap setia melayani Tuhan ;
- Agar dapat hidup berdamai dengan para tetangga, kita perlu memulai hubungan yang dimulai dari sikap percaya dan hidup benar. Berbohong adalah cara yang buruk untuk membangun hubungan dengan tetangga, ataupun hubungan-hubungan lainnya.
- Meskipun tetangga kita kadang bersikap menentang, tidak berarti kitapun harus membalasnya dengan sikap yang sama. “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah” (Amsal 15 : 1)
- Kadang-kadang adalah lebih baik untuk berpindah tempat tinggal, daripada harus hidup dalam pertentangan dengan tetangga, tetapi usahakanlah untuk mengasihi mereka dengan tanpa mengharapkan balasan. Mungkin dengan cara demikian, Anda telah memberi kesaksian positif tentang Allah, bagi tetangga Anda.
Pertanyaan Untuk Diskusi :
- Sikap Ishak untuk memilih mengalah kepada orang Gerar daripada harus bertengkar, kemudian membuahkan hasil. Dalam Kej. 26 : 22, sumur baru yang digalinya, yang tidak menimbulkan pertengkaran dengan tetangganya, dinamainya Rehobot, “Tuhan telah memberi kelonggaran kepada ku”, atau suatu sikap yang bersyukur yang selalu melihat berkat Allah dan kondisi yang dihadapi dengan prinsip “cukup/ berlimpah” (abundance principles), sebagai lawan dari sikap hidup yang selalu merasa “kekurangan” (scarcity principles). Bagaimana dengan sikap hidup Anda saat ini ketika dihadapkan pada tantangan untuk mengalah dan menerima ‘bagian yang kurang dari semestinya’ yang harusnya dapat Anda terima; apakah Anda lebih condong merasa “kurang” dan terus menggerutu, ataukah sebaliknya, Anda mampu menerima ‘bagian yang kurang’ tersebut dengan prinsip “cukup/ berlimpah”? Jelaskanlah.
Ayat hafalan hari ini :
2 Timotius 2 : 24 : “…sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar”

Trima kasih. RHnya, selamat berbakti! Amin