Bacaan Alkitab : Ayub 15 – 18
(Kurun waktu : diperkirakan 2.324 – 2.224 S.M.)
“Berikanlah Dorongan, Jangan Patahkan Semangat”
download versi word file : renungan-harian-tgl-9-januari
Ketika kita berada di dalam kesulitan besar atau saat mengalami penderitaan yang berat, biasanya kita tidak ingin ada orang yang mendatangi, menghibur kita dengan seolah-olah mereka memiliki semua jawaban atas masalah kita, atau malahan menyalahkan dan mengkritik kita. Yang kita kehendaki adalah agar beban kita terangkat. Kita ingin dikuatkan. Kita ingin tahu apa manfaat segala tuduhan yang diarahkan ke diri kita. Jika kita telah melakukan suatu kesalahan, kita sendirilah yang paling mengerti tentang kesalahan tersebut. Kita tidak perlu orang lain menunjukkan kesalahan tersebut kepada kita dengan tudingannya. Staff paramedis dan para dokter tidak menghendaki adanya seseorang yang datang dan mengganggu kesehatan pasien mereka dengan cara-cara yang malahan menyebabkan tekanan emosional bagi pasien tersebut. Meskipun demikian, tanpa kehadiran staff paramedis tersebut, kita pun mengerti bahwa kita seharusnya menjadi seorang penolong, dan bukannya menjadi penghambat bagi kesembuhan dan pemulihan kondisi mental orang lain.
Ayub adalah salah satu pendahulu pejuang iman yang hidup sekitar masa hidup Abraham. Allah bangga akan kesalehan Ayub. Kemudian untuk mempermalukan Allah, Iblis minta ijin untuk mencobai Ayub sehingga ia kemudian akan mengutuki Allah. Allah mengijinkan hal tersebut. Lalu tiba-tiba hanya dalam waktu sehari Ayub kehilangan seluruh anggota keluarganya (terkecuali istrinya), usahanya, harta-benda nya dan bahkan rasa hormat orang lain terhadapnya. Dan akhirnya, hanya dalam waktu singkat sesudahnya, kemudian Ayub juga kehilangan kesehatannya, menderita suatu barah/bisul yang parah dan membuatnya sangat menderita. Teman-teman Ayub kemudian mengunjunginya dengan maksud yang baik: memberi dorongan bagi sahabatnya tersebut. Ayub menyambut baik kedatangan mereka, namun kemudian ia menjadi kecewa ketika sahabat-sahabatnya itu berubah jadi kritikus yang sangat buruk. Kemudian karena melihat Ayub meratapi kondisinya tersebut kepada Allah dan memohon kepadaNya untuk mengakhiri penderitaan tersebut, sahabat-sahabatnya kemudian mencoba membela Allah dan menyalahkan Ayub. Semua “penasihat nya” berkata bahwa segala bencana tersebut terjadi karena dosa-dosa yang dilakukannya. Mereka menyalahkan Ayub karena telah bersikap angkuh, membohongi diri sendiri dan bahkan menuduhnya telah melakukan hal yang jahat di mata Tuhan.
Sama seperti teman-temannya yang lain, Elifas orang Teman, juga berkata bahwa semua ucapan indah yang dilontarkan Ayub hanyalah omong kosong. Ia berkata : “15:4 Lagipula engkau melenyapkan rasa takut dan mengurangi rasa hormat kepada Allah. 15:5 Kesalahanmulah yang mengajar mulutmu, dan bahasa orang licik yang kaupilih. (Ayub 15 : 4-5).
Elifas merasa tersinggung karena Ayub menolak mendengar “hikmat” yang mereka sampaikan. Meskipun Ayub adalah sahabat yang paling ‘dituakan’, namun mereka menganggap bahwa diri mereka juga berhikmat. Sahabat-sahabat Ayub berulang-ulang mengatakan bahwa Ayub telah melakukan kejahatan, dan hal itulah yang menyebabkan Allah meninggalkannya. Lagipula, menurut mereka, bukankah memang seperti itulah cara Allah bertindak? Elifas dan Bildad sama-sama mengeroyok Ayub dan bahkan menuduh Ayub sebagai seorang yang tidak percaya dan tidak kenal Tuhan serta jahat.
Mereka berkata : “(15:34) Karena kawanan orang-orang fasik tidak berhasil, dan api memakan habis kemah-kemah orang yang makan suap. (15:35) Mereka menghamilkan bencana dan melahirkan kejahatan, dan tipu daya dikandung hati mereka.” (Ayub 15 : 34-35).
(18:20) Atas hari ajalnya orang-orang di Barat akan tercengang, dan orang-orang di Timur akan dihinggapi ketakutan.(18:21) Sungguh, demikianlah tempat kediaman orang yang curang, begitulah tempat tinggal orang yang tidak mengenal Allah.” (Ayub 18 : 20-21).
Bagaimanakah seharusnya reaksi yang tepat atas penderitaan? Ayub 16 : 1-5 memberikan jawaban bagi kita : (16:1) Tetapi Ayub menjawab: (16:2) “Hal seperti itu telah acap kali kudengar. Penghibur sialan kamu semua! (16:3) Belum habiskah omong kosong itu? Apa yang merangsang engkau untuk menyanggah? (16:4) Akupun dapat berbicara seperti kamu, sekiranya kamu pada tempatku; aku akan menggubah kata-kata indah terhadap kamu, dan menggeleng-gelengkan kepala atas kamu. (16:5) Aku akan menguatkan hatimu dengan mulut, dan tidak menahan bibirku mengatakan belas kasihan.
Apakah kita memberikan kelegaan bagi orang yang sedang menderita, atau malahan menambah beban dan tekanan mental bagi mereka?
Reaksi Ayub terhadap penderitaan pribadi yang dialaminya adalah tidak menolak penderitaan tersebut, melainkan tetap mempertahankan sikap hidup yang benar dan tetap berpengharapan. Ayub berkata di dalam Pasal 16 : 15-17 : “(16:15) Kain kabung telah kujahit pada kulitku, dan tandukku kumasukkan ke dalam debu; (16:16) mukaku merah karena menangis, dan bulu mataku ditudungi kelam pekat, (16:17) sungguhpun tidak ada kelaliman pada tanganku, dan doaku bersih.”
Secara intuitif, sebenarnya Ayub telah menyadari bahwa ia memiliki seorang perantara di surga yang akan membela perkara nya di hadapan Allah, meskipun pada saat itu Yesus Kristus, Anak Allah, belum menyatakan diri ke dunia. Ayub 16 : 19-21 menyatakan pengharapannya tersebut : “(16:19) Ketahuilah, sekarangpun juga, Saksiku ada di sorga, Yang memberi kesaksian bagiku ada di tempat yang tinggi. (16:20) Sekalipun aku dicemoohkan oleh sahabat-sahabatku, namun ke arah Allah mataku menengadah sambil menangis, (16:21) supaya Ia memutuskan perkara antara manusia dengan Allah, dan antara manusia dengan sesamanya.”
Saat ini kita tahu bahwa Yesus Kristus adalah Perantara kita di hadapan Allah. Ibrani 7 :25-26 berkata : “(7:25) Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka. (7:26) Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga.”
Ayub tidak tahu apakah Allah akan membebaskannya dari penderitaan tersebut, dan ia beranggapan bahwa Allah akan membiarkannya dalam keadaan tersebut. Tetapi Ayub memberi teladan bagi kita tentang sikap yang baik saat mengalami penderitaan. Ayub 17 : 7 – 9 berkata : “(17:7) Mataku menjadi kabur karena pedih hati, segala anggota tubuhku seperti bayang-bayang. (17:8) Orang-orang yang jujur tercengang karena hal itu, dan orang yang tidak bersalah naik pitam terhadap orang fasik. (17:9) Meskipun begitu orang yang benar tetap pada jalannya, dan orang yang bersih tangannya bertambah-tambah kuat.”
Sesungguhnya tekad Ayub tersebut lebih kuat dibanding sahabat-sahabatnya, karena kemudian ia meminta sahabat-sahabatnya tersebut untuk menantangnya dengan sikap yang menurut mereka sangat bijaksana tersebut (Ayub 17 : 10).
Untuk Direnungkan dan Dilakukan :
- Jadilah seorang penolong, dan jangan jadi penghambat bagi kesembuhan dan pemulihan kondisi
- Pakailah ucapan Anda untuk memberi dorongan bagi orang yang sedang menderita atau berada dalam masalah. Kiranya penghiburan melalui ucapan Anda akan memberikan kesejukan bagi orang yang sedang menderita tersebut, dan bukannya membuat ia makin tertekan.
- Saat Anda sedang mengalami penderitaan, janganlah menolaknya, tetapi tetaplah hidup dalam kebenaran dan menaruh harap kepada Allah.
- Yesus Kristus adalah Perantara bagi kita. Dia mengerti segala penderitaan dan rasa sakit yang sedang kita alami. Kadang-kadang orang lain mengecewakan kita. Pandanglah pada Allah untuk mendapatkan kekuatan dan pertolongan pada saat kita membutuhkannya.
Pertanyaan Untuk Diskusi :
- Ceritakanlah tentang tantangan dan perjuangan yang harus Anda lakukan untuk mempertahankan sikap hidup yang saleh dan benar, serta tetap berharap kepada Tuhan, ketika Anda sedang mengalami penderitaan atau masalah yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup Anda, baik karena kesalahan yang telah Anda buat sendiri, ataupun karena kesalahan orang lain. Apakah Anda kemudian berhasil mengatasi penderitaan/ masalah tersebut? Pelajaran rohani apakah yang Anda peroleh dari penderitaan / masalah tersebut?
Ayat Hafalan Hari Ini :
- Ayub 16 : 19 – 21 “(16:19) Ketahuilah, sekarangpun juga, Saksiku ada di sorga, Yang memberi kesaksian bagiku ada di tempat yang tinggi. (16:20) Sekalipun aku dicemoohkan oleh sahabat-sahabatku, namun ke arah Allah mataku menengadah sambil menangis,(16:21) supaya Ia memutuskan perkara antara manusia dengan Allah, dan antara manusia dengan sesamanya.”

Terima kasih renungannya..maaf hanya ingin mengingatkan ..agar hard copy bisa dicetak sehingga yg tdk punya face book atau tdk menggunakan medsos bisa ikut menikmati …renungan harian ini..tadi saya coba cari di pintu keluar tdk ada……Maaf..Tuhan Yesus memberkati
Selamat malam dan terimakasih banyak untuk informasinya ytk Bpk Inugroho. Mohon maaf, hardcopy nya sudah tersedia tetapi rupanya tidak ditaruh di tempat display bulletin gereja dll, jadi masih ada di kotak di sudut ruang operator multi-media. Kami mohon maaf atas hal tersebut dan akan lebih berkoordinasi lagi tentang hal ini dan pada Jam Doa Rabu nanti akan kami siapkan di tempat display yang semestinya. Terimakasih banyak & Tuhan Yesus memberkati.
Puji Tuhan.
Renungan yg sangat luar biasa memberkati.
Apapun masalah kita, dalam Tuhan Yesus tidak masalah..
JBU
Terimakasih banyak atas komentarnya, ytk Bpk. Siswohadi, harapan kami, dari kerjasama Panitia Doa, Panitia Publikasi dan Panitia Perpustakaan GBIK, Renungan Harian ini dapat selalu menjadi teman penuntun Saat Teduh setiap hari bersama keluarga terkasih, untuk makin dan makin kenal, dekat dan mengasihi Tuhan. Amin & Gbu All.
Saya suka bacanya sejak terbitan awal, isinya memberikan pengertian yang dalam dan cocok jadi materi kotbah bahkan kalau bisa dibuat buku nya dan bisa jadi renungan harian keluarga atau di kpw kpw. Tks and GBU