Bacaan Alkitab : Ayub 29 – 31
(Kurun waktu : diperkirakan 2.324 – 2.224 S.M.)
“Bukti Nyata Hidup Orang Benar”
download word version : rh-tgl-13-januari-2
Seseorang pernah bertanya : “Jika Anda dituntut ke pengadilan sebagai seorang Kristen, apakah akan ada bukti yang cukup untuk mendakwa Anda? Apakah bukti nyata hidup orang yang benar? Apakah kita cukup berkata : “Saya bukan peminum dan pemabuk, saya tidak memiliki gaya hidup yang merusak diri ataupun orang lain, dan saya tidak bergaul dengan orang-orang semacam itu”? Apakah benar bahwa seorang Kristen adalah orang yang pergi ke gereja secara teratur? Apakah seseorang dapat dinilai memiliki hidup benar jika ia datang ke kantor nya tepat waktu, dan mengerjakan tugas-tugasnya dengan jujur dan baik? Apakah seseorang dapat disebut orang yang takut akan Allah, jika ia mengasihi keluarganya? Apakah seseorang dapat disebut orang benar jika ia dengan jujur dan berani, mengatakan hal-hal yang benar? Meskipun hal-hal tersebut dapat menjadi indikasi kehidupan orang yang benar, tetapi melalui contoh kehidupan Ayub pada pelajaran hari ini, kita dapat lebih tertantang lagi untuk menjadi seorang Kristen yang lebih bersungguh-sungguh.
Ayub hidup tidak jauh sebelum masa hidup Abraham, sebagi bapa kaum beriman. Ayub pernah memiliki hidup yang sangat diberkati Allah dan dihormati oleh sesamanya. Dalam gaya bahasa yang puitis, Ayub menggambarkan masa tersebut sebagai “(29:5) ketika Yang Mahakuasa masih beserta aku, dan anak-anakku ada di sekelilingku; (29:6) ketika langkah-langkahku bermandikan dadih, dan gunung batu mengalirkan sungai minyak di dekatku..” (Ayub 29 : 5-6). Apakah rahasia dibalik segala berkat yang diberikan kepada Ayub tersebut? Rahasianya adalah kesalehan yang sejati. Kesalehan dan kedamaian yang sejati dapat ditemukan melalui hubungan pribadi yang benar, kedekatan yang benar dengan Allah.
Bagaimanakah Ayub menyatakan contoh hidup yang benar tersebut? Dalam Ayub 29 : 11 – 17 Ayub berkata : “(29:11) apabila telinga mendengar tentang aku, maka aku disebut berbahagia; dan apabila mata melihat, maka aku dipuji. (29:12) Karena aku menyelamatkan orang sengsara yang berteriak minta tolong, juga anak piatu yang tidak ada penolongnya; (29:13) aku mendapat ucapan berkat dari orang yang nyaris binasa, dan hati seorang janda kubuat bersukaria; (29:14) aku berpakaian kebenaran dan keadilan menutupi aku seperti jubah dan serban; (29:15) aku menjadi mata bagi orang buta, dan kaki bagi orang lumpuh; (29:16) aku menjadi bapa bagi orang miskin, dan perkara orang yang tidak kukenal, kuselidiki. (29:17) Geraham orang curang kuremuk, dan merebut mangsanya dari giginya.”
Saat Ayub kehilangan kesehatan, kekayaan, dan anggota keluarganya, kemudian ia dihina , bahkan oleh orang-orang yang kedudukannya rendah sekalipun, bersama anak-anak mereka, dan sahabat-sahabatnya sendiri pun menuduhnya telah melakukan kejahatan di mata Tuhan.
Ayub pun menderita penyakit kulit yang membuatnya tersiksa. Dan Ayub merasa bahwa Allah telah menindas dan menganiaya dirinya.
“(30:20) Aku berseru minta tolong kepada-Mu, tetapi Engkau tidak menjawab ; aku berdiri menanti, tetapi Engkau tidak menghiraukan aku. (30:21) Engkau menjadi kejam terhadap aku, Engkau memusuhi aku dengan kekuatan tangan-Mu. ( 30:22) Engkau mengangkat aku ke atas angin, melayangkan aku dan menghancurkan aku di dalam angin ribut. (30:23) Ya, aku tahu: Engkau membawa aku kepada maut, ke tempat segala yang hidup dihimpunkan.” (Ayub 30 : 20-23).
</Kemudian Ayub mencoba membela perkaranya dengan mencari keadilan dan belas kasihan dari Allah sumber segala keadilan dan kasih karunia. Ayub melanjutkan perkataannya : “(30:24)….masakan orang tidak akan mengulurkan tangannya kepada yang rebah, jikalau ia dalam kecelakaannya tidak ada penolongnya? (30:25) Bukankah aku menangis karena orang yang mengalami hari kesukaran? Bukankah susah hatiku karena orang miskin? 30:26 Tetapi, ketika aku mengharapkan yang baik, maka kejahatanlah yang datang; ketika aku menantikan terang, maka kegelapanlah yang datang.” (Ayub 30 : 24-26).
“(30:27) Batinku bergelora dan tak kunjung diam, hari-hari kesengsaraan telah melanda diriku. ( 30:28) Dengan sedih, dengan tidak terhibur, aku berkeliaran; aku berdiri di tengah-tengah jemaah sambil berteriak minta tolong. ( 30:29) Aku telah menjadi saudara bagi serigala, dan kawan bagi burung unta. (30:30) Kulitku menjadi hitam dan mengelupas dari tubuhku, tulang-tulangku mengering karena demam; ( 30:31) permainan kecapiku menjadi ratapan, dan tiupan serulingku menyerupai suara orang menangis.” (Ayub 30 : 27-31).
Ayub melanjutkan pembelaan perkara nya di hadapan Allah :
“(31:1) Aku telah menetapkan syarat bagi mataku , masakan aku memperhatikan anak dara ? (31:2) Karena bagian apakah yang ditentukan Allah dari atas, milik pusaka apakah yang ditetapkan Yang Mahakuasa dari tempat yang tinggi? (31:3) Bukankah kebinasaan bagi orang yang curang dan kemalangan bagi yang melakukan kejahatan? (31:4) Bukankah Allah yang mengamat-amati jalanku dan menghitung segala langkahku? (Ayub 31 : 1-4).
Dengan kata lain, Ayub sadar bahwa yang terbaik untuk dilakukan adalah menjalani hidup yang takut akan Allah, dan tidak melakukan hal-hal yang jahat di mata Tuhan. Orang yang hidupnya benar biasanya akan menerima berkat dari Tuhan, sedangkan orang yang melakukan kejahatan akan selalu mendapat hukuman setimpal. Suatu hari kelak, semuanya akan dimintai pertanggung-jawaban dari Allah tentang segala perbuatan mereka.
Bagian selanjutnya dari Ayub 31 kemudian meringkaskan pembelaan Ayub secara gamblang : “jika aku telah menipu orang lain, melakukan dosa seksual, memperlakukan pegawaiku dengan buruk, tidak mau berbagi dengan fakir miskin, kaum janda dan orang yang terlantar serta yatim piatu, maka mungkin layaklah aku mendapat hukuman. Atau jika aku lebih mengandalkan kekayaanku daripada bersandar kepada Tuhan, atau bersukacita atas kemalangan orang lain, ataupun tidak merawat keluargaku dengan baik, pantaslah jika aku menerima murka Allah. Jika aku telah menyembunyikan dosa-dosaku, atau pun telah mengambil lahan milik orang lain dan memperlakuk”an orang yang mengusahakan lahan tersebut dengan buruk, maka aku dapat mengerti jika kemudian Allah murka kepadaku. Tetapi aku sungguh-sungguh tidak melakukan semua kejahatan tersebut.” Maka Ayub pun mencoba membela perkara nya untuk mendapat keadilan Tuhan.
“(31:35) Ah, sekiranya ada yang mendengarkan aku! –Inilah tanda tanganku! Hendaklah Yang Mahakuasa menjawab aku! –Sekiranya ada surat tuduhan yang ditulis lawanku! (31:36) Sungguh, surat itu akan kupikul, dan akan kupakai bagaikan mahkota. ( 31:37) Setiap langkahku akan kuberitahukan kepada-Nya, selaku pemuka aku akan menghadap Dia.” (Ayub 31 : 35-37)
Meskipun perkataan-perkataan Ayub tersebut terkesan angkuh dan membenarkan diri, namun kita dapat melihat dengan jelas segala kesalehannya. Oleh karena kesalehannya tersebut, maka Ayub percaya bahwa ia layak untuk membela perkaranya di hadapan Allah. Sering dalam hidup seseorang, Allah tidak selalu memberi jawaban atas segala kesulitan hidup dan penderitaan yang harus dialami oleh orang benar. Allah memiliki maksud yang lebih tinggi yang tak terpikirkan oleh Ayub. Penderitaan berat yang dialaminya dan cemoohan serta teguran sahabat-sahabatnya, telah membuat Ayub merasa harus membela diri nya dan bahkan menyalahkan Allah atas musibah yang menimpa nya tersebut. Apakah kita juga akan melakukannya jika berada di posisi Ayub? Belajar dari pelajaran hari ini, adalah baik jika kita berdiam diri dan tetap percaya kepada Allah, meskipun memang sangat sulit melakukannya saat kita mengalami sakit yang parah, kehilangan harta benda, dan terus menerus diejek dan diserang oleh “para sahabat” dan juga lawan kita, sama seperti yang dialami Ayub.
Namun demikian, saat kita mempelajari kehidupan Ayub yang dibanggakannya, akan dapatkah kita belajar tentang bukti nyata kehidupan orang yang benar?
Untuk Direnungkan dan Dilakukan :
- Kesalehan dan kedamaian yang sejati hanya bisa didapatkan melalui hubungan pribadi yang dekat dengan Allah;
- Bukti nyata kehidupan orang benar adalah adanya contoh praktis hidup kudus dalam hidup sehari-hari, yaitu praktik hidup yang menyenangkan hati Allah dan merengkuh/menjangkau orang lain melalui sikap yang simpatik, murah hati dan suka menolong. Dalam banyak hal, Ayub telah mempraktekkan sikap hidup seperti Yesus dalam hal menunjukkan belas kasihan kepada orang lain, dan menjalani hidup yang berkenan kepada Allah. Kita pun wajib hidup sama seperti Yesus yang selalu hidup benar dan mengasihi serta mempedulikan sesama.
- Rasa sakit dan penderitaan seringkali menyebabkan kita mulai menyalahkan Allah, namun di dalam semuanya itu, Allah memiliki rencana indah yang mulia dalam hidup kita, yang tidak kita sadari (Roma 8 : 28)
Pertanyaan Untuk Diskusi :
- Ayub Pasal 29 dan 30 tidak hanya menggambarkan perbandingan kontras antara kemuliaan dan kebahagian yang dirasakan Ayub dalam masa hidupnya yang terdahulu, lalu kemudian berubah 180 derajat menjadi kesengsaraan yang dahsyat, dan terlebih lagi, kehilangan segala rasa hormat dan penghargaan dari orang lain dan bahkan menghadapi tuduhan dan teguran dari sahabat-sahabatnya. Mari berdoa bahwa keadaan yang sangat terpuruk tersebut tidak akan pernah terjadi kepada diri kita, namun apabila Tuhan mengijinkannya terjadi, bagaimanakah sikap kita? Bagaimanakah reaksi kita kepada Allah?
- Dalam Ayub Pasal 31, kita melihat pola pikir Ayub masih didasarkan pada hukum “mata ganti mata dan gigi ganti gigi”, atau hukum berdasarkan Perjanjian Lama, tetapi ketika Yesus datang ke dunia ini, Ia mengajarkan tentang hukum yang lebih tinggi lagi, yaitu Hukum Kasih (Mat. 5 : 38 -44). Jika Anda harus mengalami penderitaan yang berat dan perlakuan buruk yang disebabkan oleh perbuatan orang lain, maukah kita mengampuni orang tersebut dan berusaha memperlakukannya dengan kasih?
Ayat Hafalan Hari Ini :
- Zakaria 7 : 9 “”Beginilah firman TUHAN semesta alam: Laksanakanlah hukum yang benar dan tunjukkanlah kesetiaan dan kasih sayang kepada masing-masing! “
