“Katanya: Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.”
(Ayub 1:21-22)
Malam pergantian tahun ‘2019 kita semua warga DKI Jakarta dan sekitarnya dikejutkan dengan peristiwa banjir yang dahsyat sehingga malam tahun baru yang biasanya penuh dengan gegap gempita disepanjang gang, kampung, bahkan pusat-pusat keramaian kota Jakarta seakan sepi tanpa penghuni. Dampak dari banjir itu pula sebagian besar umat Kristiani tidak bisa melakukan ibadah akhir tahun 2019 dan awal tahun 2020 di Gereja. Dan tragisnya lagi, banjir itu terjadi berkali-kali dalam bulan Januari 2020. Seakan air mata warga Jakarta dan sekitarnya belum kering, kini dunia bahkan Indonesia dan khususnya Jakarta juga harus menghadapi persoalan yang lebih mengerikan lagi, yaitu munculnya dan mewabahnya Covid-19 yang seakan mengamuk terhadap kehidupan manusia di muka bumi ini sehingga kita semua bisa mengalami keterpurukan hidup oleh karena rencana kita tidak berjalan dengan lancar, ekonomi dunia bahkan Indonesia menjadi sangat memprihatinkan, selain itu kitapun menjadi bingung apa yang harus kita lakukan dengan mewabahnya Covid-19 yang belum ada penawarnya ini ditambah lagi dengan persoalan-persoalan pribadi dan keluarga lainnya.
Lalu apakah dengan peristiwa ini kita akan tetap menyembah dan memuliakan Tuhan, atau malah sebaliknya kita menyalahkan Tuhan? Hari ini kita akan belajar dari seorang Ayub tokoh Kitab Perjanjian Lama, dimana ia tidak menyalahkan siapa-siapa, tidak menyalahkan keadaan walaupun istrinya telah menghasutnya untuk menyalahkan Tuhan, ia tetap hormat dan memuliakan Allah dalam segala hal meskipun hidupnya dilanda berbagai penderitaan dan kesulitan sesuai yang tertulis dalam Ayub 1:21-22 “Katanya: Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut. Sungguh ini suatu perkataan yang mulia dari hati dan mulut Ayub yang patut kita teladani bersama sehingga dengan adanya persoalan dalam hidup kita ini termasuk dalam menghadapi covid-19 ini kitapun menyadari pula bahwa di setiap momen kehidupan kita, yang baik dan yang buruk selalu menyadarkan kita untuk mengasihi Allah yang berdaulat dalam hidup kita sehingga apapun yang terjadi di dunia ini kita tetap memuliakan Allah dengan mengucap syukur kepada-Nya bukan atas masalah kita, tetapi dengan mengucap syukur kepada-Nya di tengah masalah kita. Dan tentunya untuk kita mampu mengucap syukur dalam segala hal, tetap setia dan tetap beriman kepada-Nya kita harus memiliki keyakinan yang sama seperti Ayub bahwa Allah kita itu baik dan pengasih (Ayb. 10:12), mahakuasa (Ayb. 36:22; 37:5, 23); tahu setiap detail hidup kita (Ayb. 23:10; 31:4); punya rencana yang indah untuk hidup kita (Ayb. 23:14); dan Dia adalah Allah yang senantiasa melindungi kita (Ayb. 5:11).
Ingat, apapun yang terjadi dalam hidup kita hari ini bahkan dikemudian hari, janganlah saling berbantah-bantahan dan menyalahkan sesama kita terlebih menyalahkan Tuhan tetapi pilihlah untuk memuliakan Allah dengan iman dan teruslah berdoa bagi persoalan yang ada. Tuhan Yesus memberkati.
(AP2432020)
