KESUBURAN DAUN HALANGI MUNCULNYA BUAH SEGAR
(1 RAJA-RAJA 11:1-8)
Dalam ilmu dan tehnik bercocok tanam serta budi daya tanaman buah, untuk menghasilkan tanaman buah yang dapat berbuah lebat, segar, dan enak rasanya, seorang petani akan melakukan berbagai upaya dan metode yang benar dalam masa perawatannya, apalagi setiap tanaman buah pasti memiliki perbedaan dalam masa berbuah. Cara yang paling umum dan sederhana agar tanaman buah dapat berbuah segar dan enak rasanya antara lain memberikan pupuk pada tanaman, memberikan nutrisi atau hormon perangsang buah, dan lain sebagainya, bahkan juga harus dilakukan adanya pemangkasan tanaman atau daun yang terlalu subur.
Demikian juga dalam kehidupan setiap orang percaya, dimana ia harus mengalami pertumbuhan dan menghasilkan buah yang nyata. Bahkan jikalau umat Tuhan tidak berbuah, maka ia harus dipotong dan dibersihkan-Nya (Yoh. 15:1-5). Dan satu hal yang harus dimengerti kita sebagai murid Kristus adalah benar-benar menyadari bahwa tiap langkah hidup kita diatur oleh Tuhan dan tangan kasih-Nya menuntun kita. Ia tidak membiarkan kita. Ia menyertai kita dengan kasih dan rahmat-Nya. Tetapi ada bagian yang Allah kerjakan dan ada juga bagian yang harus kita kerjakan sehingga setiap kita orang percaya dapat mengalami pertumbuhan iman secara baik bahkan dapat menghasilkan buah yang segar dan enak rasanya. Kita harus hidup begitu rupa bukan seperti orang bebal tetapi orang arif. Jika kita hidup arif, maka Tuhan mendapat kesempatan untuk menuntun kita, memberkati kita, membawa kita ke tingkat hidup rohani yang lebih tinggi dan pada akhirnya kita dapat memunculkan buah yang segar dan enak rasanya asalkan jangan biarkan kesuburuan daun ada dalam diri kita, dan relakan Tuhan memangkasnya.
Bagaimana caranya kita dapat barbuah segar atau dengan kata lain tidak membiarkan kesuburan daun menghalangi munculnya buah segar? Mari perhatikan dan belajar dari kisah raja Salomo yang tertulis di dalam 1 Raja-raja 11:1-8!
- Kita harus pergunakan setiap kesempatan yang Allah sediakan
Raja Salomo tidak mampu menggunakan kesempatan yang Allah berikan dengan baik ketika ia diurapi Allah melalui hamba-Nya, yaitu imam Zadox dan nabi Natan (1 Raj. 1:45) menjadi raja Israel melanjutkan ayahnya, Daud. Seharusnya ia membawa bangsa Israel penuh dengan kebajikan dan menyembah Allah, tetapi Salomo jatuh dalam dosa dan justru ia mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain (1 Raj. 11:4-10). Ia membiarkan dedaunan tumbuh subur dalam dirinya sehingga ia tidak mampu memunculkan buah yang segar. Mari pergunakan kesempatan yang ada karena kesempatan tidak selalu ada (Efs. 5:16).
- Kita harus berserah pada Tuhan dan mencari kehendak-Nya
Kehidupan Salomo setelah diurapi menjadi raja Israel dan selama menjadi raja Isarel sangatlah jauh berbeda. Ketika awal ia menjadi raja Israel hidupnya penuh dengan penyerahan diri dan mencari kehendak Tuhan. Ia hidup menurut ketetapan-ketetapan Daud, ayahnya; Ketika di Gibeon mempersembahkan korban, Tuhan menampakkan diri kepadanya dalam mimpi untuk meminta apa saja dari Tuhan dan ia tidak meminta apapun kecuali hikmat dari Tuhan (1 Raj. 3:2-15). Tetapi setelah berjalannya waktu menjadi raja Israel, ia telah dipenuhi nafsu dunia dan mencari kesenangan diri meskpiun itu larangan Tuhan (1 Raj. 11: 33); ia mencintai perempuan asing, menikahi perempuan asing, dan hidup penuh nafsu kedagingan (1 Raj. 11:1-3). Salomo membiarkan benalu kehidupan menggerogoti kehidupannya sehingga ia tidak memunculkan buah segar dan enak rasanya.
Jadi Saudara, kita sebagai murid Tuhan hendaknya belajar dari pengalaman raja Salomo dan kita senantiasa menunjukkan buah nyata dalam setiap kehidupan kita. Dan mari intropeksi diri kita masing-masing, jikalau buah yang kita harapkan tidak muncul, jangan-jangan kita dipenuhi benalu atau dedaunan yang bertumbuh subur. Segeralah pangkas dan buang jauh-jauh dan gunakan kesempatan kita untuk berbuah ini dengan berserah pada Tuhan serta mencari kehendak-Nya. Selamat beribadah, Tuhan Yesus memberkati. Amin.
