Bacaan Alkitab : I Samuel 21 : 1 – 15; Mazmur 34; Mazmur 56, Mazmur 133; 1 Samuel 22 : 1-5; I Tawarikh 12 : 8-18
(Kurun waktu : diperkirakan 1.350 – 1.050 S.M.)
”Jalan Keluar dan Pembebasan”
download versi word file: Renungan Harian Tgl 17 April 2017
Situasi-situasi semacam apakah yang membuat orang biasanya ingin melarikan diri dan membebaskan dirinya dari keadaan tersebut? Mungkin saja mereka hendak lari dari keadaan yang membuat diri mereka menjadi dipermalukan, ataupun kondisi tekanan ataupun cobaan yang berat, atau juga mungkin, seperti yang terjadi pada tokoh Alkitab yang bernama Daud, hendak melarikan diri dari kondisi yang mengancam keselamatan jiwanya. Kapankah waktu terbaik untuk mengambil jalan keluar dan membebaskan diri?
Dalam Renungan Harian yang lalu, kita belajar bahwa kecemburuan Raja Saul terhadap Daud telah berkembang menjadi ancaman atas keselamatan jiwa Daud. Ini terjadi karena Saul cemburu atas keberhasilan Daud.
“(19:11) Kemudian Saul mengirim orang-orang suruhan ke rumah Daud untuk mengamat-amatinya dan untuk membunuh dia pada waktu pagi. Tetapi Mikhal, isteri Daud, memberitahukan kepadanya, demikian: “Jika engkau tidak dapat meluputkan dirimu malam ini, maka besok engkau akan dibunuh.” (19:12) Lalu Mikhal menurunkan Daud dari jendela, ia pergi melarikan diri dan luputlah ia.” (I Samuel 19 : 11-12).
Seorang pengamat Alkitab mungkin juga akan berpendapat: “jika Allah ada dipihak kita, mengapa harus melarikan diri?”. Mungkin Daud pun pernah berpendapat serupa. Namun demikian, seringkali Allah juga menggunakan seorang laki-laki atau perempuan untuk memberikan saran yang baik ataupun sebuah bantuan, dan orang-orang yang bijak akan mau mendengarkan dan mematuhinya.
Meskipun demikian, pelarian yang dilakukan Daud merupakan titik rendah di dalam hidupnya. Daud adalah seorang pahlawan yang telha mengalahkan Goliat, seorang tentara Filistin yang bertubuh sangat besar seperti raksasa, dan ia telah melecehkan tentara Israel dan Allahnya orang Israel. Setelah kemenangan tersebut, Daud juga telah melakukan perang yang hebat dan selalu mengalami keberhasilan yang gilang gemilang, karena TUHAN menyertainya. Daud bahkan kemudian juga menjadi menantu Raja Saul dan sahabat baik anak Raja Saul, Yonatan. Segala sesuatunya tampak berlangsung baik atas Daud, sampai kemudian Saul menjadi ancaman besar karena kecemburuannya kepada Daud. Kini Daud menjadi orang yang diburu untuk dilenyapkan. Apa yang telah terjadi? Apakah Allah yang telha memberikannya kemenangan-kemenangan besar tersebut, kemudian meninggalkannya? Seringkali kitapun merasa demikian dari waktu ke waktu. Setelah mengalami kemenangan yang besar di puncak kegemilangan, seringkali kemudian kita terancam jatuh ke lembah kekecewaan, kelesuan, depresi dan keputus-asaan. Ketika kita merasa lemah secara fisik, kit pun dapat mengalami kelesuan secara rohani. Keadaan seperti itulah yang membuat kita kemudian menjadi rentan terhadap serangan Iblis. Ia memang senang untuk mengalahkan kita.
Ketika Daud merasa lemah secara fisik, Ia melakukan hal-hal yang sebenarnya dapat kita nilai sebagai bukan merupakan karakter asli Daud. Hal yang pertama, Daud melarikan diri ke Nob, salah satu dari kota-kota yang telah diberikan untuk didiami para imam. Tabernakel TUHAN masih belum menemukan tempat yang permanen untuk didiami di Yerusalem. Kemah Suci tersebut sering dipindah-pindahkan dan tampaknya saat itu sedang berada di kota Nob. Daud berbohong kepada imam yang bertugas, saat ia ditanyai tentang tujuan kedatangannya dan mengapa ia tidak membawa perlengkapan senjata untuk berperang. Daud dan pasukan pengiringnya yang berjumlah sedikit, sangat kelaparan dan mencari bantuan dan makanan kemanapun yang dapat ditemui, Lalu imam Ahimelekh yang bertugas tersebut memberi mereka roti kudus yang telah selesai dipersembahkan pada hari tersebut, yang diterima Daud dan pasukannya dengan sukacita. Setelah itu, Daud melarikan diri ke Gat yang menjadi wilayah orang Filistin. Mungkin ia berpikir bahwa tempat tersebut akan menjadi lokasi yang aman di mana Saul tidak akan berani mengejarnya. Tetapi di dalam kitab Mazmur 56 : 1 dikatakan bahwa kitab Mazmur tersebut ditulis saat Daud sedang disergap dan ditangkap oleh orang Filistin di Gat. Lau dengan cerdik Daud bertindak seolah-olah ia sudah gila , di hadapan raja Gat, sehingga kemudian ia membiarkan Daud pergi. Daud bertindak menurut akal sehatnya sendiri dan ia melakukannya oleh karena takut. Ketika kita berada di dalam kesukaran, kita perlu berdoa untuk mendapat petunjuk dari Allah, untuk dapat mencari jalan keluarnya.
Mazmur 34 diyakini ditulis dalam kurun waktu saat Daud sedang berada dalam pengejaran Raja Saul, saat ia mencari bantuan dan perindungan di kota Nob, dan di wilayah Gat tanah Filistin. Daud menuliskan :
“Aku telah mencari TUHAN dan Ia menjawab aku; Ia melepaskanku dari segala ketakutanku… semua orang yang mencari wajahNya, mukanya akan berseri-seri; wajah mereka tidak akan pernah mendapat malu.. (tidak seperti saat Daud membiarkan ludahnya mengalir membasahi mukanya ketika berpura-pura gila di hadapan Akhis Raja Gat).
Orang yang tertindas ini berseru dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkannya dari segala kesukarannya.
Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, dan Ia membebaskan mereka.
Orang-orang benar berseru kepada TUHAN, dan TUHAN mendengar seruan mereka; Ia membebaskan dari segala kesukaran mereka.
TUHAN dekat kepada orang-orang yang patah hati dan menyelamatkan orang-orang yang semangatnya hancur.
Orang benar mungkin memiliki banyak kesulitan, tetapi TUHAN membebaskan mereka dari semuanya itu.
TUHAN membebaskan hamba-hambaNya; orang-orang yang berlindung kepada TUHAN, semuanya tidak akan menanggung hukuman. (Mazmur 34 : 4-8; 17-19, 22).
Sesudah dari Gat, lalu Daud melarikan diri ke gua Adulam (di daerah perbukitan, suatu benteng perlindungan), di mana keluarganya juga ikut mengungsi bersama Daud. Mereka mencoba memberi dorongan kepada Daud tetapi tidak aman bagi mereka untuk selalui menyertai Daued, lalu ia meninggalkan mereka di Moab. Namun demikian tampaknya Daud berada dalam bahaya di Adulam, karena nabi Gad kemudian memintanya untuk tidak tinggal di Adulam tetapi pergi pulang ke tanah Yehuda. Bahkan di dalam kelemahan kita pun Allah menunjukkan bahwa diriNya adalah Allah Yang Kuat dan Perkasa. Allah hendak mengangkat Daud dari lumpur kotor berisi kekecewaan dan keputus-asaan, dan memimpinnya menuju tanah yang nantinya di tempat tersebut ia akan dinobatkan menjadi raja (awalnya Daud terlebih dahulu memerintah di tanah Hebron bagian dari wilayah Yehuda). Allah juga memberikan kepadanya sekumpulan pahlawan pejuang yang gagah berani dan perkasa untuk memimpin pasukannya, yang mana beberapa dari mereka bahkan berasal dari keluarga Saul yaitu dari suku Benyamin (mungkin mereka telah menyadari akan kegilaan yang telah dilakukan Saul); jika kita pun tengah diperlakukan dengan tidak adil dan tidak benar, Allah sanggup juga untuk membawa kita keluar dari cengkeraman para musuh yang melemahkan jiwa kita, jika kita mau mencari kelepasan dari padaNya. Meskipun tengah berada dalam kondisi lemah dan putus asa, Allah memberi Daud harapan yang baru, tugas yang baru dan perlindunganNya sampai tiba waktu yang tepat bagi Daud untuk menjadi raja Israel. Sama seperti Daud, kita poun harus belajar bahwa saat kita lemah, Allah adalah Allah yang Kuat dan Perkasa yang selalu siap menolong kita. Ia adalah Benteng Perlindungan dan Menara Pembebasan bagi kita.
Untuk Direnungkan dan Dilakukan :
- Dengarkanlah nasihat yang bijak; kadang-kadang memang hal terbaik yang harus dilakukan adalah untuk menjauhkan diri ;
- Ketika ummat Kristiani merasa lemah secara fisik, mereka dapat saja menjadi lemah juga secara rohani. Kondisi tersebut juga dapat membuat mereka menjadi sangat rentan terhadap serangan Iblis. Iblis senang jika dapat mengalahkan kita ;
- Mari hai orang-orang percaya, kita perlu berdoa minta bimbingan dari Allah ketika kita hendak membebaskan diri dari persoalan yang ada ;
- Allah itu bersikap penuh kasih dan murah hati terhadap orang-orang yang diperlakukan dengan tidak adil ;
- Sebagai ummat Kristiani, sama seperti Daud, harus belajar percaya bahwa bahkan di saat kita lemah, Allah itu adalah Allah yang Kuat dan Perkasa. Ia adalah Benteng Pertahanan dan Menara Pembebasan bagi kita. Apakah Ia sungguh-sungguh telah menjadi Kubu Pertahanan dan Pembebasan bagi kita?
Pertanyaan Untuk Diskusi :
- Dari bacaan tambahan di kitab Mazmur 34 : 17-18, hari ini kita belajar bahwa Allah hadir di setiap saat di mana kita sungguh-sungguh memerlukan pertolongan TUHAN : saat kesukaran, saat mengalami patah hati, saat semangat dan jiwa kita merasa hancur. Lalu apakah yang kita lakukan saat mengalami hal-hal tersebut? Dan kepada siapakah kita akan berpaling? Apakah kita berseru-seru mohon pertolongan TUHAN pada saat tersebut? Bagaimana kemudian kita tahu bahwa TUHAN akan menolong dan menyelamatkan kita? Bagaimana kita dapat merasakan bahwa TUHAN itu dekat kepada kita? Bagikanlah pengalaman Anda tentang hal tersebut.
Ayat Hafalan Hari Ini :
- Mazmur 34 : 8 “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!”
