Bacaan Alkitab : I Samuel 1 : 1 – I Samuel 4 : 1a;
Mazmur 113
(Kurun waktu : diperkirakan 1.350 – 1.050 S.M.)
”Dibuang dan Diganti”
download versi word file: Renungan Harian Tgl 8 April 2017
Bola lampu perlu diganti dengan yang baru saat sudah mati. JIka ini tidak dilakukan, maka kita akan sulit untuk melihat dengan jelas, dan juga akan membuat suasana jadi suram. Sama seperti bola lampu yang perlu diganti, kebanyakan dari kita menyaksikan perlunya untuk memberhentikan ataupun mengganti seorang pegawai, pemain olah raga, pelatih ataupun pemimpin. Ini harus dilakukan ketika seseorang dinilai tidak lagi produktif ataupun tidak mencapai standard produktivitas yang diharapkan. JIka manajemen tidak menangani persoalan dengan baik, maka akan terjadi keputus-asaan. Mungkin akhirnya kita dapat meninggalkan tugas tersebut ataupun mencari tempat lain untuk tinggal, bekerja, bergaul ataupun untuk melayani. Allah adalah pribadi yang peduli tentang diri kita dan keadaan kita yang tertekan. Ia dapat membuang/ menjauhkan serta mengganti orang sehingga akan ada semangat dan harapan yang dipulihkan kembali.
Sama seperti yang dilakukan TUHAN terhadap Rut, Allah mengirimkan Samuel sebagai terang ditengah kegelapan rohani yang terjadi di masa-masa terakhir pemerintahan Hakim-Hakim ( I Samuel 7 : 15). Pada masa tersebut Israel tidak memiliki raja; setiap orang melakukan apa yang benar menurut pandangannya sendiri. Saat itu merupakan waktu yang kacau, banyak terjadi tindakan-tindakan immoralitas dan penyembahan berhala. Oleh karenanya, berkat Allah tidak dapat dicurahkan atas ummat Israel. Oleh karena kejahatan Israel, maka bangsa Israel seringkali berada di bawah penindasan negara-negara tetangga mereka untuk jangka waktu yang cukup lama, sampai berlalunya suatu generasi. Di dalam kasih dan kemurahanNya, Allah memberikan para pembebas bagi Israel (Hakim-Hakim), saat Israel berteriak mohon pertolongan TUHAN di dalam sikap pertobatan mereka. Tetapi ketika hakim tersebut mati, mereka segera kembali lagi menjalani cara-cara hidup yang penuh dosa. Tampaknya terdapat kejahatan yang telah berurat berakar di dalam setiap generasi. Siklus kejatuhan dalam dosa perbudakan dosa pertobatan pembebasan berulang kembali sepanjang masa pemerintahan Hakim-Hakim. Di masa akhir pemerintahan Hakim-Hakim, Samuel dilahirkan untuk dibesarkan menjadi seorang hakim yang baru dan imam. Ia pun akhirnya akan memilihkan raja-raja yang akan memerintah suatu pemerintahan baru berbentuk monarki.
Samuel lahir dari pasangan yang bernama Elkana dan Hana. Mereka adalah keluarga yang bertugas sebagai penyanyi dan juga keturunan langsung suku Lewi, sebagaimana Samuel pun ditugasi menjadi seorang imam (I Tawarikh 6 : 33-38). Hana adalah seorang perempuan yang tidak mempunyai anak untuk jangka waktu yang lama; mungkin inilah sebabnya maka kemudian Elkana mengambil istri yang ke dua yang bernama Penina (hal tersebut diijinkan menurut budaya yang berlaku saat itu, tetapi hal tersebut tidak direstui Allah). Seperti yang dapat kita bayangkan, hal tersebut menyebabkan tekanan dan pertikaian antara Hana dan saingannya tersebut. Karena Penina melahirkan banyak anak bagi Elkana dan Hana tidak memiliki anak seorangpun, maka setiap tahun ia menimbulkan kemarahan Hana sehingga ia sering menangis. Baik Elkana maupun Hana adalah orang tua yang hidupnya takut akan Allah. Pada suatu hari ketika mereka tengah berziarah menuju tabernakel yang berada di Silo, di dalam kesengsaraannya, kemudian Hana berdoa mohon kepada Allah agar ia dapat melahirkan seorang anak laki-laki. Lalu ia berjanji untuk menyerahkan anak laki-lakinya tersebut kepada TUHAN seumur hidupnya, jika ia dapat mengandung. Lalu Eli, Imam Besar pada tahun tersebut berjanji kepadanya bahwa ia akan dapat memiliki seorang anak laki-laki, dan memang terjadilah seperti doa-doa nya tersebut. Setelah Samuel disapih, kemudian ia diserahkan kepada TUHAN. Dalam adat istiadat Yahudi saat itu, setidaknya ia berusia tiga tahun , berdasarkan buku apokrif , 2 Makabe 7 : 27 (The Bible Knowledge Commentary of the Old Testament, oleh Walvoord and Zuck , copyright 1985, halaman 434). Dalam usia yang masih sangat kecil tersebut, kemudian Samuel dibawa ke tabernakel di Silo untuk tinggal bersama imam Eli dan menolongnya dalam pelayanan-pelayanan di tabernakel. Saat itu umur Eli sudah cukup lanjut, sehingga Samuel sungguh-sungguh diperlukan untuk membantunya dan menjadi orang kepercayaannya. Karena Samuel menjadi asisten pribadi bagi imam Eli, dan juga telah dipersembahkan bagi pelayanan kepada TUHAN, maka Samuel pun tumbuh menjadi anak yang baik dan patuh kepada TUHAN. Tetapi sayangnya, Eli tidak memberikan perhatian dan didikan yang baik tersebut kepada anak-anak kandungnya sendiri.
Anak-anak Eli melayani sebagai imam dan perlu untuk dibuang dan digantikan. Anak-anak Eli sudah tidak layak untuk melayani TUHAN karena mereka telah memperlakukan korban persembahan bagi TUHAN dengan tindakan yang menghinakan Allah, yaitu mengambil bagi diri mereka sendiri bagian yang terbaik dari hewan kurban persembahan tersebut, dan tidak mempersembahkannya kepada Allah. Lalu di dalam ibadah di kemah suci, mereka juga terlibat dalam kegiatan prostitusi, seperti yang dilakukan oleh bangsa-bangsa yang hidup disekitar kediaman Israel ( I Samuel 2 : 12-17, 22-25). Tampaknya Eli tidak memberikan perhatian yang cukup kepada pendidikan anak-anaknya, tidak seperti yang telah ia ajarkan kepada Samuel, dan Eli tidak melarang segala tindakan jahat yang dilakukan anak-anaknya. Mungkin saja, sama seperti orang tua lain pada umumnya, Eli tidak mau merusak kepercayaan diri anak-anaknya, ataupun membatasi sikap dan kreativitas mereka. Atau mungkin saja ia menyerahkan tugas untuk mendidik anak-anaknya tersebut kepada istrinya, sedangkan ia sibuk melakukan tugasnya sebagai imam besar. Sayangnya, Samuelpun kemudian mengikuti contoh buruk Eli dalam hal membesarkan anak-anak kandungnya (I Samuel 8 : 1 – 5). Para orang tua harus mengambil tanggung-jawab untuk membesarkan anak-anak mereka dengan disiplin hidup menurut perintah Allah, atau jika tidak dilakukan, maka anak-anak tersebut akan menjadi pemberontak. Janganlah kita menjadi terlalu sibuk untuk melakukan tugas yang benar sebagai orang tua di dalam TUHAN. Kita harus memberi perhatian yang sungguh-sungguh, berkenaan dengan tugas mendidik dan membesarkan anak-anak di dalam jalan TUHAN, agar dapat menjadi orang-orang yang berguna di dalam keluarga dan bangsa kita.
Seperti apakah sifat dan tindakan anak-anak dan cucu kita kelak? Semuanya tergantung pada sifat dan tindakan kita juga. Apakah kita sungguh-sungguh menjadi orang yang hidupnya takut akan Allah, yang dapat menjadi teladan bagi para anggota keluarga kita? Maukah kita mengajarkan kepada anak-anak dan cucu-cucu kita untuk menjalani hidup yang takut akan TUHAN dan melakukan segala perintahNya? Maukah kita menuntun mereka agar memiliki hubungan pribadi dengan TUHAN? Akankah kita mendisiplin mereka jika mereka berbuat salah, dan memuji mereka jika mereka melakukan hal yang benar? Akankah kita membawa mereka untuk bersama-sama beribadah di rumah TUHAN dan membantu kita melayani TUHAN? Maukah kita menanamkan disiplin yang sesuai perintah TUHAN, dalam hal membaca Alkitab, berdoa, melayani dan beribadah? Maukah kita setia berdoa bagi mereka? Maukah kita mewariskan keimanan dan sikap hidup yang benar dengan membagikan pengalaman-pengalaman pertumbuhan iman di dalam TUHAN? Maukah kita memberi dorongan agar mereka mau melakukan hal-hal yang benar di mata TUHAN, dan juga mencegah mereka untuk melakukan hal-hal yang salah? Maukah kita memberi tantangan agar mereka dapat berjuang dan bertumbuh di dalam iman dan pelayanan mereka bagi TUHAN? Jika kita melakukan hal-hal tersebut, maka tentu TUHAN akan memberkati anak-anak kita dan memberi kuasa agar mereka dapat hidup benar dan tidak terpengaruh budaya sekitar yang tidak takut akan TUHAN, serta menjalani hidup yang berbeda, yang menuntun mereka kepada kekekalan di surga.
Berdasarkan nubuatan yang disampaikan oleh seorang hamba Allah, Eli dan anak-anaknya akan diberhentikan dari jabatan mereka sebagai imam dan terbunuh pada hari yang sama. Dan bukan hanya hal tersebut saja, tetapi keturunan-keturunannya pun akan dihapuskan dari jabatan keimaman oleh karena kegagalan mereka untuk menghormati Allah ( I Samuel 2 : 30). Hal tersebut kemudian digenapi 130 tahun kemudian, saat jabatan keimaman ditanggalkan atas Abyatar, pada awal masa pemerintahan Raja Salomo (dan pada akhirnya tugas keimaman tersebut akan terlaksana dengan sempurna pada jaman Yesus Kristus: mohon lihat di Mazmur 110; Ibrani 5 : 6; dan Wahyu 19 : 16). Karena Abyatar telah membantu Adonia, saudara Salomo yang menghendaki jabatan raja, sedangkan Salomo dianggap yang paling berhak mewarisi tahta Daud ayahnya, maka jabatan keimaman Abyatar kemudian dihapuskan dan diberikan kepada keluarga Zadok ( 1 Raja-Raja 2 : 26-27, 35).
Samuel telah dibesarkan untuk menjadi hamba Tuhan yang setia. Ia hidup dengan integritas yang tinggi dan menghormati Allah. Ia dikenal oleh semua orang sebagai seorang nabi Allah ( I Samuel 3 : 20). Samuel bahkan juga mengurapi Daud untuk menggantikan Saul. Apakah kita menghendaki agar anak-anak kita dapat berhasil kelak? Kita harus mengajarkan agar mereka setia kepada TUHAN.
Untuk Direnungkan dan Dilakukan:
Hari ini di dalam kitab 1 Samuel 2, kita membaca mengenai Doa Hana yang luar biasa! : “Tidak ada yang kudus seperti TUHAN, sebab tidak ada yang lain kecuali Engkau dan tidak ada gunung batu seperti Allah kita.” Sungguh, doa Hana ini mengingatkan kita, apakah kadang-kadang kita lupa bahwa Allah adalah Allah yang kudus? Apakah kita kadang-kadang masih mencari-cari sandaran yang lain selain Allah? Apakah Anda percaya bahwa Allah sungguh-sungguh dapat memuaskan dahaga jiwa Anda ataupun mengendalikan pikiran, perasaan dan jiwa Anda, serta mengatasi masalah dalam hidup Anda?
Pertanyaan Untuk Diskusi :
Dalam situasi di mana seseorang perlu dilepas dari jabatannya dan digantikan, jika manajemen tidak mau bertindak dengan benar, maka kita harus berdoa mohon campur tangan Allah. Allah sungguh mau peduli akan keadaan kita dan kondisi kita yang tertindas ;
Para orang tua harus mau mengambil tanggung jawab untuk membesarkan anak-anak mereka di dalam jalan yang benar, atau jika tidak demikian, mereka dapat memiliki sikap pemberontak. Sebagai orang tua, janganlah menjadi terlalu sibuk untuk melakukannya. Para orang tua harus memberi perhatian sungguh-sungguh atas tugas tersebut, demi kemajuan keluarga dan bangsa;
Kita harus dapat memberikan teladan yang baik dalam hal kesetiaan, dan anak-anak kita harus dibimbing agar memiliki hubungna pribadi dengan Allah dan juga mau bersikap setia kepada TUHAN. Apakah Anda memiliki hubungan pribadi dengan Allah? Ia dapat memberikan pengampunan, damai sejahtera dan kehidupan rohani yang baru.
Ayat Hafalan Hari Ini :
I Samuel 2 : 30b “tetapi sekarang–demikianlah firman TUHAN–:Jauhlah hal itu dari pada-Ku! Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan dipandang rendah.”

Shalom,sbg pemerhati,sy baca Imam Eli ada tegur anak2nya tertulis dlm ayat 24 pasal2 Kitab 1 Samuel. Tidak dijelaskan sejak kapan timbul roh pembrontak thd nasehat Tuhan! Sejak izinkan Penina jadi Istri? Adakah itu perlu izin Imam? Hingga anak2nya pun sulit patuh! Tetapi Samuel kecil bisa di didik dgn baik. Sejak kecil di lilitkan baju Efod,krn nazar bundanya yg jahit bajunya kah serta doa bunda juga? Tdk tertulis nama bunda Hofni Pinehas? Apkh andil bunda2 mereka berdua tdk sertai kegiatan mereka? Pelanggaran bangsa Israel sbg umat Tuhan hasil perbuatan2 jahat yg terdengar oleh Imam Eli. Teladan yg baik datang darimana Samuel bisa jadi Imam pengganti Eli, sdng Hofni Pinehas tdk jadi saksi yg baik? Apkh omongan orang2 sekitar yg membentuk pemberontakan sikap mereka? Opini sy, sikap Hofni Pinehas bisa berupa aksi protes mereka terhadap sesuatu yg tdk mereka dapat dari seorang ayah yg sibuk karna harus urus masalah bangsa Israel yg besar jumlahnya menyita waktu seorang diri pula. Siapa yg bisa perbaiki sesuai koreksi terhadap “sesuatu” itu? Whose responsible? Klo itu ada dilingkungan kalangan sendiri? Yach …. masa’ question di jawab dgn question? klo sbg pembaca FT,kita ada diantara anak2 yg dilingkungan bilangan anak2? Harus ambil sikap? Yang bagaimana, terlebih Imam Eli di hukum Tuhan, tdk bisa bakar korban tebusan dosa utk sang anak? Posisi sy sbg anak? Tentu sejarah yg salah tdk boleh diulang2 lagi, krn konsekwensinya jelas. Tapi ini opini sy, mungkin ada pembaca yg bs angkat diskusi kasus anak2 di area anak2, ada yg punya daya tangkap beda dgn posisi, opini pembaca yg terkini. MARI KITA BERBAGI OPINI, SPY TDK ADA KABAR KABARI YANG FATAL SEPERTI YG DI ALAMI IMAM ELI pasalnya kisah2 salah tak diharapkan diteladani, Selamat melaksanakan Firman Tuhan, menangkanlah peperangan rohani ini utk Kemuliaan Tuhan, klo atmosfir diudara ada roh pemberontak yg garang2, cukup mengerikan! Doa sy Kuasa Allah berdaulat atas umatNya, Amin