Bacaan Alkitab : Ruth; I Tawarikh 2 : 3 – 16
(Kurun waktu : diperkirakan 1.350 – 1.050 S.M.)
”Terang Pengharapan”
download versi word file: Renungan Harian Tgl 7 April 2017
Apakah Anda pernah tersesat ditengah malam yang gelap? Mungkin Anda sedang membayangkan kenangan saat usia Anda masih belia, dan Anda dengan teman Anda tersesat saat hendak pulang kembali ke rumah. Anda sedang menyeberang di sepanjang tepi hutan dekat dengan padang rumput tempat penggembalaan sapi. Hari itu tidak ada sinar bulan dan langit gelap berawan sehingga tidak ada bintang yang dapat terlihat. Sungguh gelap gulita. Anda hampir-hampir tidak dapat melihat pohon ataupun garis batas pagar. Lalu Anda dan teman Anda tersandung akar pohon yang besar. Bunyi daun-daun mati yang berderak membuat Anda takut. Bayangan juga memberi kesan seram. Tiba-tiba, saat Anda mulai mendaki bukit, Anda melihat terang di kejauhan. Terang itu melambangkan sebuah harapan. Terang itu mencerminkan rasa damai di tengah ketakutan Anda. Cahaya itu sungguh Anda nantikan , lalu Anda dan teman Anda bersukacita karena dapat melihat terang tersebut, yang menerangi jalan menuju arah cahaya tersebut. Seperti itu juga cara Israel menemukan jalan, pada jaman Hakim-Hakim. Sedemikian jahatnya orang Israel pada waktu itu, sehingga mereka terjatuh dalam dosa, dan tidak tahu bagaimana caranya untuk kembali bertobat dan melakukan yang benar. Kitab Hakim-Hakim 21 : 25 meringkaskan keadaan pada waktu itu : “Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.” Sungguh saat itu merupakan jaman kegelapan dan kebingungan. Lalu tiba-tiba datanglah terang. Kisah tentang Rut memberi secercah harapan pada saat terjadinya kegelapan rohani dalam jaman hakim-hakim. (Rut 1 : 1), Karena ia adalah nenek buyut dari Raja Daud (Rut 4 : 13 – 17), ia hidup pada jaman setelah masa hakim-hakim. Kita tidak tahu pasti siapa yang menjadi hakim pada masa hidup Rut, tetapi kisah tentang dirinya kemungkinan terjadi pada masa pemerintahan Simson dan Samuel. Kitab Rut adalah tentang sebuah kisah cinta, tetapi awal ceritanya dimulai dengan masa-masa perjuangan di tengah kesulitan dan tragedy.
Kitab Rut 1 : 1 – 7 mencatat adanya bencana kelaparan yang terjadi di Israel. Tanah milik suku Yehuda dengan bagian padang gurunnya, adalah yang khususnya sangat terpengaruh oleh bencana tersebut. Seorang Israel yang cukup dikenal kaumnya yang bernama Elimelekh memindahkan seluruh anggota keluarganya dari tanah Yehuda ke Moab. Tentunya terlihat bahwa ia tengah berputus-asa, karena ia pindah ke tanah milik musuh-musuh Israel. Mungkin kita akan berkata bahwa seharusnya lebih baik bagi dia untuk tetap tinggal di tanah Israel, berdoa dan mengandalkan TUHAN untuk membebaskan mereka, tetapi pada hari-hari tersebut semua orang melakukan apa yang benar di matanya sendiri. Jika kita dihadapkan pada situasi yang serupa, mungkin kita pun akan melakukan keputusan yang sama dengan Elimelekh. Sayangnya, ketika keluarganya tinggal di Moab, anak-anak laki-lakinya menikahi perempuan Moab dan kemudian Elimelekh dan anak-anak laki-lakinya tersebut satu persatu mati. Naomi dan menantu-menantu perempuannya kemudian ditinggalkan dalam keadaan miskin, tetapi mereka mendengar bahwa Allah telah memberikan makanan bagi ummatNya di tanah Israel, maka mereka kembali ke tanah Israel. Allah akan menyediakan segala kebutuhan ummat kepunyaanNya, jika saja kita mau bersabar menantikannya. Allah itu murah hati dan penuh kasih setia kepada para janda dan kaum papa lainnya.
Kedua menantu Naomi yang bernama Orpa dan Rut memulai perjalanan mereka kembali ke tanah Israel bersama Naomi. Namun demikian Naomi berpikir bahwa akan lebih baik jika para menantunya tersebut kembali ke kampong halaman mereka dan menikah lagi dengan orang lain. Orpa meninggalkan Naomi, tetapi Rut tetap berkeras untuk ikut Naomi dan tinggal bersamanya. Rut adalah seorang perempuan Moab, tetapi ia menunjukkan kasihnya kepada ibu mertuanya dengan meninggalkan negaranya, orang-orang sebangsanya serta illah nya, untuk mengikut mertua nya (Rut 1 : 16 – 17, 20 – 21). Ini adalah gambaran tentang langkah pertama untuk menerima keselamatan – meninggalkan illah-illah, dosa-dosa kita dan berbalik kepada Allah yang benar untuk memperoleh pembebasan dan kelepasan. Allahnya Naomi, Allah yang benar, kini menjadi Allah Rut, dan kaum Israel menjadi kaumnya. Tetapi Naomi telah terlanjur menjadi pahit oleh sebab keadaannya, setelah kehilangan suami dan dua anak-anak laki-lakinya. Tentu kita akan turut bersimpati kepadanya. Namun demikian di dalam kemurahan Allah, ia telah mendapatkan dua menantu perempuan yang mengasihinya, yang mana yang seorang menolak untuk meninggalkannya. Allah itu sungguh baik dan penuh kasih setia bahkan pada saat kita mengalami masa-masa suram dan keadaan yang sulit.
Rut berusaha untuk merawat dan menyediakan keperluan ibu mertuanya. Ia adalah seorang perempuan yang rajin, meskipun ia pun masih berduka atas kepergian suaminya. Ia memiliki reputasi yang sangat baik atas kebaikan dan kesetiaannya kepada Naomi (Rut 2 : 2 – 3, 11 – 12). Bagaimana sikap kita terhadap para mertua kita? Bagaimanakah reputasi kita selama ini?
Tempat di mana Rut pergi untuk mengumpulkan jelai-jelai gandum setelah para pemanen mengambil hasil panen mereka, “secara kebetulan’ adalah ladang milik Boaz, seorang kerabat dekat Naomi, dan ia adalah tuan tanah yang kaya raya. Ia bersikap sangat murah hati kepada Rut, meskipun Rut adalah orang asing. Ia bersikap melindungi Rut dan memberikan jelai-jelai gandum yang diperlukan Rut. Ketika Naomi mengetahui tentang Boaz, ia memuji Allah karena merasa Boaz adalah kerabat dekat yang telah menyelamatkan hidup mereka. Apakah yang dimaksud dengan kerabat dekat-penebus ? Menurut kitab Imamat 25 : 23 – 28 jka seorang Israel adalah seorang yang miskin dan hendak menjual property miliknya, maka kerabat terdekatnya memiliki hak untuk membeli property tersebut dan hal-hal yang berkaitan dengan kepemilikan property tersebut, sehingga nama keluarganya maupun pemeliharaan atas klan dan kaum keluarganya dapat terus berlanjut. Seluruh tanah Israel merupakan milik TUHAN, tetapi ummat Israel bertugas untuk memelihara dan menjaga harta warisan tersebut. Kerabat terdekat yang berhak untuk membeli property dan segala kepemilikannya disebut kerabat dekat-penebus.
Naomi melihat Boaz sebagai kerabat dekatnya. Ia berpikir mungkin Boaz dapat menikahi Rut, membeli tanah mereka dan menyediakan segala kebutuhan mereka. Boaz memiliki reputasi sebagai seorang yang takut akan TUHAN, dan juga seorang tuan tanah yang sangat dihormati orang. Jadi dapat dimengerti bahwa Boaz memperhatikan keperluan Rut serta sangat baik hati kepadanya dan Naomi karena merasa menjadi kerabat dekat Naomi. Naomi berkata kepada Rut, “maka mandilah dan beruraplah, pakailah pakaian bagusmu dan pergilah ke tempat pengirikan itu. Tetapi janganlah engkau ketahuan kepada orang itu, sebelum ia selesai makan dan minum. Jika ia membaringkan diri tidur, haruslah engkau perhatikan baik-baik tempat ia berbaring; kemudian datanglah dekat, singkapkanlah selimut dari kakinya dan berbaringlah di sana. Maka ia akan memberitahukan kepadamu apa yang harus kaulakukan.” (Rut 3 : 3 – 4)
Pada waktu tengah malam dengan terkejut terjagalah orang itu, lalu meraba-raba ke sekelilingnya, dan ternyata ada seorang perempuan berbaring di sebelah kakinya. Bertanyalah ia: “Siapakah engkau ini?” Jawabnya: “Aku Rut, hambamu: kembangkanlah kiranya sayapmu melindungi hambamu ini, sebab engkaulah seorang kaum yang wajib menebus kami.” (Rut 3 : 8 – 9).
Rut sedang meminta Boaz untuk menebarkan jubah perlindungan atas dirinya; dengan kata lain, ia meminta Boaz untuk memenuhi tanggung-jawabnya sebagai seorang kerabat-dekat yang wajib menebus keluarganya dan juga menikahi Rut. Boaz sangat ingin memenuhi kewajiban tersebut. Namun demikian, masih ada satu laki-laki lagi kerabat terdekat Naomi yang berhak menjadi kerabat dekat-penebus bagi Naomi, dan jika ia tidak bersedia melakukan kewajibannya, maka Boaz akan bersedia. Meskipun kita mungkin mempertanyakan saran Naomi untuk meminta Rut tidur di tempat yang sama dengan Boaz pada malam tersebut, tetapi mungkin saja tidak terjadi hal-hal yang bertentangan dengan moralitas di antara keduanya pada malam tersebut, karena keduanya adalah orang-orang yang memiliki integritas tinggi. Boaz menebarkan sebagian pakaiannya ke atas kaki Rut dan ia tinggal disana sampai beberapa saat. Lalu ia pergi pada saat masih dini hari, sehingga tidak akan ada orang yang melihat dan menanyainya. Boaz memberikan lebih banyak jelai gandum kepada Rut dan membiarkannya pulang.
Keesokan harinya Boaz menemui anggota dewan kota di pintu gerbang kota. Ia menemui kerabat terdekat Naomi lainnya dan memberikan penawaran kepada laki-laki kerabat terdekat tersebut, tetapi ketika ia tahu bahwa ia harus menikahi Rut juga, maka ia menolak melakukannya. Ia melepaskan kasutnya dan menyerahkannya kepada Boaz.
“Beginilah kebiasaan dahulu di Israel dalam hal menebus dan menukar: setiap kali orang hendak menguatkan sesuatu perkara, maka yang seorang menanggalkan kasutnya sebelah dan memberikannya kepada yang lain. Demikianlah caranya orang mensahkan perkara di Israel.” (Rut 4 : 7).
“Penyerahan sebagian kasut tersebut melambangkan hak yang diberikan kepada Boaz untuk mengambil tanah yang diberikan kerabatnya tersebut sebagai property hak miliknya” (The Bible Knowledge Commentary of the Old Testament, by Walvoord and Zuck, copytright 1985, halaman 427). Boaz menerima kasut yang diserahkan kerabat dekatnya tersebut dan mengambil peran sebagai kerabat terdekat yang menjadi penebus bagi Naomi dan keluarganya. Lalu Boaz menikahi Rut dan ia menjadi nenek buyut bagi Raja Daud (Rut 4 : 17). Ia juga merupakan nenek moyang Yesus Kristus secara keturunan (Matius 1 : 5).
Yesus Kristus ada “Kerabat terdekat- Penebus”. Yesus menjadi sama seperti kita di dalam daging (Yohanes 1 : 14, Filipi 2 : 6 – 7). Ia telah membayar harga penebusan bagi kita, bukan dengan uang, melainkan dengan mencurahkan darahNya sendiri di atas kayu salib di Kalvari. Efesus 1 : 7 berkata, “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya.” Titus 2 : 14 berkata, “ (Kristus adalah satu-satunya) “yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik.” Sama seperti Rut orang Moab, meskipun kita adalah “orang-orang asing”, tetapi kini kita telah menjadi orang-orang dengan identitas yang baru dan hak warisan yang baru (Efesus 2 : 11 – 13).
“Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya” (Kolose 1 : 21 – 22).
Mengetahui bahwa kita memiliki seorang “Kerabat Dekat – Penebus” dalam hidup kita, dan bahwa kita adalah orang-orang baru yang memiliki harta warisan yang baru pula, bagaimanakah kemudian cara hidup kita? Apakah kita selalu ingin melakukan hal-hal yang baik? Apakah hidup kita selalu mencerminkan Yesus, Terang Dunia, ditengah-tengah kegelapan rohani dalam perilaku yang umum berlaku dan Apakah kita juga bertindak penuh belas kasihan, mengasihi dan murah hati kepada kaum yang miskin, para janda dan yatim piatu?
Untuk Direnungkan dan Dilakukan:
Langkah awal untuk memulai hubungan yang baru dengan Allah adalah meninggalkan segala dosa Ada dan berpaling kepadaNya agar dapat dibebaskan dari belenggu dosa tersebut ;
Kita harus percaya kepada TUHAN; hidup menurut jalan kita sendiri akan berakibat pada bencana ;
Kita dapat menjadi terang di tengah kegelapan; kita tidak perlu hidup sesuai dengan budaya dan kebiasaan yang berdosa ;
Allah adalah Allah yang mengasihi dan bermurah-hati kepada kita pada saat kita mengalami kegelapan dan kesulitan hidup ;
Yesus Kristus adalah Kerabat Terdekat – Penebus dalam hidup kita. Ia adalah Terang. Ia memberikan pengampunan, kedamaian dan kehidupan rohani yang baru kepada kita. Melalui Yesus maka kita memiliki pengharapan yang pasti di tengah-tengah dunia yang dilanda keputus-asaan dan kekacauan ;
Kita harus bersikap mengasihi dan murah hati kepada kaum yang miskin, para janda, yatim piatu dan orang-orang yang tertindas., sama seperti Allah telah mengasihi kita.
Pertanyaan Untuk Diskusi :
Perhatikanlah kembali ayat-ayat yang terdapat di dalam kitab Rut 1 : 16-17, “Tetapi kata Rut: “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!”
Penahkah kita mengucapkan janji tentang kasih dan komitmen yang sama kepada keluarga kita (ataupun kepada calon pasangan kita yang sudah sungguh-sungguh hidup takut akan Allah). Atau, apakah kepentingan diri sendiri, individualism yang tinggi ataupun jarak secara geografis telah membuat kita tidak dapat mengucapkan janji kasih dan komitmen yang indah seperti dilakukan Rut kepada mertuanya, Naomi? Jika Anda masih memiliki mertua, dapatkah Anda pun bertindak penuh kasih dan komitmen kepada mertua Anda? Hal-hal positif apa lagikah yang dapat kita pelajari tentang sikap Rut kepada mertuanya, Naomi, di dalam pelajaran Renungan Harian hari ini?
Ayat Hafalan Hari Ini :
Matius 5 : 14 – 16 “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”
