Bacaan 16 Februari 2026
Bilangan 21-25
“Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.”
Bilangan 21:9
Teks ini dimulai dengan kalimat yang sangat manusiawi: “Maka bangsa itu tidak sabar di jalan.” Mereka sudah lelah. Perjalanan memutar terasa jauh, dan debu padang gurun terasa menyesakkan. Apa yang dialami oleh Israel juga sering kita alami; saat jawaban doa terasa lambat atau rute hidup terasa memutar, kita mulai kehilangan rasa percaya. Ketidaksabaran yang akhirnya muncul adalah pintu masuk bagi sungut-sungut. Kita mulai meragukan kebaikan Tuhan dan meremehkan berkat yang sudah ada (seperti Israel yang menyebut manna sebagai “makanan hambar”).
Sebagai akibat dari keluhan mereka, Tuhan mengirimkan ular-ular tedung. Dan gigitan ular itu mematikan. Namun, jika kita renungkan lebih dalam, bukankah “racun” itu sebenarnya sudah ada di dalam hati mereka sebelum ular itu datang? Keluhan dan ketidakpuasan adalah racun spiritual. Ia membunuh sukacita, mematikan harapan, dan membuat kita buta terhadap berkat “Manna” (kebaikan kecil) yang Tuhan berikan setiap hari. Seringkali, masalah yang kita hadapi terasa seperti gigitan ular yang panas dan mematikan, namun perlu diketahui bahwa terkadang rasa sakit sering kali menjadi pengeras suara Tuhan untuk menyadarkan kita bahwa kita tidak bisa berjalan sendirian tanpa perlindungan-Nya.
Tuhan tidak langsung melenyapkan ular-ular itu saat Musa berdoa. Alih-alih menghilangkan masalahnya, Tuhan memberikan solusi di tengah masalah: sebuah ular tembaga yang ditaruh pada sebuah tiang (dan ini menjadi tipologi Kristus yang juga menjadi pusat penyembuhan dari racun: dosa). Kesembuhan tidak datang otomatis hanya karena ular tembaga itu ada; orang yang terpagut harus memilih untuk melihatnya, ada sebuah tindakan iman yang aktif dalam upaya tersebut. Karena secara manusiawi, saat digigit ular, kita cenderung menunduk melihat luka, memegang bagian yang sakit, dan panik. Namun Tuhan meminta mereka melakukan hal sebaliknya: yaitu mendongak. Tuhan ingin kita mengalihkan fokus dari “rasa sakit” kepada “janji Tuhan”. Ini menjadi bagian tersulit bagi kita, karena kita cenderung akan fokus pada diri kita sendiri.
Kisah ini memberi pesan yang begitu dalam, yaitu bahwa Tuhan merupakan Pribadi yang dapat menolong kita dimasa sulit dan menjadi penawar racun kehidupan. Mungkin saat ini kita merasa “terpagut” oleh kegagalan, masalah ekonomi, atau beban mental yang terasa seperti racun. Dan dunia secara terang-terangan menyuruh kita fokus pada luka, tetapi Firman Tuhan kali ini mengajak kita untuk mendongak; memandang Tuhan sebagai jawaban atas persoalan.
“Jangan biarkan racun kepahitan menguasai hati kita. Pandanglah kepada Kristus, Sang Penawar Agung. Satu tatapan iman kepada-Nya jauh lebih berkuasa daripada seribu gigitan persoalan dunia“
Tuhan Yesus memberkati
YG160226
Pokok Doa SRHI GBIK
Senin, 16 Februari 2026
1. Mengucap syukur kepada Tuhan atas seluruh rangkaian Ibadah dan kegiatan hari Minggu kemarin serta atas kesetiaan Jemaat dalam kehadiran, dukungan dan pelayanannya sehingga Ibadah dan kegiatan gereja telah berjalan dengan baik.
2. Berdoa kiranya Tuhan senantiasa menyertai dalam setiap usaha, pekerjaan & studi yang dijalani oleh jemaat GBIK sepanjang minggu yang baru ini sehingga diberi keberhasilan dan memuliakan nama Tuhan.
3. Berdoa agar di Indonesia selalu tercipta suasana beribadah yang aman, damai, dan kondusif, juga Negara hadir memberikan perlindungan kebebasan beribadah sesuai dengan keyakinan masing-masing.
Pokok Doa untuk Cabang Marga Mulya, Monterado – Kalimantan Barat
1. Berdoa untuk jemaat yang sakit dan dalam proses pemulihan supaya Tuhan jamah sehingga dapat segera sembuh. Doakan juga supaya Jemaat terlindungi dari segala kecelakaan maupun marabahaya lainnya;
2. Doakan Penjangkaun dan Penginjilan dengan mengunjungi beberapa simpatisan gereja;
3. Berdoa untuk Pdm. Bima Iryanto supaya Tuhan memberkati dengan kesehatan, hikmat dan kemampuan untuk melayani Jemaat.
