“Ini adalah kisah Naaman, seorang panglima perang Aram yang menderita kusta. Melalui nasihat seorang anak budak perempuan Israel, Naaman pergi kepada Nabi Elisa untuk mencari kesembuhan. Namun, dia harus merendahkan dirinya untuk taat melakukan perintah Elisa: mandi di Sungai Yordan tujuh kali. Awalnya dia enggan karena merasa Sungai Yordan terlalu sederhana dan tidak sebanding dengan kehormatannya. Namun, setelah dia patuh, kusta Naaman sembuh. Kisah ini menekankan ketaatan, kerendahan hati, dan kuasa Tuhan yang tidak terikat oleh status atau kekayaan manusia.”
(2 Raja-raja 5:1-15)
Ada ungkapan yang populer yaitu “alah bisa karena biasa.” Kebiasaan dilakukan karena seringnya diulang sehingga menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang baik dapat menciptakan dampak positif, seperti para supporter Jepang yang membersihkan Istora dari sampah setelah pertandingan. Namun, kebiasaan buruk juga sering terlihat dalam kehidupan sehari-hari, seperti malas antre, menggunakan “orang dalam” untuk mempercepat proses, membayar “suap” untuk mempermudah segalanya, dan banyak lagi. Kebiasaan tersebut adalah bagian dari pola pikir yang terbentuk dalam budaya seseorang dan komunitasnya.
Dalam kisah tentang Naaman, kita disadarkan akan perlunya mengubah pola pikir. Hal ini dapat membawa orang percaya untuk melakukan revolusi dalam pemikiran dan tindakannya. Kisah ini dimulai dengan hadirnya seseorang yang “tidak penting” untuk memberikan solusi. Anak budak perempuan ternyata menjadi jalan keluar ketika Naaman hampir putus asa. Jangan pernah menganggap enteng orang kecil. Mereka sering ditempatkan Tuhan dalam kehidupan kita untuk mengajarkan makna kehidupan yang sesungguhnya. Jika ingin mengubah pola pikir, mulailah dengan mendengar mereka yang kecil dan terabaikan.
Pola pikir yang telah merasuk dan merusak sepanjang abad adalah anggapan bahwa dengan tahta dan harta kita dapat memiliki dan menguasai segalanya. Dengan tahta, apapun yang ada di bawah kekuasaan seseorang dianggap harus tunduk. Dengan harta, semuanya dianggap bisa “dibeli.” Karena itu, banyak orang berjuang mati-matian untuk mendapatkan harta dan tahta. Dalam Alkitab, ada kisah Lot dalam Perjanjian Lama, serta Ananias, Safira, dan Yudas dalam Perjanjian Baru, yang membuktikan ungkapan “akar segala kejahatan adalah cinta uang.” Pola pikir ini harus ditinjau ulang dengan bertanya, “Apakah tahta dan harta dapat membeli segalanya?” Kisah Naaman adalah bukti tragis bahwa keduanya tidak berguna.
Mempertahankan harga diri dengan menghalalkan segala cara juga merupakan pola pikir yang merusak. Karena kesombongan, Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, Kain membunuh Habel, dan Pilatus menghukum orang yang tak bersalah. Naaman, sebagai seorang yang terpandang, harus menghadapi sungai kotor sebagai cara untuk melucuti segala kehormatannya. Melakukan hal yang “memalukan” dan menjatuhkan harga diri adalah solusi yang tidak pernah terpikirkan oleh seorang pembesar dan “crazy rich” seperti Naaman. Namun, semua kehormatan itu harus ditanggalkan jika ingin mendapatkan solusi tuntas atas persoalannya. Pada akhirnya, kehormatan yang kita miliki akan berakhir, dan hal ini seharusnya disadari sejak dini.
Jika kita ingin menaruh pikiran dan perasaan seperti Yesus (Filipi 2:5-11), maka kisah Naaman harus menjadi rujukan bagi semua orang percaya. Yesus sendiri melakukan kenosis—menanggalkan segalanya demi karya keselamatan umat manusia. Jika kita masih sering merasa besar, tidak peduli kepada yang kecil, merasa berkuasa, kaya, dan memiliki harga diri yang harus dihormati, maka saatnya bertobat dan mengubah pola pikir secara total. Menjadi orang biasa seperti Yesus adalah kunci agar Kabar Baik dapat diberitakan melalui hidup dan karya kita.
Amin.
