“Ketika itu ada seorang laki-laki di Maon, yang mempunyai perusahaan di Karmel. Orang itu sangat kaya: ia mempunyai tiga ribu ekor domba dan seribu ekor kambing. Ia ada di Karmel pada pengguntingan bulu domba-dombanya. Nama orang itu Nabal dan nama isterinya Abigail. Perempuan itu bijak dan cantik, tetapi laki-laki itu kasar dan jahat kelakuannya. Ia seorang keturunan Kaleb”
(1 Samuel 25:2-3)
Abigail menikah dengan Nabal. Suami istri ini sangat berbeda dalam sifat dan karakter mereka. Arti dari nama Abigail – Aba Aba (Bapa-Tuhan) igail—bersukacita. Jadi Abigail berarti Bapaku (Tuhan) bersuka cita. Nabal artinya נָבָל Nāḇāl, “fool”—bodoh. Firman Tuhan menyatakan bahwa Abigail adalah seorang wanita yang cantik dan bijaksana, tetapi Nabal adalah seorang yang kaya tetapi laki-laki itu kasar dan jahat kelakuannya. Kita tidak tahu mengapa kedua orang yang sangat berbeda ini menikah. Kemungkinan besar sebagai tradisi kuno mereka, menikah karena dijodohkan oleh orang tua. Suatu peringatan dan pelajaran kepada setiap orang untuk mencari pasangan hidup yang sesuai dengan firman Tuhan. Walaupun suaminya seorang yang kasar dan jahat, tetapi Abigail bisa mempertahankan sifat-sifatnya yang bijaksana. Karakternya diatur oleh dirinya sendiri. Artinya jika orang terus berada dalam pimpinan Roh Kudus, dia akan terus bertumbuh dalam iman bahkan bisa menjadi berkat bagi pasangan hidupnya.
Daud bersama tentaranya sedang berada di padang gurun Paran karena dikejar-kejar oleh Raja Saul yang ingin membunuhnya. Daud memerlukan makan bagi dia beserta tentaranya. Pastilah tidak mudah untuk menyediakan makanan bagi semua pria itu di padang belantara. Jadi pada suatu hari, Daud mengutus sepuluh orang mendatangi Nabal untuk meminta bantuan. Dengan bijaksana Daud memilih waktu yang tepat untuk melakukannya, yakni pada saat kegiatan pemangkasan bulu domba, ketika kemurahan hati dan keramah-tamahan biasanya ditunjukkan. Daud juga menyusun pesannya dengan hati-hati, menggunakan istilah yang sopan dan sapaan yang penuh hormat. Ia bahkan menyebut dirinya sebagai “anakmu, Daud”, yang mungkin adalah sebutan penuh hormat yang mengakui bahwa Nabal usianya lebih tua. Bagaimana reaksi Nabal? Ia mengamuk! ”Ia berteriak menghardik mereka”. Nabal yang kikir menolak mentah-mentah untuk memberikan roti, air, dan daging sembelihan berharga yang ia miliki. Ia menganggap Daud tidak penting dan menyamakannya dengan hamba yang melarikan diri. Pandangan Nabal ini mungkin sama dengan pandangan Saul, yang membenci Daud. Mendengar penolakan Nabal yang disertai kata-kata kasar, Daud menjadi marah dan merencanakan akan membunuh Nabal beserta seluruh keluarganya. Berita itu didengar oleh Abigail.
Abigail berpikir dan bertindak dengan cepat. Kita membaca, ”Dengan segera Abigail bergegas.” Dalam kisah ini, kata kerja ”segera” disebut tiga kali sehubungan dengan Abigail. Ia menyiapkan pemberian yang berlimpah bagi Daud dan anak buahnya. Pemberian itu mencakup roti, anggur, domba, biji-bijian yang dipanggang, kue kismis, dan kue ara. Jelaslah, Abigail tahu benar apa yang ia miliki dan mengurus semua tanggung jawab dalam rumah tangganya, seperti istri yang cakap yang dijelaskan di dalam Kitab Amsal (Ams. 31:10-31). Ia mengirim pemberian ini terlebih dahulu bersama beberapa hambanya, kemudian ia sendiri menyusul mereka. ”Tetapi,” kita membaca, ”kepada Nabal, suaminya, ia tidak memberi tahu apa-apa.” Semua ini dilakukan oleh Abigail untuk melindungi keluarganya.
Kata-kata yang disampaikan oleh Abigail kepada Daud ketika mereka bertemu sangat penting untuk dibaca, tetapi karena ruang dalam SRHI ini sangat terbatas, sebaiknya Anda membacanya dalam 1 Samuel 25:24-31. Kata-kata Abigail itu mampu meluluhkan kemarahan Daud dan menghindarkan dia untuk membunuh seluruh keluarga Nabal. Raja Daud berkata kepada Abigail: “Terpujilah TUHAN, Allah Israel, yang mengutus engkau menemui aku pada hari ini; terpujilah kebijakanmu dan terpujilah engkau sendiri, bahwa engkau pada hari ini menahan aku dari pada melakukan hutang darah dan dari pada bertindak sendiri dalam mencari keadilan. Tetapi demi TUHAN, Allah Israel yang hidup, yang mencegah aku dari pada berbuat jahat kepadamu — jika engkau tadinya tidak segera datang menemui aku, pasti tidak akan ada seorang laki-lakipun tinggal hidup pada Nabal sampai fajar menyingsing.” (1 Samuel 25:24-35)
Akhir dari kisah dalam 1 Samuel 25 ini, ketika Abigail menceritakan kepada Nabal apa yang telah dia lakukan, tiba-tiba Nabal menjadi kaku dan sepuluh hari kemudian Tuhan memukul Nabal sehingga mati.
(JET28042023)
Pokok Doa:
- Mendoakan keamanan Indonesia menjelang Pesta Demokrasi 2024;
- Doakan para lansia dan Naomi agar selalu diberi kesehatan;
- Doakan para anak- anak muda GBIK agar terus setia dalam melayani Tuhan.
Pokok Doa Cabang Eklesia Pelita Halmahera Utara
- Pokok Doa GBIK Cabang Alfa Omega, Gamhoku, Halmahera Utara;
- Doakan KKR Anak bersama gereja-gereja perkiraan pada tanggal 29 april;
- Rencana mengupayakan supaya gereja-gereja baptis di Halmahera semakin dekat dengan GGBI, dengan cara pindah BPD atau membuat Rayon di bawah BPD Sulawesi;
- Rencana pembukaan pelayanan baru di Weda dan pengembangan KPW di Tobelo.
