“Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar, sehingga putus telinganya.”
(Mat. 26: 51)
Terkadang ada orang yang dianggap tinggi rohaninya, dapat juga melakukan kesalahan fatal dalam hal pengendalian diri. Memang hal ini semestinya tidak terjadi, tetapi kalau itu terjadi kita sering mendengar pembenaran dengan kalimat, walaupun tinggi rohaninya, ia tetaplah manusia biasa yang bisa salah dan teledor dalam hidupnya.
Peristiwa yang ditulis alam Matius 26: 47-56 di mana Tuhan Yesus dicium oleh Yudas Iskariot dengan ciuman mautnya, lalu ditangkap oleh rombongan orang yang membawa pedang dan pentung (oleh Yohanes dalam Yoh. 22: 52, mereka adalah iman-iman kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah). Melihat semua itu keberanian Petrus muncul seketika, lalu dengan pedangnya ia menyerang hamba Imam Besar sehingga putus telinganya. Petrus mengira apa yang dilakukannya itu segera mendapat respon positif Tuhan Yesus, tetapi kenyataannya, Tuhan Yesus malah menegornya dengan keras, “…. Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barang siapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.” (Mat. 26: 52).
Mari kita cermati peristiwa tersebut. Petrus adalah salah satu dari dua belas murid Tuhan Yesus yang berada dalam ”ring 1”, sehingga memiliki hubungan dekat dengan Tuhan Yesus. Hal ini dapat dikatakan bahwa semestinya ia memiliki iman yang kuat dan selayaknya mampu menguasai diri dengan baik. Namun rupanya pembawaan dasar yang keras dan tegas tetap ada dalam diri Petrus, sehingga peristiwa putusnya telinga hamba Imam Besar itu terjadi. Dengan tepat dapat dikatakan Petrus tidak dapat menguasai diri. Dan karena itulah Tuhan Yesus marah besar kepada Petrus.
Pernahkah Bapak, Ibu dan saudara-saudari dimarahi Tuhan? Kalau pernah mengapa Tuhan sampai marah? Tuhan tidak mungkin marah dengan tidak ada alasannya, pasti ada yang menyebabkan kemarahan-Nya itu. Mungkin kita sedang marah, tidak dapat menguasai diri karena menghadapi persoalan yang cukup berat dan sulit pemecahannya. Pada saat kita menghadapi persoalan yang demikian kita harus tetap bersikap tenang dan tetap mengandalkan Tuhan dalam penyelesaiannya. Dengan demikian kita dapat menghindarkan diri dari kemarahan Tuhan. Tuhan Yesus memberkati, Amin.
(RI12102021)
Pokok Doa:
- Doakan Gubernur, Walikota, anggota DPRD, Hakim dan Kejaksaan di Wilayah DKI Jakarta dapat bekerja dengan rasa takut akan Tuhan dan memiliki hikmat dalam menjalankan tugasnya;
- Doakan jemaat yang mengikuti WBI dan PBI , terus bertumbuh bersama dalam Kristus;
- Doakan penghiburan bagi keluarga Almh. Ibu Sahara Tobing.
