“Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.””
(Kis. 5: 29)
Sering kita diperhadapkan dua hal yang kelihatannya saling bertentangan, mana yang harus kita pilih untuk kita ikuti. Dalam keadaan dua hal yang jelas bertentangan kita tidak sulit memilih satu di antaranya, tetapi kalau perbedaan keduanya tidak nampak jelas, kita akan mengalami kesulitan memilihnya. Mari kita simak pembahasan berikut ini.
Peristiwa yang terjadi dalam Kisah Para Rasul 5: 26-42, di mana akhirnya Petrus dan rasul-rasul mengatakan seperti yang tertulis dalam ayat nats hari ini, merupakan suatu yang jelas berbeda pilihan yang dimunculkan. Ayat ini sering dijadikan dasar untuk mengabaikan peraturan-peraturan pemerintah jika hal tersebut bertentangan dengan perintah atau ajaran Tuhan. Kita perlu menyelidiki lebih dalam ayat tersebut agar tidak salah memahaminya.
Dalam ayat sebelumnya memang Petrus diminta oleh kepala pengawal Bait Allah dan imam-imam kepala untuk tidak mengajar orang banyak dalam nama Tuhan Yesus. (Kis. 5: 28). Mereka terheran-heran melihat Petrus dan rasul-rasul lainnya telah menyampaikan firman hidup kepada banyak orang, padahal mereka telah memasukkannya ke dalam penjara. (Kis. 5: 18-25). Peristiwa inilah yang menjadi latar belakang pernyataan Petrus dalam ayat nats tersebut di atas. Dan jika kita teliti lebih dalam, mengapa imam-imam kepala dan kepala pengawal Bait Allah melarang Petrus dan kawan-kawannya mengajar dalam nama Tuhan Yesus? Mereka melakukan hal tersebut karena iri hati. Perhatikanlah Kis. 5: 17 ini, “Akhirnya mulailah Imam Besar dan pengikut-pengikutnya, yaitu orang-orang dari mazhab Saduki, bertindak sebab mereka sangat iri hati.” Dari ayat tersebut, jelaslah bahwa perintah untuk tidak mengajar orang banyak dalam nama Tuhan Yesus bukanlah perintah pemerintah, bukanlah peraturan pemerintah, melainkan perintah oknum (manusia) yang iri hati dengan pengaruh dan kuasa dari pengajaran dalam nama Tuhan Yesus itu.
Kita tetap harus meyakini bahwa tidak ada pemerintah yang tiak berasal dari Allah dan mereka ditetapkan oleh Allah (Rm. 13: 1). Kita selayaknya meyakini siapapun pribadi manusia yang duduk dalam pemerintahan, memiliki nurani yang baik untuk melaksanakan mandat Allah yang ada di pundaknya sebagai pemerintah. Tetaplah taat kepadanya dan memghormati apa yang menjadi kebijakannya. Tuhan Yesus memberkati, Amin.
(RI24082021)
Pokok Doa:
- Doakan beberapa wilayah Indonesia yang mengalami puncak musim kemarau dan gangguan cuaca. Kiranya kebutuhan air bersih di berbagai wilayah dapat tercukupi;
- Doakan agar pelonggaran PPKM di DKI Jakarta dapat diterapkan dengan baik dan didukung masyarakat yang mematuhi prokes. Kiranya pembukaan kembali tempat ibadah, tempat perbelanjaan tidak menciptakan kluster terbaru;
- Doakan panitia Ibadah New Normal GBIK dalam keadaan sehat, dimampukan menyiapkan rangkaian ibadah sesuai kebijakan yang berlaku;
