“Sambil menangis ia pergi bediri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: “Jika Ia nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa”
(Lukas 7:38-39)
Berbahagialah kaum wanita jika Anda dilahirkan sebagai seorang wanita. Meskipun kadangkala wanita hanya dipandang sebagai makhluk yang lemah, rendah, tidak masuk hitungan, pelengkap kehidupan keluarga, bahkan dalam dunia pelayanan di Gereja seorang wanita tidak diberikan kesempatan untuk memimpin, jangan heran! Pada zaman Tuhan Yesuspun wanita juga diperlakukan serupa. Tetapi kita patut bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus, meskipun wanita pada waktu itu dianggap rendah oleh masyarakat lebih-lebih jika wanita itu adalah seorang tunasusila tetapi bagi-Nya wanita itu juga layak untuk dikasihi dan dihargai. Sebagai bukti, dalam pelayanan-Nya, murid-murid-Nya adalah pria dan wanita. Orang yang Ia bangkitkan dari kematian adalah seorang wanita (Mat. 9:18-26); oleh karena wanita hati-Nya tergerak untuk membangkitkan anaknya (Luk. 7:11-17); oleh karena seorang wanita yang bernama Martha, Tuhan Yesus mendeklarasikan diri-Nya sebagai kebangkitan dan hidup (Yoh. 11:25); ketika seorang wanita yang reputasinya tidak baik ingin mengurapi-Nya, Ia merelakan kaki-Nya untuk diurapi (Luk. 7:36-50); bahkan oleh karena seorang wanita yang bernama Maria Magdalena, Ia merelakan berita kebangkitan-Nya diberitakan (Yoh. 20:10-18).
Jadi sesungguhnya tidak ada alasan apapun untuk kita tidak menghargai wanita. Kita harus bercermin dan meneladani Tuhan Yesus Kristus dalam hal ini, yaitu menghargai seorang wanita sekalipun ia sangat berdosa. Mengapa demikian? Pertama, Dihadapan Tuhan Yesus wanita adalah makhluk mulia. Dalam Yohanes 8:3-11. Seorang wanita yang berzinah diseret di hadapan Tuhan Yesus sedangkan seorang pria tidak dibawa di hadapan Tuhan Yesus. Sungguh ini satu sikap dan perbuatan yang tidak adil, adat istiadat waktu itu menganggap bahwa wanita hanya harta bagi seorang pria, padahal menurut Hukum Taurat, mereka semua harus dirajam batu (Ul. 22:23-30). Dan dalam kasus ini Tuhan Yesus tidak menghukum wanita itu tetapi malah memberikan pengampunan kepadanya. Dalam matius 9:20-22, Tuhan Yesus dijamah oleh seorang perempuan yang sakit pendarahan dan menurut Taurat, Tuhan Yesus tidak lagi pantas untuk melakukan tata karma ibadah, tetapi kembali Ia buktikan bahwa wanita adalah makhluk yang mulia di hadapan Allah dan layak untuk dihargai sesame manusia. Kedua, Dihadapan Tuhan Yesus wanita dan pria dalam pernikahan adalah setara. Karena wanita dianggap sebagai harta bagi pria, maka pria dapat seenaknya menceraikan istrinya. Sedangkan wanita tidak bisa menceraikan suaminya. Dalam Matius 19:1-11 dan Markus 10:2-12, Tuhan Yesus kembali membuktikan bahwa pria dan wanita memiliki hak dan tanggungjawab yang sama dalam hubungan mereka dengan yang lain. Ketiga, Dihadapan Tuhan Yesus wanita dan pria memiliki status sosial yang sama. Dalam percakapannya dengan wanita Samaria, Tuhan Yesus ingin membuktikan bahwa wanita juga memiliki hak dan status sosialyang sama dan layak untuk dihargai meskipun dalam tradisi Yahudi, sebagai seorang Yahudi, Tuhan Yesus tidak boleh berbicara dengan orang Samaria apalagi berbicara dengan seorang wanita Samaria di hadapan umum. Tetapi dalam hal ini justru menjadi kesempatan yang tepat bagi Tuhan Yesus untuk menyatakan diri kepada wanita Samaria bahwa Ia adalah Mesias. Tuhan Yesus memberkati.(AP02042020)
