Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.”
(Kejadian 2:22)
Memasuki bulan April 2020, kita diingatkan akan Pahlawan Nasional Indonesia Raden Ajeng Kartini yang hidup di akhir abad 19 sampai awal abad 20. Rupanya sejarah mencatat betapa hidup RA Kartini mengilhami banyak wanita-wanita Indonesia masa kini dalam ikut serta membangun bangsa dan negara tercinta. Kini wanita bukan sekedar pendamping suami yang baik saja, tetapi juga ikut serta secara nyata dalam proses pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.
Memang benar wanita diciptakan Tuhan dengan maksud agar dapat menjadi penolong yang sepadan dengan laki-laki yang menjadi suaminya (Kej. 2:18). Dengan hadirnya seorang wanita, seorang laki-laki banyak diringankan bebannya, karena dibantu oleh wanita pilihannya. Laki-laki tidak harus memasak sendiri karena hadirnya wanita di sampingnya, laki-laki tidak harus mengatur rumah tangga sendiri, dengan hadirnya wanita di sampingnya. Namun kalau memperhatikan Kej. 2:22, kita bisa mengatakan bahwa wanita bukan sekedar penolong yang sepadan bagi laki-laki, tetapi lebih dari pada itu. Mengapa demikian? Karena wanita diciptakan Allah berasal dari tulang rusuk laki-laki, salah satu bagian tubuh laki-laki yang memiliki peran cukup besar dalam kehidupannya. Tulang rusuk adalah bagian tubuh manusia yang berfungsi melindungi organ-organ penting dalam tubuh manusia. Coba bayangkan jika tulang rusuk bermasalah, pastilah berpengaruh terhadap kenyamanan organ tubuh yang dilindunginya.
Demikian juga wanita, jangan hanya kita pandang sebagai penolong yang sepadan saja, tetapi haruslah kita pandang juga sebagai bagian yang tak terpisahkan dari seorang laki-laki yang menjadi suaminya. Bahkan keberadaannya dapat menjadi pelindung suaminya. Kok bisa? Bisa saja, sering terjadi suami tertolong dengan hadirnya isteri tersayang. Misalnya suami akan tertolong saat ada resepsi pernikahan rekan kerjanya dengan didampingi sang isteri, karena umumnya jika tidak bersama isterinya, seorang laki-laki akan malu hadir dalam resepsi itu. Saat suami akan melakukan hal-hal yang tidak berkenan di hadirat Tuhan, saat ingat isteri di rumah, ia mengurungkan niatnya, dan masih banyak lagi contoh nyata peran wanita/isteri bagi laki-laki/suaminya. Jadi mari kita tempatkan isteri bukan saja sebagai penolong, tetapi juga sebagai pelindung suami. Tuhan memberkati. (RI01042020)
