HIDUP MENURUT CARA PANDANG ALLAH
(Dan. 3:16-18)
Apa yang akan kita lakukan, jika dalam suatu persoalan dituntut untuk mengambil pilihan penyelesaian yang rumit dan membingungkan. Kita menurut apa yang sesuai dengan firman-Nya sekalipun bertentangan dengan kehendak pribadi, kita menurut cara pandang manusia atau cara pandang Allah? Pilihan yang kita ambil merupakan potret diri yang tidak dapat ditutup-tutupi dalam hidup kita. Pilihan yang kita ambil menunjukkan di mana kita akan melabuhkan kehidupan sesudahnya. Dalam situasi seperti itulah Sadrakh, Mesakh dan Abednego menyatakan diri siapa jati dirinya di hadapan Nebukadnezar dan rakyat Babel.
Dari pembacaan firman Allah dalam kitab Daniel pasal 3, kita bisa melihat bagaimana Trio SMA (Sadrakh, Mesakh dan Abednego) hidup menurut cara pandang Allah, serta siap menangung apa akibat yang terjadi karena keyakinan mereka. Mari kita simak bagian-bagian berikut ini.
- 1. Trio SMA tetap taat pada perintah Allah. Karena kecongkakannya, Nebukadnezar meninggikan diri dengan membuat patung emas dengan tinggi enam puluh hasta (kurang lebih 27 meter) dan lebar enam hasta (kurang lebih 2,7 meter). Kemudian Nebukadnezar bertitah agar semua orang bersujud menyembah patung tersebut. Siapa yang tidak mau sujud menyembahnya akan dihukum berat yakni dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala (Dan. 3: 1-7). Trio SMA karena mengerti bahwa hal tersebut di atas adalah kekejian di mata Allah, maka mereka tidak menurut perintah raja tersebut. Inilah salah satu hidup menurut cara pandang Allah, ia lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia (Kis. 4:19-20; 5: 29).
- 2. Trio SMA tetap yakin akan kuasa Allah. Setelah mendengar laporan dari beberapa orang Kasdim bahwa Trio SMA tidak menurut/tidak taat perintah Raja, Nebukadnezar lalu memanggil ketiga orang Yahudi tersebut untuk mengklarifikasi kebenaran laporan itu. Apakah jawaban dari Trio SMA? Luar biasa, mereka tidak menyangkal, mereka mengakui memang benar bahwa mereka tidak mau sujud menyembah patung emas buatan manusia sekalipun diperintahkan oleh Raja Nebukadnezar, karena mereka yakin dan percaya manusia harus menyembah Tuhan Allah dan berbakti kepada-Nya, tidak boleh kepada yang lain (Dan. 3:8-18). Sekalipun ada tekanan seberat apapun, hanya Tuhan Allah yang layak kita sembah. (Ul. 6:13; Mat. 4:10; Luk. 4:8) Apapun keadaan kita, tetaplah yakin akan kuasa Allah mampu menolong beban kita “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.” (Mzm. 121:1-2). Inilah hidup menurut cara pandang Allah yang ke dua.
- 3. Trio SMA tetap percaya sekalipun berat resikonya. Karena “pembangkangan” Trio SMA, maka Nebukadnezar dengan congkaknya memerintahkan agar mereka diikat beserta dengan jubah, celana, topi dan pakaian mereka yang lain, lalu dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Saking besarnya nyala api itu sampai-sampai beberapa orang yang melemparkan mereka mati terbakar, sementara Trio SMA jatuh ke dalam perapian dalam keadaan terikat. Ajaib, mereka tidak mati, tapi malah berjalan-jalan dalam perapian bersama dengan malaikat Tuhan. Resiko yang berat siap dihadapinya, tetapi Tuhan Allah lebih kuat dari semuanya. “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Flp. 4:13). Inilah cara hidup menurut cara pandang Allah ke tiga.
Trio SMA telah membuktikan bahwa dengan tetap percaya dan meyakini akan kuasa Allah, sekalipun dengan keyakinan itu besar resikonya, mereka mengalami sukacita dan menikmati mujizat kasih dan kuasa-Nya. Maukah kita hidup menurut cara pandang Allah seperti mereka? Tuhan Yesus sumber kasih karunia memberkati kita semua, Amin.
