KELAHIRAN-NYA MEMBERI SEMANGAT UMAT-NYA
(Luk. 1:26-38)
Kata semangat mengarah kepada sesuatu yang positif dalam kehidupan manusia, di mana orang yang memiliki semangat pada umumnya memiliki kemauan dan gairah yang sungguh-sungguh untuk melakukan sesuatu aktivitas. Orang bisa menjadi bersemangat pada umumnya dipicu oleh sesuatu yang berasal dari dalam maupun dari luar orang tersebut. Misalnya seseorang bersemangat menyelesaikan skripsinya karena didorong oleh kerinduannya segera menyelesaikan kuliahnya. Atau seseorang bersemangat dalam menunaikan tugas proyek kantornya karena adanya harapan mendapatkan bonus yang cukup besar yang dijanjikan pimpinan kantornya.
Peristiwa malaikat Tuhan datang menjumpai Maria dan menyampaikan maksud dan tujuannya, pada akhirnya memberi semangat luar biasa kepada Maria, sekalipun semula diawali dengan keterkejutan demi keterkejutan dari seorang Maria (Lukas 1:26-38). Terkejut itu adalah sikap spontan seseorang melihat atau mendengar sesuatu yang jarang dilihat atau didengarnya. Keterkejutan Maria disebabkan oleh kedatangan malaikat yang jarang sekali terjadi saat itu, apalagi menemui dirinya seorang gadis kampung biasa. Hal kedua yang menyebabkan Maria terkejut adalah setelah mendengar maksud dan tujuan malaikat yang memberitahukan bahwa dirinya akan mengandung dari Roh Kudus. Hal ini adalah sesuatu yang istimewa baginya, karena siapakah dirinya sampai-sampai Tuhan menjadikan dirinya sebagai sarana untuk lahirnya seorang Juruselamat dunia.
Namun hal penting lain yang mengiringi peristiwa tersebut adalah respon Maria dalam menerima tugas tersebut. Orang mendapat kepercayaan itu ada yang bersemangat menjalankan kepercayaan itu, tetapi ada pula yang malas melakukannya, tergantung karakter orang tersebut. Maria menerima semua tanggung jawab itu dengan penuh semangat, hal ini dapat kita lihat dari ucapannya, “Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.” (Lukas 1:38). Semangat atau gairah Maria ini dapat dikategorikan dalam dua hal yakni :
- 1. Gairah yang melimpah. Maria menerima tanggung jawab tersebut di atas dengan penuh keyakinan, kepasrahan dan ketundukan. Ia menjalani hari-hari saat mengandung bayi Yesus dengan sukacita, sekalipun pasti di sana sini banyak orang mencemoohnya karena kehamilannya sebelum sah menjadi suami-isteri dengan Yusuf. Semangat atau gairah ini yang patut diteladani oleh orang percaya pada masa sekarang. Keyakinan akan Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, seharusnya diikuti kepasrahan dan ketundukan dalam kehidupannya, sekalipun di kanan-kiri banyak godaan dan ancaman yang tidak pernah surut, namun malahan semakin berat.
- 2. Gairah yang mewabah. Gairah yang ada di dalam diri Maria mewabah, menular, berpengaruh positif terhadap orang lain. Yusuf setelah mendapat pencerahan dari perjumpaannya dengan malaikat Tuhan (Mat. 1:18-25), juga menjalani tanggung jawab dengan bergairah seiring dengan gairah Maria itu. Elisabet pun ikut menjadi bergairah setelah Maria datang ke rumahnya dan merasakan adanya sukacita besar dari janin yang dikandungnya setelah berjumpa dengan Maria yang sedang mengandung Sang Juruselamat dunia. (Lukas 1:39-45). Semangat yang ada pada diri Maria menular kepada semangat orang-orang di sekitarnya.
Apakah sukacita natal kita tahun ini, sudah menjadikan kita bersemangat, bergairah dalam melayani Tuhan? Apakah gairah sukacita kita dalam menyambut natal tahun ini telah membawa pengaruh positif dengan adanya orang-orang di sekitar kita turut bersemangat dalam menjalani hidup ini? Memang kelahiran-Nya haruslah memberi semangat umat-Nya. Tuhan Yesus memberkati, Amin.
