KASIH-NYA MENGAJARKU HIDUP BERSERAH
(Mzm. 37:1-11)
Hidup berserah berbeda dengan hidup menyerah. Hidup berserah berarti hidup yang sepenuhnya diserahkan kepada suatu pribadi yang dipercayainya, sedangkan hidup yang menyerah berarti hidup yang merasa sudah kalah, tidak ada harapan lagi sehingga mengarah ke putus asa. Jadi sama-sama menghadapi tantangan, halangan, ancaman maupun gangguan, orang yang hidup berserah itu menghadapinya dengan cara positif, tetapi kalau orang yang hidup menyerah itu menanggapinya dengan pesimis, negatif dan cenderung merasa hidupnya mengalami kekalahan telak. Orang yang hidup menyerah kecenderungannya akan putus asa dan akhirnya hidup dalam kegagalan.
Raja Daud dalam tulisan di Mazmur 37 mengungkapkan suatu pengajaran yang bijak tentang bagaimana hidup berserah, bukan hidup menyerah. Kita tahu hidup Daud dari muda dipenuhi dengan berbagai kesulitan yang tiada henti, namun ia berhasil mengatasinya dengan tidak menyerah tetapi hidup berserah kepada Tuhan. Perhatikan apa yang dinyatakan ini, “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak. Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang.” (Mzm. 37:5-6). Pernyataan itu ditulis disarikan dari pengalaman hidupnya selama masa kecil, muda dan tuanya. Apa yang dialaminya yang penuh dengan liku-liku pencobaan, bisa dilewatinya dengan penuh keyakinan Tuhan pasti menolong dan menyertai dirinya. Anak kalimat “serahkanlah hidupmu kepada-Nya dan percayalah kepada-Nya” merupakan bentuk keyakinan yang bulat bahwa setiap orang percaya wajib dan harus melakukan hal tersebut. Mengapa harus? Karena pengalaman hidupnya membuktikan bahwa “Ia (Tuhan) akan bertindak.” Dia tidak akan menegakan umat pilihan-Nya mengalami kesulitan yang tidak mampu ditanggungnya. Anak Kalimat “Ia akan memunculkan kebenaranmu” berarti Dia sendiri yang akan membenarkan umat-Nya, Dia sendiri yang akan membuat umat-Nya menjadi bersinar karena kebenaran tersebut. Jangan kuatir menghadapi masalah, apalagi kalau berkaca kepada orang jahat, orang curang, jangan iri kepada mereka. Kalau mereka kelihatan sukses dan berhasil hidupnya, lihatlah Daud mengatakan mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau (Mzm. 37:2). Karena itu ia menasehatkan supaya “jangan marah dan berhentilah dari kemarahan, berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikan Dia (Mzm. 37:7-8).
Sering kita terpancing untuk membandingkan kondisi kita umat-Nya dengan orang jahat dan orang yang berbuat curang. Sering kita melihat bagaimana orang jahat dan orang yang berbuat curang itu kelihatan serba enak dan hidup bahagia, sedangkan kita umat pulihan-Nya hidup biasa-biasa saja bahkan cenderung kurang. Akibatnya muncul tanda tanya besar, adilkah hal yang demikian itu? Tuhan mengijinkan hal itu terjadi supaya kita bersabar dan tidak berkembang potensi sikap iri hati kita. Bukankah orang yang demikian dapat disebut orang yang tidak berserah kepada Tuhan, tidak mempercayai Tuhan yang mampu melakukan perkara besar dalam dunia ini? LIhatlah apa yang kita alami sekarang adalah karena pemeliharaan Tuhan dan karena kasih-Nya yang besar kepada kita. Jangan selalu berkaca kepada pribadi-pribadi yang tidak berkenan kepada-Nya, tetapi berkacalah kepada pribadi-pribadi yang hidup saleh dan percaya serta berserah kepada-Nya. Teladanilah mereka itu dalam kepercayaan dan penyerahannya, maka Tuhan pasti akan bertindak sesuai dengan rencana-Nya bagi kita. Tuhan Yesus memberkati, Amin.
