KASIH ITU TIDAK BERSUKACITA KARENA KETIDAKADILAN
(1 Kor. 13:6; Yeh. 18:19-20)
Pada umumnya, kita sebagai manusia memiliki sikap saling menyalahkan dan memperbandingkan diri kita dengan orang lain saat kita berada dalam suatu kesulitan yang tidak kita harapkan. Misalnya, saat kesulitan melanda Ayub, istrinya menyalahkan dia (Ayb. 1:9). Bangsa Israel bersungut-sungut dan menyalahkan Musa serta Allah yang telah membawa mereka keluar dari Mesir (Kel. 16:2-3). Saat orang Yahudi di pembuangan juga sering bersungut-sungut dan menyalahkan dengan berkata : “Kami menanggung dosa-dosa orang tua kami atau kami menderita karena dosa-dosa nenek moyang kami” (Yeh. 18:2). Kita tidak saja saling menyalahkan orang lain, kadang kita menyalahkan tempat, keadaan, bahkan Allah pun kita salahkan. Sifat bersungut-sungut dan menyalahkan, telah membuat Allah murka terhadap mereka.
Alkitab menganjurkan pada kita untuk meninggalkan sifat bersungut-sungut atau sikap menyalahkan seperti yang dilakukan bangsa Israel kepada nenek moyangnya (Yeh. 18:2), tetapi hendaklah kita mempunyai sifat yang penuh kasih, baik kasih kepada Allah maupun kepada sesama kita (1 Yoh. 3:23; Luk. 22:37-39). Adapun kasih yang dimaksud Allah itu termasuk tidak bersukacita karena ketidakadilan (1 Kor. 13:6).
Dalam Yehezkiel 18:1-24, kita akan melihat bagaimana sikap hidup orang Yahudi ketika mereka di pembuangan. Mereka tidak mengalami sukacita karena mereka merasa diperlakukan tidak adil oleh Tuhan sehingga mereka berusaha mengelak atau memberontak kepada Tuhan. Mereka merasa bahwa nubuat penghukuman yang bertubi-tubi datang kepada umat Israel itu adalah sesuatu yang aneh. Dan oleh karena itu, mereka selalu menggunakan peribahasa yang bertujuan untuk menyindir Allah dengan berkata “Ayah-ayah makan buah mentah dan gigi-gigi anaknya menjadi ngilu” (Yeh. 18:2; Yer. 31:29). Mereka merasa bahwa yang paling berdosa dan tidak taat kepada Tuhan adalah bukan dirinya melainkan orang tua atau nenek moyang mereka. Jadi disini jelas bahwa ada sifat mengelak dari orang Yahudi dari tanggung jawab secara pribadi, Meresponi hal ini, Allah melalui Nabi Yehezkiel menegur dengan keras kepada orang Yahudi dengan menanamkan prinsip baru, bahwa setiap orang yang berdosa menanggung dosanya sendiri (ay. 4), dan untuk memperjelas pemahaman ini Yehezkiel menerangkannya dalam contoh dari tiga generasi yang beruntun.
- Pertama: Ayah yang benar akan hidup karena kebenarannya dan ia tetap hidup (ay. 5-9).
- Kedua: Anaknya yang jahat bertanggung jawab atas dosanya dan ia dihukum mati (ay. 10-13).
- Ketiga: Cucunya tidak hidup menurut kelakuan ayahnya, ia hidup benar, maka ia tetap hidup (ay. 14-18). Jadi gambaran yang diberikan Yehezkiel ini adalah bahwa setiap orang akan menerima balasan secara adil sesuai perbuatannya (ay. 19-20).
Jadi Saudara, mari kita setia kepada Allah dan perintah-Nya dengan penuh tanggung jawab, yaitu hidup dalam kasih, kebenaran, dan keadilan. Akuilah segala pelanggaran dan dosa kita secara jujur di hadapan sesama dan Tuhan tanpa berdalih, dan marilah kita saling mengasihi sesama kita dengan cara saling mengingatkan untuk kebaikan dan kebenaran di dalam Tuhan; sebab firman Allah melalui nabi Yehezkiel berkata bahwa dosa itu ditanggung secara pribadi bukan diturunkan kepada generasi berikutnya. Selamat beribadah, Tuhan Yesus memberkati. Amin.
