RENUNGAN BULLETIN 24 MARET 2019
KASIH ITU TIDAK MENCARI KEUNTUNGAN DIRI SENDIRI (1 Kor.13:5 ; Luk.10:25-37)
Berdasarkan orang yang berpikir secara logis, masalah di dunia ini dapat disederhanakan dengan satu kalimat “Untung atau rugi.” Sebagian besar orang di dunia ini berusaha, bekerja dan berjerih lelah untuk mendapatkan keuntungan, jika perlu dengan cara yang tidak benar pun dilakukan demi keuntungan. Bahkan untuk hal-hal sepele, lihat saja orang-orang yang tidak mau mengantri, orang-orang yang melabrak lampu merah, tukang ojek (dan penumpangnya) yang berjalan melawan arah, orang-orang yang membuang sampah sembarangan, orang-orang yang mengambil dompet yang tercecer tanpa menggembalikan kepada yang punya, orang-orang yang korupsi dan masih banyak lagi yang lainnya. Mari kita melihat pengajaran firman Tuhan di bawah ini.
Tidak mencari keuntungan diri sendiri itu berarti tidak egois, tidak mementingkan diri sendiri. Artinya dalam setiap gerak langkah kita , diminta kita tidak hanya mencari sesuatu yang menguntungkan diri kita sendiri, tetapi juga harus mengingat kepentingan orang lain, seperti diajarkan firman Tuhan dalam 1 Korintis 10:24, “Jangan seorang pun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.” Dalam Lukas 10:25-37 dijelaskan suatu perumpamaan Tuhan Yesus yang menyatakan bahwa di saat ada seorang yang sedang bepergian dari Yerusalem ke Yerikho, di tengah jalan dirampok habis-habisan dan dianiaya sampai tidak bisa apa-apa sehingga tergeletak di pinggir jalan. Seorang imam lewat tetapi tidak mau menolong malahan hanya melewati saja orang tersebut. Demikian juga untuk seorang Lewi yang melewatinya sesudah itu. Orang ketiga yang lewat adalah seorang Samaria yang setelah melihat keadaan orang yang teraniaya tersebut menolong dan membawanya ke tempat penginapan terdekat. Perhatikan firman Tuhan ini, “Lalu datanglah seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.” (Luk. 10:33-34). Apa yang dilakukan oleh seorang Imam dan seorang Lewi diatas, jelas tidak mau repot dan tidak mau direpotkan. Dalam hatinya ia berpikir apa untungnya menolong orang tersebut, jangan-jangan malahan ia dituduh telah melakukan perampokan dan penganiayaan terhadap orang tersebut. Apa yang dilakukan seorang Imam dan seorang Lewi tersebut dapat dikategorikan mencari keuntungan diri atau mencari aman sendiri. Berbeda dengan perlakuan seorang Samaria yang secara cepat tergerak hati dan melakukan pertolongan menolong dengan tuntas orang yang menderita tersebut. Bahkan ia rela harus berjalan kaki demi orang yang menderita tersebut dapat naik keledai tunggangannya. Bukan hanya itu, ia pun membawanya ke penginapan terdekat dan meminta pihak penginapan merawat dengan menanggung semua pembiayaannya. Apa yang dilakukan seorang Samariaini dikategorikan tidak mencari keuntungan diri sendiri.
Orang Samaria itu telah mewujudnyatakan kasih yang ada pada dirinya dengan tindakan nyata. Kasih seperti inilah yang dikehendaki Tuhan agar umat-Nya melakukan dan mewujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan Yesus adalah teladan utama dalam hal ini. Apa yang dilakukan selama pelayanan-Nya kurang lebih tiga tahun di dunia ini menjadi bukti nyata hidup-Nya yang tidak mementingkan diri sendiri. Marilah kita teladani apa yang baik dan benar dari-Nya, marilah kita mewujudnyatakan kasih yang ada pada kita dengan tidak menguntungkan diri sendiri. Tuhan memberkati Amin.
