RENUNGAN BULLETIN 17 MARET 2019
KASIH ITU TIDAK MEMEGAHKAN DIRI SENDIRI (1Kor.13:4 ; Luk.18:9-14)
Memegahkan diri sendiri identik dengan kata congkak maupun sombong. Orang yang demikian yang memiliki sifat congkak dan sombong berarti sedang dan terus akan melakukan apa yang disebut kecongkakan atau kesombongan. Lihatlah, bacalah Lukas 18:9-14, kita akan menemukan pengajaran Tuhan Yesus tentang seorang Farisi yang sombong dan seorang pemungut cukai yang tidak sombong. Dari mana letak kesombongan orang Farisi tersebut? Hal ini terlihat dari ucapan doa yang dinaikkan kepada Tuhan, “ ……., ya Tuhan aku mengucap syukur kepada-Mu karena aku tidak sama dengan seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku“ (Luk. 18:11-12). Sementara pemungut cukai itu berdoa dengan kerendahan hatinya sambil memukul diri dan tidak berani menengadah ke langit, “…. Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini” (Luk. 18:13) Kita perlu mewaspadai ucapan doa kita, ucapan yang keluar dari mulut kita sehari-hari. Dari ucapan itu Tuhan dan bisa jadi manusia dapat menilai, sombongkah kita?, atau rendah hatikah kita?
Yang harus kita ingat benar-benar adalah siapakah pribadi pertama yang melakukan kesombongan, kecongkakan, yang memegahkan diri sendiri tersebut? Kesombongan pertama kali muncul ketika Iblis berusaha menempatkan tempat duduknya di tempat tertinggi. Karena keangkuhannya, ia menganggap dirinya tidak bergantung kepada Allah dan hendak menyamai Yang Mahatinggi, Allah pencipta semesta alam. (Yes. 14:12-14 : “Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putra Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa! Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak meyamai Yang Mahatinggi!”). Iblis yang telah jatuh dosa karena kecongkakannya, telah diusir Allah dari sorga, dalam pengembaraannya di bumi berusaha untuk mempengaruhi manusia agar memiliki sifat sombong yang ada padanya tersebut. Lihatlah apa yang dilakukan Iblis kepada manusia pertama Adam dan Hawa. Dalam percakapan mereka tentang buah yang tidak boleh dimakan menurut ketetapan Allah, kalau dimakan yang memakannya akan mati (Kej. 3:1-3), namun Iblis memutarbalikan ketetapan Allah itu dengan mangatakan, “…. sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” (Kej. 3:4-5). Kebenaran firman Tuhan ini mengingatkan kita agar kita menjauhkan diri dari memegahkan diri sendiri, karena hal itu adalah bentuk kesombongan, kecongkakan. Kita tahu kesombongan dan kecongkakan itu berasal dari Iblis, Iblis berusaha semaksimal mungkin untuk menggoda manusia agar jatuh ke dalam dosa dengan bujuk rayunya yang sangat berbahaya itu. Adam dan Hawa adalah korban pertama yang sangat berpengaruh bagi kita sekarang. Akibatnya seluruh umat manusia sekarang memiliki potensi besar untuk jatuh ke dalam dosa kesombongan ini.
Itulah sebabnya Tuhan Yesus sendiri mengelompokkan kesombongan itu sejajar dengan sikap dan tindakan yang berasal dari dalam hati yang jahat, “Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.(Mrk. 7:21-22). Selamat menjadi pribadi yang rendah hati, menjauhkan diri dari kesombongan. Tuhan Yesus memberkati, Amin.
