KASIH ITU SABAR
(1Kor.13:4; Kis. 7:54-60)
Ada orang yang cepat marah menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang menjadi harapannya atau istimasinya. Kemarahannya itu menunjukkan ketidaksabarannya. Menurut Kamus Bahasa Indonesia, sabar itu artinya tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati); tenang; tabah; tidak tergesa-gesa; tidak terburu nafsu. Semua itu mengarah kepada pengendalian diri dan tidak ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah dengan cara gegabah. Mari kita belajar apa yang dikatakan firman Tuhan dengan kesabaran itu.
Sabar adalah sifat Allah, berasal dari bahasa Ibrani ‘erekh’ dan dari bahasa Yunani ‘makrothumia’. Sifat ini bukanlah kepasifan, tetapi penguasaan atau pengekangan atau pengendalian diri Allah menghadapi perlawanan dan hal-hal lain yang menimbulkan amarah-Nya. Sifat ini hampir selalu dikaitkan dengan sifat kasih sayang dan kemurahan Allah terhadap orang berdosa dan pemberontak, yang sebenarnya patut kena murka-Nya. Sekalipun Kain telah membunuh adiknya, tetapi Tuhan melindungi Kain (Kej. 4:15), sekalipun Israel berkali-kali durhaka, Tuhan memulihkan (Hos. 11:8-9), sekalipun orang-orang Ninewe banyak berdosa, tetapi Tuhan menyelamatkan (Yun. 3), ketika di taman Getsemani Tuhan Yesus ditangkap , Ia tidak melawan padahal Ia mampu melawan dengan kuasa-Nya (Luk. 22:47-53), ketika Tuhan Yesus disalibkan dan menderita amat sangat, Ia tidak marah dan tidak bertindak kasar, tetapi malah mendoakan yang menganiaya-Nya supaya diampuni dosanya (Luk. 23:34). Panjang sabar Allah adalah kesempatan yang diberikan kepada umat manusia untuk bertobat, meninggalkan tabiat lamanya (Rm. 2:4; 2 Ptr. 3:9). Dalam kesabaran-Nya, Allah menunjukkan sifatnya yang Mahakasih, Mahamurah, dengan kesempatan-kesempatan yang diberikan-Nya kepada manusia untuk berubah, bertobat dan berbalik dari jalan yang jahat.
Anak-anak Tuhan wajib menunjukkan kesabaran seperti kesabaran Allah dalam hubungannya dengan orang lain, sebab panjang sabar adalah bagian yang tak terpisahkan dari buah Roh Kudus (Gal. 5:22). Mengapa demikian? Karena sifat sabar ini sangat berguna dalam kehidupan masyarakat khususnya dalam rangka berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang lain dalam lingkup masyarakat di mana kita berdomisili. Kesabaran sangat bermanfaat bagi kehidupan kita dalam menghindari perselisihan, perbedaan pendapat yang dapat meruncing sampai hal-hal yang tidak diperkenan Tuhan, juga dalam menyikapi perkara-perkara yang kita hadapi dengan bijak sehingga tidak mudah terprovakasi menjadi marah yang berlebihan. Memang untuk orang-orang tertentu tidak sulit dan bisa memiliki kesabaran nyaris seperti Tuhan Yesus, tetapi bagi sebagian orang yang memiliki temperamen yang keras dan ‘sumbu pendek’, diperlukan perjuangan yang tidak mudah. Dalam hal inilah kita selalu memerlukan firman Tuhan yang dapat menambah daya tahan kita, dapat meningkatkan penguasaan diri kita. Camkanlah firman Tuhan dalam Yakobius 1:2-4 ini, “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.”
Pada akhirnya yang penting bagi kita adalah kesudahannya, dan agar sampai pada kesudahannya kita beroleh selamat, diperlukan tahan uji, sabar menahan segala amarah, ingatlah selalu, “Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi orang yang bertahan samapai pada kesudahannya, ia akan selamat.” (Mark. 13:13). Selamat menjadi orang yang panjang sabar, selamat menjadi pribadi yang dapat memiliki pengendalian diri yang istimewa, selamat menikmati keselamatan pada kesudahannya. Tuhan Yesus memberkati, Amin.
