KASIH SEBAGAI BUAH NYATA HIDUP YANG BERBUAH
(1 Kor. 13:1-3)
Di depan rumah ada pohon durian yang cukup besar dan cukup subur. Diperkirakan umurnya lebih dari lima belas tahun. Menurut yang menanam dulu, pohon durian itu adalah durian papua yang bibitnya dibawa dari papua ketika dia ada kesempatan pergi ke papua. Namun sampai sekarang pohon tersebut hanya bisa berbunga lebat, tetapi tidak bisa menjadi buah. Oleh karena itu saya berpikir benarkah ini pohon durian papua? Saya mempertanyakan hal itu karena sampai sekarang belum jelas ciri khas durian papua ada dalam pohon durian itu. Demikian pula orang boleh saja berkoar-koar hidup dalam kasih Tuhan, hidup dalam tangan kasih Tuhan, tetapi apa benar demikian? Kebenarannya dapat dilihat dari buah yang dimunculkan dalam kehidupannya.
Dalam 1 Korintus 13:1-3 dinyatakan suatu pengajaran yang istimewa dan bisa dikatakan menjadi suatu pengajaran yang ekstrim yang terkadang sulit dimengerti. Dikatakan dalam ayat-ayat tersebut ada sekurang-kurangnya delapan hal yang dimiliki atau dilakukan orang yang kelihatannya baik sekali, tetapi jika orang tersebut tidak memiliki kasih maka semuanya itu adalah adalah seperti gong yang berkumandang dan seperti canang yang gemerincing, tidak berguna, tidak ada faedahnya. Ke delapan hal yang baik itu adalah:
- dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia,
- dapat berkata-kata dengan bahasa malaikat,
- mempunyai karunia untuk bernubuat,
- mengetahui segala rahasia,
- memiliki seluruh pengetahuan,
- memiliki iman yang dapat memindahkan gunung,
- membagi-bagikan seluruh yang ada padanya, dan
- bahkan menyerahkan tubuhnya untuk dibakar.
Mereka diumpamakan seperti gong yang berkumandang dan seperti canang yang gemerincing. Kita mengerti dalam konteks budaya Yahudi bahwa suara gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing itu adalah bunyi-bunyian yang berfungsi untuk penyembahan kepada dewa-dewa, mereka meyakini dengan bunyi-bunyian seperti itu mereka dapat mengundang kehadiran dan pertolongan dewa-dewa yang disembahnya itu. Alangkah tragisnya orang-orang yang melakukan perbuatan baik tersebut yang tanpa memiliki kasih, mereka disamakan dengan sedang melakukan penyembahan, pemujaan kepada dewa-dewa dan pemanggilan kepada berhala. Melihat hal tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa betapa pentingnya kasih nyata, kasih yang diwujudnyatakan dalam sikap dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.
Mendasarkan pada kebenaran firman Tuhan tersebut diatas, maka kita seharusnya menyadari betapa pentingnya kasih secara nyata melampaui segala sikap dan tindakan nyata apapun. Mengapa demikian? Hal ini perlu kita mengerti dengan sungguh-sungguh supaya apa yang kita lakukan dengan sikap dan perbuatan nyata tidak menjadi sia-sia. Sikap dan tindakan nyata sangat diperlukan dan merupakan bukti perhatian secara langsung maupun tidak langsung, tetapi semuanya itu akan sia-sia dan tidak ada gunanya jika tidak dilandasi dengan kasih yang nyata. Tanpa dilandasi kasih nyata maka apa yang kita lakukan dapat dimanfaatkan oleh sang penguasa kegelapan untuk menjatuhkan kita. Betapa licik si iblis menggoda manusia, betapa pintar si iblis tersebut menggunakan metoda yang dapat melemahkan pertahanan kita jika kita tidak jeli dalam menyikapi godaannya. Landasan kasih ini selayaknya merupakan roh dari setiap sikap dan perbuatan yang kita lakukan secara nyata. Selamat bersikap dan bertindak yang selalu dilandasi dengan kasih nyata demi buah nyata hidup yang berbuah. Tuhan Yesus memberkati, Amin.
