SINGKIRKAN BENALU KEHIDUPAN
(Yos. 7:22-26)
Dalam pertumbuhannya, suatu pohon besar maupun kecil terkadang harus menghadapi gangguan dari benalu. Benalu itu adalah tumbuhan parasit yang hidup pada pohon lain dengan “merampok” makanan yang dikirim dari akar ke daun melalui batang. Makanan yang diperoleh akar dikirim menuju daun untuk dimasak dengan bantuan sinar matahari dengan proses fotosintesis. Jika bahan makanan telah diambil sebagian oleh benalu maka yang sampai ke daun tidak penuh. Hal ini langsung maupun tidak langsung mempengaruhi dan mengurangi kebutuhan makanan dari tumbuhan tersebut. Akibatnya pasti pertumbuhannya terhambat apalagi bunga dan buahnya mengalami masalah.
Di dalam perkembangan kehidupan rohani kita untuk mencapai buah yang baik dan enak rasanya, terkadang juga mengalami hambatan oleh karena benalu kehidupan rohani kita. Lihatlah Kitab Yosua 7:1-26, di sana diceritakan Yosua atas perintah Tuhan menyuruh anak buahnya dari Yerikho untuk memata-matai kota kecil Ai yakni kota yang terletak di sebelah timur Betel (ayat 2). Setelah utusan itu menyelesaikan tugasnya dan melaporkan bahwa tidak perlu banyak orang untuk mengalahkan Ai karena penduduk Ai sedikit (ayat 3). Kemudian Yosua mengirim hanya kira-kira tiga ribu orang berperang menyerbu Ai. Namun di luar dugaan, orang Ai mampu bertahan dan mengusir pasukan Israel, mengejar-ngejarnya sampai di Syebarim, bahkan mampu membunuh tiga puluh enam orang Israel (ayat 4-5). Yosua marah dan berduka atas semua itu, lalu bersama dengan tua-tua orang Israel sujud mukanya sampai tanah menghadap Tuhan di depan tabut Tuhan. Yosua mengeluhkan mengapa semua ini terjadi (ayat 6-9). Tuhan pun mendengar dan menjawab keluhan Yosua dan mengatakan bahwa ada orang-orang Israel yang tidak taat, melanggar perjanjian Tuhan yang telah Tuhan perintahkan kepada Israel, yaitu mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan, mereka mencuri dan menyembunyikan di antara barang-barangnya. Tuhan meminta Yosua untuk mencari dan menemukan siapa yang mencurinya itu serta menghukum mereka (ayat 10-15). Akhirnya ditemukan yang mencuri itu adalah Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah dari suku Yehuda, dan barang-barang yang dicurinya itu adalah jubah yang indah buatan Sinear, dua ratus syikal perak dan sebatang emas berat lima puluh syikal (ayat 16-21). Dengan demikain telah ditemukan benalu kehidupan masyarakat Israel yang membuat mereka dikalahkan orang Ai. Selanjutnya Tuhan memerintahkan penghukuman sesuai dengan hukum saat itu yakni dilempari batu sampai mati di lembah Akhor (ayat 22-26).
Benalu kehidupan tidak hanya terjadi pada masa lalu, masa kini pun dapat terjadi dalam kehidupan rohani semua orang. Dalam hal ini diperlukan kesadaran mutlak setiap anak-anak Tuhan untuk mewaspadainya. Kecenderungan untuk memiliki sesuatu yang bukan haknya sering kita lakukan manakala terhampar di depan kita, dengan alasan tidak ada yang memiliki, saya menemukan barang yang tak bertuan, dan sebagainya. Kecenderungan untuk menang sendiri dalam menghadapi berbagai persoalan dengan orang lain juga dapat menjadi benalu yang harus kita singkirkan dari hidup kita. Sifat ego kita kalau tidak kita kendalikan, disamping dapat memakan korban orang lain dimungkinkan juga diri sendiri menjadi korbannya. Keserakahan demi menimbun harta untuk diri sendiri juga sangat dimungkinkan menjadi benalu dalam hidup kita. Ingatlah bahwa dalam setiap berkat yang Tuhan Allah limpahkan kepada kita sepuluh persen adalah hak Tuhan, harus kita kembalikan kepada-Nya dalam bentuk persepuluhan. Di dalam berkat Tuhan itu juga ada sebagian hak orang lain dalam bentuk rasa sosial kita bagi yang membutuhkan yang besarnya sesuai dengan kerelaan kita. Selamat menikmati berkat Allah dan selamat menyingkirkan setiap benalu kehidupan rohani kita sehingga hidup kita dapat bertumbuh dan berbuah yang enak rasanya bagi kemuliaan nama Tuhan. TUhan Yesus memberkati, Amin.
