Versi Word dapat diunduh di : Doa Puasa 21 Hari 2018 – Hari Ke 6
Hari Ke 6 (Lukas 4 : 42-43)
Keputusan yang paling sulit biasanya bukanlah tentang apa yang dianggap baik ataupun buruk. Namun biasanya keputusan yang tersulit adalah memilih antara apa yang baik, lebih baik dan terbaik. Adalah sangat penting untuk dapat mendengar suara Tuhan dengan jelas ,saat menghadapi keputusan penting. Yesus secara teratur menjauhkan diri dari dunia ,untuk mendengar suara Tuhan. Saat kebangkitan rohani ini pun adalah tentang melepaskan diri dari dunia, sehingga kita dapat mendengar suara Tuhan.
Berbagai hal dalam hidup ini akan coba memenuhi pikiran kita sehingga seolah-olah akan mengeluarkan Tuhan dari dalam hidup Anda. Yesus menghadapi tekanan dari orang banyak, dan Ia harus memilih antara berbuat baik atau melakukan kehendak Tuhan. Orang banyak terus-menerus menarik Yesus untuk menyembuhkan mereka atau melakukan mujizat lainnya. Apa yang mungkin akan terjadi jika Yesus mendengarkan suara orang banyak? Yesus mungkin dapat saja memilih untuk tetap tinggal di antara orang banyak untuk alasan yang sangat baik, yaitu melakuan penyembuhan, namun jika Ia melakukannya, maka berarti Ia telah kehilangan kesempatan untuk menjalankan tujuan utamanya untuk mengkhotbahkan kerajaan Allah bagi umat manusia yang terhilang. Yesus mengerti bahwa dengan begitu banyak kebutuhan di mana-mana, Ia harus mendengar suara Bapa-Nya, atau sebaliknya, Dia secara keliru akan memilih yang baik alih-alih melakukan hal-hal yang sebenarnya lebih dikehendaki Bapa untuk dilakukan. Hal seperti itulah yang akan terjadi dalam hidup kita , jika kita tidak sungguh-sungguh mencari hadirat Tuhan dan mendengar suara-Nya yang jauh lebih penting dibanding mematuhi suara orang banyak.
Di dalam kitab injil Lukas 4 : 42, kita melihat bahwa meskipun terdapat desakan suara orang banyak, namun Yesus memilih untuk berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Mencari kehendak dan hadirat Tuhan dengan menjauhkan diri sejenak dari keramaian ke tempat yang sunyi, akan membuat kita kembali berfokus kepada rencana Tuhan bagi diri kita.
Mendengar suara orang banyak tidak dapat menjawab pertanyaan, “Mengapa kamu ada di sini?” Namun ketika Anda mendengar suara Tuhan, Anda akan mulai memahami tujuan-Nya untuk diri Anda dan membuat Anda sungguh yakin tentang keberadaan diri Anda di dunia ini. Pada saat itulah kemudian Anda dapat memprioritaskan hidup di sekitar tujuan tersebut; ini akan memberi ruang untuk sedikit membebaskan diri dan mempermudah hidup Anda. Saat Anda mulai menyadari tujuan Tuhan bagi hidup Anda, maka Anda akan mulai memahami sesuatu yang mendasar tentang diri Anda; Anda tidak berada di bumi ini hanya untuk eksis saja, tetapi-coba tebak? -Anda diutus Tuhan untuk melakukan sesuatu! Seluruh hidup Anda akan berubah saat Anda mengerti bahwa Anda diutus ke dunia ini oleh Tuhan untuk melakukan sesuatu.
Saya tidak tahu tugas spesifik Anda dalam hal karir, hubungan, atau pun hal-hal lainnya. Namun kita mengerti bahwa kita semua telah dipanggil untuk menjadi saksi bagi Yesus. Mari kita masing-masing memperhatikan aktivitas normal yang biasanya kita lakukan sehari-hari, dan lihatlah serangkaian kegiatan tersebut sebagai kesempatan untuk dapat menjadi saksi bagi Yesus. Saat Anda berpuasa, carilah cara untuk dapat melayani dan memberi dorongan bagi orang lain di tempat kerja, di rumah, di lingkungan Anda atau pun di gereja.
.
(Disarikan dengan tambahan studi Alkitab dari versi asli “Awakening : A New Approach to Faith, Fasting, and Spiritual Freedom by Stovall Weems” (pp. 82-84) )
Lagu Pujian :
NP
NP 295 Pimpinlah HambaMu
(O Master, Let Me Walk with Thee)
(Washington Gladden, 1879; H. Percy Smith, 1874)
1=D 3/4
Versi 1
1
Tuhan, semoga jalanku
Turut setiap langkahMu;
Pimpinlah hambaMu tahan
Seg’nap godaan dan beban.
2
B’ri aku hati yang bersih;
B’rilah iman penuh kasih,
Untuk memimpin yang sesat
Serta menghibur yang penat.
3
B’rikanlah aku tawakal,
Sabar mengabdi tak kesal,
Kerja tekun, iman teguh,
Bertahan dan menang penuh.
4
Dalam cahaya harapan
Yang menerangi di depan,
Dalam sentosa kurniaMu,
Pimpinlah, Tuhan, hambaMu! Amin.
Share
Nyanyian Pujian (c) Lembaga Literatur Baptis
