Bacaan Alkitab : I Samuel 15 – 16
(Kurun waktu : diperkirakan 1.350 – 1.050 S.M.)
”Mengikuti Perintah”
download versi word file: Renungan Harian Tgl 14 April 2017
Apakah Anda pernah membuat model prototype mesin atau memperbaiki sebuah kendaraan, menjahit gaun yang baru ataupun juga membuat hidangan yang baru untuk makan malam? Apa yang terjadi jika Anda tidak mengikuti instruksi, buku petunjuk reparasi, pola dasar pakaian ataupun resep masakan dengan benar dan baik? Anda akan menghadapi resiko bahwa hasilnya akan sangat berbeda dengan yang diharapkan semula, dan bahkan mungkin saja Anda dapat gagal melakukannya. Kita harus belajar untuk tidak melakukannya dengan keangkuhan dan berpikir bahwa kita telah tahu segalanya. Kadang-kadang kita harus belajar sungguh-sungguh mengikuti instruksi yang ada dengan sangat tepat. Bagi beberapa orang mungkin perintah-perintah tersebut akan sangat ketat, tetapi akan memberikan keberhasilan yang terbaik.
Raja Saul tidak mengikuti segala perintah TUHAN dengan baik. Ia mengerti dengan baik tetapi tidak mau mendengarkan. Seperti yang telah kita ketahui di dalam Renungan Harian yang lalu, di Gilgal Saul telah gagal menantikan Samuel dengan sabar untuk mempersembahkan sebuah korban bakaran bagi TUHAN dan memperoleh berkat TUHAN atas pertempuran yang dihadapinya. Sebaliknya, karena melihat pasukannya tercerai-berai ketakutan, dan meskipun ia bukan seorang Lewi, tetapi Saul mempersembahkan korban bakarannya sendiri. Ia telah bertindak dengan bodoh. Ketika Samuel datang, ia berkata kepada Saul bahwa oleh karena Saul telah melakukan kesalahan tersebut, maka kerajaannya tidak akan bertahan ( I Samuel 13 ; 7 – 14). Renungan Harian hari ini akan menunjukkan insiden lainnya bahwa Saul tidak mengikuti perintah-perintah TUHAN yang diberikan kepadanya. Inilah perintah yang diberikan kepada Saul, sama seperti instruksi yang telah diberikan kepada pemimpin Israel yang terdahulu (Keluaran 17 : 8-14; Ulangan 25 : 17-19) :
Inilah yang difirmankan TUHAN Yang Maha Kuasa : “(15:2) Beginilah firman TUHAN semesta alam: Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir. (15:3) Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai.” ( I Samuel 15 : 2 – 3).
“(15:9) Tetapi Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu. Tetapi segala hewan yang tidak berharga dan yang buruk, itulah yang ditumpas mereka. (15:10) Lalu datanglah firman TUHAN kepada Samuel, demikian: (15:11) “Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku.” Maka sakit hatilah Samuel dan ia berseru-seru kepada TUHAN semalam-malaman.” ( I Samuel 15 : 9-11)
Saul tidak hanya gagal menjalankan segala perintah Allah sepenuhnya, tetapi ia juga menjadi terlalu bangga dengan dirinya berkenaan dengan kemenangan besar yang diperolehnya, dan ia mendirikan sebuah tugu peringatan bagi dirinya sendiri ( I Samuel 15 : 12). Ketika Saul ditegur oleh Samuel, ia mencoba membela dirinya dengan berkata bahwa ia telah mengikuti perintah Allah. Ia telah telah membunuh orang Amalek beserta segala hewan ternak dan hak milik mereka terkecuali bagian-bagian yang terbaik, dan tentu saja ‘piala kemenangan bagi Saul’, yaitu raja orang Amalek yang dibiarkannya hidup. Saul bahkan tampaknya mencoba memberi alasan yang baik untuk tidak sepenuhnya mematuhi perintah TUHAN. Saul berkata bahwa ia telah menyelamatkan hewan ternak terbaik sebagai korban persembahan bagi TUHAN! Sungguh suatu sanjungan, tetapi kita tahu bahwa hal tersebut tidak benar; ketika kemudian ia mengakui segala dosanya, ia mengakui hal yang sesungguhnya: ia takut kepada rakyat dan pasukannya, sehingga ia mengabulkan dan membiarkan mereka melakukan apa yang diinginkan atas barang-barang dan hewan ternak hasil jarahan tersebut (I Samuel 15 : 24). Mungkin saja dengan melakukan hal tersebut, ia ingin menjaga popularitasnya di kalangan rakyat.
Sebagai tanggapan atas alasan-alasan Saul tersebut, Samuel berkata:
“(15:22) Tetapi jawab Samuel: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. (15:23) Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja.” ( I Samuel 15 : 22-23).
Mengapa Allah tidak mengijinkan Saul dan para pasukannya untuk menyimpan bagi mereka segala barang jarahan dan hewan ternak yang baik milik musuh mereka? Tampaknya memang seperti suatu pemborosan dan kesia-siaan untuk memusnahkan semua yang baik tersebut. Tetapi seperti yang telah disebutkan di atas di dalam kitab I Samuel 15 : 2-3, Allah sangat murka terhadap orang Amalek, karena mereka telah menyerang dan menghadang ummat Israel ketika mereka berada di padang gurun. Allah menghendaki agar orang Amalek itu dimusnahkan seluruhnya. Mereka telah diserahkan untuk dibinasakan. Bahkan jika tidak demikian hal nya, bangsa Amalek adalah salah satu bangsa yang berdiam dekat dengan tanah Israel, yang telah diperintahkan Allah agar dimusnahkan sepenuhnya, oleh karena pengaruh yang dapat ditimbulkan oleh hidup mereka yang jahat (Ulangan 20 : 16-18). Dapatkah Anda tetap mematuhi Allah, meskipun jika tampaknya tidak ada keuntungannya bagi Anda untuk melakukan hal tersebut? Allah sanggup memberikan upah bagi Anda atas ketaatan tersebut dalam jumlah yang jauh lebih bear daripada sekedar ‘imbalan’ yang mungkin Anda peroleh di dunia ini.
Berlawanan dengan hal yang dilakukan Raja Saul, Samuel, sebagai nabi dan juga hakim bagi Israel, mematuhi Allah sepenuhnya. Ia tetap taat kepada TUHAN meskipun hal tersebut dapat menimbulkan bahaya yang besar terhadap dirinya sendiri.
“(16:1) Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku.” (16:2) Tetapi Samuel berkata: “Bagaimana mungkin aku pergi? Jika Saul mendengarnya, ia akan membunuh aku.” Firman TUHAN: “Bawalah seekor lembu muda dan katakan: Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN. (16:3) Kemudian undanglah Isai ke upacara pengorbanan itu, lalu Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang harus kauperbuat. Urapilah bagi-Ku orang yang akan Kusebut kepadamu.” (I Samuel 16 : 1 – 3).
Adalah hal yang penting untuk mematuhi Allah sepenuhnya. Karena Saul tidak mematuhi Allah sepenuhnyak, maka Allah telah memilih laki-laki lainnya untuk menjadi raja. Apakah Allah juga akan melakukan hal yang sama kepada kita? Kita bukanlah raja Israel, tetapi ketika Allah memberi suatu tugas kepada kita dan kita telah gagal mematuhiNya, Allah dapat saja mengambil kembali berkat-berkatNya atas kita, atau bahkan menggantikan kita.
Ketika anak-anak Isai telah dibawa datang ke hadapan Samuel, Samuel tadinya berpikir bahwa anak Isai yang sulung, Eliab, akan menjadi pilihan yang baik untuk menjadi raja. Tetapi Allah berfirman kepadanya :
“(16:7) Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” ( I Samuel 16 : 7)
Semua anak-anak Isai yang hadir telah lewat ke hadapan Samuel, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang dipilih Allah. Akhirnya Samuel menanyakan Isai, apakah semua anak-anak Isai telah dibawa ke hadapannya. Lalu Isai menjawab: “tidak”; anak Isai yang bungsu sedang berada di padang rumput menjaga domba-domba milik mereka. Daud, anak gembala yang dipandang sebelah mata, adalah pilihan Allah untuk menjadi raja atas Israel. Lalu dihadapan seluruh saudara-saudaranya, Samuel mengurapi Daud untuk menjadi raja (mungkin saja kemudian hal ini menyebabkan permusuhan dengan saudara-saudara laki-lakinya).
Daud bukan saja seorang pahlawan yang gagah berani ( I Samuel 16 : 18), tetapi ia juga seorang pemusik yang sangat berbakat. Roh TUHAN yang tadinya berada dalam diri Saul, kini telah meninggalkannya, dan turun atas Daud. Setiap saat ketika suatu roh jahat (kata sifat dari ‘roh jahat’ disini tidak selalu berarti roh yang berasal dari Iblis, tetapi dapat juga berarti sesuatu yang menimbulkan penyakit/ penderitaan) yang diijinkan TUHAN, datang menghinggapi Saul, lalu dengan memainkan music yang indah melalui permainan harpa nya, Daud akan menenangkan hati Saul dan menyembuhkan penyakitnya. Dengan ke Maha-Kuasaan dan pemeliharaanNya yang sempurna, Allah bekerja di dalam hidup kita untuk mendatangkan kebaikan bagi diri kita dan juga untuk kemuliaan nama TUHAN. Karena roh jahat tersebut membuat Saul menderita, maka kehadiran Daud dan talentanya untuk bermain harpa telah meringankan penderitaan Saul dan juga membuat Daud memiliki kesempatan untuk membiasakan dirinya belajar tentang hal-hal yang biasanya dilakukan seorang raja. Allah juga bekerja di dalam hidup kita untuk mendatangkan kebaikan bagi diri kita dan juga untuk memuliakan namaNya.
Untuk Direnungkan dan Dilakukan :
- Allah adalah Allah yang bersifat adil, dan Ia akan menuntut balas atas orang-orang yang telah menganiaya ummatNya ;
- Ketika Allah memberi tugas kepada kita dan kita gagal mematuhiNya, Allah dapat saja mengambil berkat-berkatNya dari diri kita dan bahkan menggantikan kita dan memberi tugas tersebut kepada orang lain ;
- Kita harus patuh kepada Allah dengan sepenuhnya, bahkan ketika kita tidak mengerti alasannya dan kita melihat bahwa melakukan hal lainnya, menurut kita akan lebih baik. Meskipun kadang-kadang kelihatannya sulit untuk melakukannya, kita harus menantikan segala pemeliharaan dan upah dari Allah, sebagai ganti dari menghargai jasa kita sendiri ;
- Jika ummat Kristiani belajar untuk percaya dan patuh sepenuhnya kepada TUHAN, maka Allah akan memberikan upahNya pada waktuNya nanti ;
- “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” ( I Samuel 16 : 7b). Allah melihat ke dalam hati kita juga. Apakah kita sungguh-sungguh mengenal Allah? Apakah kita sedang mematuhiNya?
Pertanyaan Untuk Diskusi :
- Hari ini kita belajar dari kitab I Samuel 15 : 22-23 bahwa ‘ketaatan kepada TUHAN adalah lebih baik dari pada sekedar persembahan’… apakah hal ini masih berlaku juga pada masa kini? Bagaimanakah dengan diri kita : apakah kita lebih tepat disebut sebagai orang-orang yang patuh kepada Allah, atau lebih kepada orang-orang yang hanya suka memberi persembahan saja kepada TUHAN? Apakah kita percaya bahwa sikap hati yang memberontak terhadap TUHAN adalah sama buruknya dengan dosa pertenungan, dan ketegaran hati adalah sama buruknya dengan penyembahan berhala? Perbaikan apakah di dalam sikap hidup kita, sehubungan dengan hal tersebut, yang perlu kita lakukan bagi TUHAN?
Ayat Hafalan Hari Ini :
- I Samuel 15 : 22 “Tetapi jawab Samuel: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.”

“Selamat Ibadah Jum’at Agung” bagi ytk. Bapak/Ibu/Sdr di dalam TUHAN,
Kami mohon maaf atas keterlambatan penayangan renungan harian beberapa hari ini disebabkan oleh kendala internal, namun kami harapkan agar kita semua tetap bersemangat untuk terus bertumbuh di dalam Saat Teduh dan pembacaan Firman Tuhan seluruhnya sepanjang tahun 2017 ini. Kami tunggu juga sharing nya atas pengalaman hidup yang indah bersama TUHAN. Amin dan Tuhan Yesus memberkati.