Bacaan Alkitab : I Samuel 8 : 1 – I Samuel 9 : 2
(Kurun waktu : diperkirakan 1.350 – 1.050 S.M.)
”Tunggu! Hitunglah Dahulu Pengorbanannya”
download versi word file: Renungan Harian Tgl 11 April 2017
Kadang-kadang kita menghendaki sesuatu hanya karena semua tetangga atau teman kita tampaknya sudah memilikinya juga. Jadi, apakah kita tetap akan berkeras mengingininya dan membelinya tidak peduli berapa besar pengorbanan yang harus dibuat? Hal ini disebut suatu kebodohan, tetapi memang itulah yang sering dilakukan oleh kebanyakan dari kita. Kita tidak puas dengan hal-hal yang baik yang telah diberikan Allah kepada kita, dan oleh karenanya maka kita hendak membeli hal-hal yang masih kita inginkan tadi. Tetapi segera sesudahnya, ternyata kita baru tahu bahwa hal-hal tersebut tidak membuat hidup kita menjadi semakin baik, dan untuk beberapa hal malah membuat hidup kita menjadi lebih buruk. Hal ini disebut ‘penyesalan pembeli’. Mungkin hal-hal yang kita inginkan bukan berupa benda/ sesuatu barang, tetapi mungkin saja merupakan pelatih, manager, politisi, pendeta, atau bahkan pasangan hidup yang baru. Hal-hal yang sama dapat diaplikasikan dalam kondisi di atas. Kita perlu belajar menghitung pengorbanan yang harus dilakukan untuk keputusan-keputusan yang kita buat. Hal terbaik yang seharusnya dilakukan adalah menantikan TUHAN dan tidak tergesa-gesa membuat keputusan. Allah memberikan yang terbaik bagi orang-orang yang mau menanti-nantikan Dia.
Pada masa hidup Samuel, Israel memiliki hakim-hakim untuk memimpin mereka. Hakim-Hakim adalah para pemimpin moral dan militer bagi hidup mereka. Tetapi Israel masih menghendaki adanya seorang raja yang memimpin mereka. Hal apakah yang mendorong ummat Israel untuk menghendaki seorang raja? Ketika usia Samuel sudah lanjut, anak-anaknya berlaku tidak baik dan membengkokkan keadilan, serta tidak mengikuti teladan yang diberikan Samuel (I Samuel 8 : 1 – 5; I Samuel 12 : 12). Selain itu, Nahas, Raja orang Amon sudah bersiap-siap di perbatasan wilayah Isarel untuk menyerang ummat Israel. Maka mereka menghendaki adanya seorang raja yang dapat memimpin mereka berperang, sama seperti yang dilakukan bangsa-bangsa lain di sekitar wilayah mereka.
Samuel menjadi kesal dengan permohonan mereka tersebut dan bahkan menganggapnya sama seperti penghinaan atas dirinya juga ( I Samuel 8 : 6 – 9). Lalu TUHAN berfirman kepada Samuel bahwa bukan dirinya yang ditolak oleh ummat Israel tersebut, melainkan TUHAN. Bagaimana kiranya perasaan TUHAN atas penolakan Israel tersebut? Jika kita dapat mengungkapkan perasaan Allah dan firmanNya, mungkin reaksi TUHAN dapat digambarkan seperti ini : “Setelah semua yang telah Kuperbuat bagimu, Israel, inikah ucapan terima kasih yang Kuterima?”
Meskipun perasaan Allah terluka, TUHAN berfirman kepada Samuel bahwa bagaimanapun, Ia akan mengabulkan permohonan Israel untuk seorang raja bagi mereka. Allah tidak langsung menghukum Israel atas permohonan mereka tersebut, melainkan Ia menunda saat penghakiman atas Israel. Allah mengijinkan Israel untuk menyadari tindakan mereka tersebut, bahwa ketergantungan pada seorang manusia sebagai raja atas diri mereka, ternyata tidak dapat menyelamatkan jiwa mereka. Ia juga mengijinkan Israel memiliki seorang manusia sebagai raja, sehingga mereka akan melihat kebutuhan ummat Israel akan seorang raja yang sejati yang tidak akan bertindak dengan lalim (Daud). Kemudian, sebagai pemenuhan nubuatan Musa (Ulangan 18 : 15) dan janji yang diberikan kepada Raja Daud ( 2 Samuel 7 : 16), Yesus akan menjadi Raja yang Kekal bagi Israel dengan pemerintahan yang abadi (Yesaya 44 : 6; Zakaria 14 : 9, Wahyu 1 : 5 – 6). Inilah yang dapat kita pelajari : membiarkan orang yang terlalu keras kepala dan tidak mau mendengarkan nasihat orang lain, untuk mencoba menjalankan keinginannya tersebut dan mengalami kegagalan, mungkin merupakan satu-satunya cara agar mereka dapat belajar.
Apakah bahayanya memiliki seorang manusia sebagai raja? Yang pertama, mungkin ia tidak mau mengikuti dan menjalankan perintah TUHAN, dan dapat bertindak semena-mena terhadap rakyatnya. Keturunannya mungkin juga tidak akan bertindak sebagai penguasa yang lebih baik dari dia; dengan demikian pengaruh seorang raja yang tidak baik akan dapat berlangsung sampai beberapa generasi. Hal yang ke dua, ada bahaya untuk mengandalkan raja dan kekuatan pasukannya, dan bukannya menaruh percaya kepada TUHAN. Hal yang ke tiga, raja akan mengenakan pajak yang besar dan mengambil segala sesuatu yang terbaik yang dimiliki rakyat. Yang ke empat, raja dapat juga memimpin rakyatnya untuk jatuh ke dalam dosa, serta melakukan kesepakatan-kesepakatan yang tidak kudus, yang berakibat pada hancurnya bangsa tersebut. Maka setiap orang , dan khususnya ummat Kristiani, harus menghitung baik-baik pengorbanan yang harus dilakukan, sebelum menjalankan rencana mereka tersebut.
Meskipun Allah menjadi kesal atas permohonan Israel akan seorang raja, dengan wibawaNya yang dapat mengetahui hal-hal yang akan terjadi di masa mendatang, kemudian Ia memberikan petunjuk-petunjuk bagi ummat Israel agar mereka dapat memiliki kesempatan untuk meraih sukses (Ulangan 17 : 14 – 20). Ia memberikan peraturan-peraturan yang ketat kepada ummat Israel, sehingga setiap raja mereka akan bersandar kepada TUHAN sehingga pemerintahan kerajaan mereka dapat bertahan.
Saul menjadi raja Israel yang pertama dan berasal dari suku Benyamin. Ia berperawakan tinggi dan rupanya sangat mengesankan dan tampan ( I Samuel 9 : 1 – 2). Apakah semuanya itu merupakan karakteristik yang baik sebagai raja bagi Israel? Ummat Israel berpikiran demikian, tetapi hal tersebut menunjukkan sifat mereka yang tidak dewasa dan berjiwa pemberontak. Seandainya saja mereka mau menantikan waktu terbaik dari TUHAN, Allah akan memberikan bagi mereka seorang raja yang pertama atas Israel, yaitu seorang yang hatinya mencari dan menghormati TUHAN ( Raja Daud). Namun sayangnya, ummat Israel terlebih dahulu harus mengalami hal-hal yang mempermalukan diri mereka. Apakah kita mau menaruh kepercayaan kita kepada Allah, atau sebaliknya, kepada diri kita sendiri? Maukah kita menantikan pimpinan Allah, atau jika tidak, berarti kita akan mengambil resiko membuat pilihan-pilihan yang buruk dan akibatnya harus menderita dan dipermalukan?
Untuk Direnungkan dan Dilakukan :
Kita harus belajar menghitung segala pengorbanan yang harus dilakukan demi menjalankan keputusan-keputusan yang kita kehendaki ;
Hal yang terbaik adalah untuk menantikan pimpinan TUHAN dan tidak bertindak dengan tergesa-gesar. Allah memberikan yang terbaik bagi mereka yang mau menantikanNya ;
Membiarkan orang-orang yang terlalu keras kepala dan tidak mau mendengar nasihat orang lain, untuk mengambil kesempatan mencoba dan kemudian mengalami kegagalan, mungkin adalah satu-satunya cara terbaik untuk membuat mereka belajar ;
Berdoalah dan nantikanlah pimpinan Allah, atau jika Anda tidak mau melakukannya, ambillah resiko untuk membuat pilihan-pilihan yang buruk dan akibatnya Anda harus mengalami penderitaan, dipermalukan, mengalami kerugian ataupun kekalahan ;
Kepada siapakah kita menaruh kepercayaan dan harapan : kepada manusia, ataukah kepada Allah? Allah dapat memberikan pengampunan, kedamaian, kehidupan rohani yang baru, dan Ia juga akan selalu menyertai dan menolong Anda.
Pertanyaan Untuk Diskusi :
Setelah mempelajari bahan Renungan Harian hari ini : apakah sebenarnya alasan Israel untuk meminta seorang raja bagi mereka? Apakah kitapun dapat melihat bahwa pada masa kinipun banyak hal, ataupun orang-orang, yang dijadikan sebagai ‘raja-raja’ dalam hidup sehari-hari? Siapakah raja yang sesungguhnya di dalam hidup kita? Dan bagaimanakah cara kita menunjukkan tentang raja di dalam hidup kita tersebut? Jelaskanlah;
Ayat Hafalan Hari Ini :
Mazmur 33 : 20 “Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan perisai kita!”

Shalom, jadikanlah Yesus, Raja didlm hatimu, dgn buka hatil ucap doa, Yesus masuk hatiku, maka ada Natal di hatimu,kerajaan Allah hadir diantara kita, tanpa tanda2 lahiriah, lukas17:20-21. Genapi Firman Tuhan, Gbu all Yesus sang Raja di hati kita akan memerintah aktivitas umatNya! Demikianlah kerajaan Allah meluas di bumi. Amin.