Bacaan Alkitab : Ulangan 32 : 48 – Yosua 2 : 24
(Kurun waktu : diperkirakan 1.444 – 1.406 S.M.)
“Mengalihkan Kepemimpinan”
download versi word file : Renungan Harian Tgl 24 Maret
Kepemimpinan yang baru biasanya memberi harapan baru pula. Namun demikian kadang-kadang pergantian kepemimpinan dapat menjadi sulit dan tidak menyenangkan; seringkali tergantung dari bagaimana administrasi yang sekarang dapat menanganinya. Setiap pemimpin memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing, dan tiap pemimpin memiliki kepribadian dan pendekatan kepemimpinan yang berbeda-beda. Jika kita dapat mengambil contoh dari Musa, maka kita dapat belajar tentang cara-cara yang bijak dan penuh kasih untuk mengalihkan kepemimpinan.
Musa mengetahui bahwa waktunya telah mendekati akhir masa hidupnya dan oleh sebab itu maka ia meminta kepada Allah agar memberikan pemimpin lainnya yang dapat menggembalakan ummat Israel. Pemimpin berikutnya haruslah seseorang yang dipilih Allah, dan tidak perlu seseorang yang paling dikenal ataupun yang paling ahli melakukan tugasnya. Yosua adalah pemimpin yang dipilih oleh Allah dan juga dikenal baik oleh Musa. Jika kita telah menjadi seorang pemimpin yang baik, maka orang lain akan menghormati pilihan kita untuk memilih pemimpin berikutnya yang akan menggantikan kita.
Yosua telah disiapkan untuk memegang kepemimpinan atas ummat Israel. Ia adalah asisten terdekat bagi Musa. Ketika Musa meninggalkan kemah pertemuan di padang gurun Sinai, Yosua tetap tinggal di kemah (Keluaran 33 : 11). Meskipun tidak terdapat catatan di Alkitab, tetapi mungkin saja Allah telah berkomunikasi kepada Yosua pada saat ia menantikan Musa tersebut. Yosua juga juga dipilih TUHAN untuk memimpin pasukan Israel berperang dan ia telah melakukan tugasnya dengan penuh keberhasilan (Keluaran 17 : 9-14). Siapa lagikah yang paling cakap memimpin kaum Israel untuk berperang, selain dari orang yang ingin tetap tinggal berdekat dengan Allah dan yang memiliki catatan keberhasilan di bidang militer? Ketika kedua belas mata-mata pergi ke tanah Kanaan untuk menyelidiki keadaan tanah dan orang yang mendiami Kanaan, hanya Kaleb dan Yosua yang menyatakan iman mereka di dalam TUHAN bahwa Ia akan membawa ummatNya meraih kemenangan dalam pertempuran tersebut (Bilangan 14 : 6 – 9; Bilangan 32 : 8 -12). Pemimpin rohani yang handal memiliki kedekatan iman dengan Allah. Di hadapan ummat Israel lainnya, Musa pun telah menyatakan Yosua sebagai pemimpin yang baru dan Musa memberi dorongan kepadanya. Kemudian Musa juga memberikan sebagian dari otoritas dan kewibawaannya kepada Yosua. Maka Yosua pun diminta Musa untuk mengikut TUHAN dengan sepenuh hati dan memimpin ummat Israel dengan semangat keberanian dari Allah. Praktek berkarya langsung di lapangan, dapat membantu kita untuk menyiapkan para pemimpin. Kita perlu memberikan arahan dan dorongan yang diperlukan, serta kewenangan bagi para calon pemimpin masa depan.
Musa meninggalkan tampuk kepemimpinannya dengan elegant. Ia memberkati suku-suku Israel yang telah dipimpinnya selama lebih dari empat puluh tahun. Meskipun ummat Israel telah menyebabkan banyak kesulitan dan beban bagi kepemimpinannya, tetapi Musa tetap memberkati mereka dengan penuh kasih. Ia sungguh-sungguh memperhatikan keperluan ummat Israel dan mengasihi mereka lebih daripada dirinya sendiri. Kita tidak tahu pasti tentang arti berkat-berkat yang diberikan Musa bagi ummat Israel di dalam kitab Ulangan 33, dan bagi kita kelihatannya berkat-berkat tersebut kurang relevant, tetapi kita dapat belajar tentang prinsip kepemimpinan secara umum, melalui berkat-berkat Musa tersebut : para pemimpin usaha, pemimpin gereja dan pemimpin organisasi lainnya perlu bersikap penuh kasih dan elegant pada saat melepaskan jabatannya. Kita harus melupakan kesalahan dan luka masa lalu. Kita perlu menyatakan keyakinan kita pada kepemimpinan yang baru. memberikan nama baik bagi orang lain dan meningkatkan reputasi ummat Israel serta memberkati mereka. Kita harus menyatakan bahwa Allah sedang atau akan memakai para pemimpin dan ummat Israel dengan luar biasa, jka mereka mau berserah kepada kehendakNya. Para pemimpin yang mengakhiri masa tugasnya, perlu melakukannya dengan kasih dan secara elegant.
Dari puncak Gunung Nebo di Moab, Allah menunjukkan kepada Musa seluruh tanah Kanaan yang akan mereka duduki, dan kemudian Musa mati dan dimakamkan oleh Allah. Setelah Musa wafat dan tidak ada lagi di dunia, sebuah catatan yang indah untuk mengenang kepemimpinan Musa dituliskan sebagai berikut, dan juga sekaligus menutup kitab Ulangan :
“(34:10) Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit 3 di antara orang Israel, (34:11) dalam hal segala tanda dan mujizat, yang dilakukannya atas perintah TUHAN di tanah Mesir terhadap Firaun dan terhadap semua pegawainya dan seluruh negerinya, (34:12) dan dalam hal segala perbuatan kekuasaan dan segala kedahsyatan yang besar yang dilakukan Musa di depan seluruh orang Israel.” (Ulangan 34 : 10-12).
Tulisan dan catatan seperti apakah yang kita kehendaki untuk ditulis orang di atas batu nisan kita kelak, sebagai pemimpin di keluarga, gereja, bisnis ataupun organisasi lainnya? Apakah kita dikenal sebagai laki-laki dan perempuan yang hidupnya takut akan Allah dan mengasihiNya? Apakah kita dikenal sebagai orang-orang yang dapat diteladani dalam hal kekudusan hidup, kerendah-hatian, kebaikan dan kemurahan hati? Apakah kita dikenang sebagai orang-orang yang mengandalkan TUHAN dan menyatakan sifat-sifat Illahi di dalam hidup kita? Apakah kita telah berinvestasi /membangun dalam hidup orang lain? Apakah kita telah berdoa syafa’at bagi orang lain? Saat kita meninggalkan dunia ini, kiranya kita akan dapat mewariskan sikap hidup yang taat akan TUHAN dan mencerminkan hal-hal yang berkenan kepada TUHAN, yang dapat diteladani oleh orang lain.
Kitab Yosua mengisahkan tentang penaklukan dan pembagian wilayah Tanah Perjanjian di bawah kepemimpinan Yosua sebagai pemimpin yang baru. Allah berfirman kepada Yosua, “”Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu.” (Yosua 1 : 2)
Di dalam kitab Yosua 1, Allah berfirman kepada Yosua bahwa hambaNya Musa telah wafat. Lalu Yosua diperintahkan untuk bersiap memimpin ummat Israet menyeberangi Sungai Yordan menuju ke tanah Kanaan. Allah memberikan dorongan kepada Yosua dan berfirman bahwa sama seperti Ia telah menyertai Musa, maka Ia pun akan menyertai Yosua juga. Apakah kunci/syarat kesuksesan bagi Yosua? Di dalam kitab Yosua 1 : 6 – 8 Allah memerintahkannya untuk memiliki iman dan keberanian/ keteguhan hati. Lebih lanjut, ia diperintahkan untuk bertindak hati-hati dan taat terhadap segala hukum Allah, memperkatakan dan merenungkan Firman TUHAN siang dan malam sehingga ia akan bertindak bijaksana dan sungguh-sungguh melaksanakan setiap perintah Allah tersebut. Kunci kesuksesan tersebut juga akan berjalan baik bagi kita juga, jika kita menghendaki hubungan pribadi yang dekat dengan Allah dan berusaha mematuhi segala perintahNya.
Mungkin Yosia memiliki kepribadian yang agak pemalu ataupun bukanlah jenis orang yang secara alamiah berbakat untuk langsung jadi pemimpin, karena sampai empat kali Allah menyerukan agar Yosua sungguh-sungguh percaya kepada TUHAN dan bertindak dengan keteguhan hati (Yosua 1 : 6, 7, 9, 18). Allah telah memilih Yosua bukan karena sifat dasar yang dimilikinya untuk mampu langsung menjadi pemimpin, tetapi oleh sebab Yosua adalah orang yang patuh kepada Allah di dalam segala hal. Allah dimuliakan ketika kuasaNya bekerja di dalam kelemahan diri kita, ataupun meskipun kita lemah (I Korintus 1 : 27 – 29). Mungkin saja pikiran bahwa ia akan memimpin jutaan ummat Israel untuk berperang memasuki tanah Kanaan yang sarat dengan kejahatan, telah membuat Yosua gentar, tetapi mungkin juga hal tersebut membuat dirinya bersikap rendah hati dan lebih bergantung kepada pertolongan TUHAN. Yosua telah memiliki pengalaman untuk berperang, tetapi ia memerlukan keyakinan adanya dukungan dari TUHAN. Kita juga perlu memberi dorongan dan menumbuhkan rasa percaya diri kepada para pemimpin baru yang akan menggantikan kita, yang mungkin merasa enggan ataupun gentar karena harus mengerjakan tugas-tugas berat dan menakutkan yang menyongsong di hadapannya.
Yosua adalah pemimpin yang cerdik. Tentunya setelah mengingat kembali akan kekacauan yang terjadi yang disebabkan oleh laporan awal yang disampaikan oleh kedua belas pengintai, kini Yosua hanya memilih dua orang pengintai untuk mengamati tempat yang akan menjadi pertempuran pertama mereka. Mereka tinggal di kota Yerikho di rumah seroang wanita yang dikenal sebagai seorang wanita panggilan penjaja seks. Namun demikian Rahab, nama wanita tersebut, sebenarnya adalah seorang yang takut akan TUHAN. Ia menyatakan imannya kepada Allah melalui perkataan dan perbuatannya menolong kedua utusan TUHAN tersebut. Rahab menerima kedua pengintati tersebut ke dalam rumahnya. Lalu ia juga menyembunyikan kedua pengintai tersebut; ia menyatakan keyakinannya atas rencana dan tujuan Allah yang besar, dan ia menyatakan iman kepada Allah tersebut secara pribadi dan meletakkan sebuah tali tambang berwarna merah yang tersembunyi dari atas jendelanya untuk membantu kedua pengintai tersebut, dan sebagai bentuk aktif bahwa ia percaya akan keselamatan yang diberikan Allah. Pelajaran apakah yang dapat kita petik tentang kasih karunia Allah yang menyelamatkan manusia? Kasih karunia Allah bersifat menyeluruh dan menjangkau siapa saja; Ia akan menyelamatkan setiap orang yang mau datang kepadaNya di dalam iman percaya mereka.
Kedua pengintai tersebut kembali kepada Yosua dengan laporan yang positif. Berkebalikan dengan laporan negative yang melemahkan semangat generasi pertama ummat Israel untuk masuk ke dalam tanah Kanaan, laporan yang positif tersebut membangkitkan semangat para generasi penerus kaum Israel . Seperti yang telah dinubuatkan Musa (Ulangan 33 : 29), orang Kanaan bertekuk lutut ketakutan oleh karena perbuata-perbuatan ajaib yang dilakukan Allah bagi ummat Israel. Jika kita mau menaruh iman percaya kita kepada Allah, maka Ia akan melakukan perbuatan-perbuatan besar dan bahkan keajaiban yang dikehendakiNya dalam hidup kita. Dan orang lain akan melihat hal-hal besar yang dilakukan Allah di dalam hidup kita, dan mereka juga akan mau hidup takut akan TUHAN.
Untuk Direnungkan dan Dilakukan :
Pemimpin-pemimpin rohani yang baik memiliki iman kepada Allah. Hal ini dimulai dari suatu hubungan pribadi yang dekat dengan TUHAN, yang memberi bagi kita segala pengampunan, kedamaian, dan kehidupan rohani yang baru ;
Pemimpin generasi berikutnya haruslah seseorang yang telah dipilih oleh Allah, dan tidak perlu harus menjadi orang yang sudah terkenal ataupun yang paling berkemampuan/ cakap melakukan tugasnya ;
Pengalaman kerja nyata di lapangan dapat membantu kita menyiapkan para calon pemimpin. Kita perlu juga memberi arahan dan dorongan serta kewenangan bagi para pemimpin masa depan tersebut ;
Para pemimpin yang akan meninggalkan jabatan kepemimpinannya, harus melakukannya dengan sikap kasih dan cara yang elegant ;
Saat kita meninggalkan jabatan kepemimpinan tersebut, tinggalkanlah kesan Illahi yang dapat memotivasi orang lain ;
Kita perlu menumbuhkan rasa percaya diri bagi para pemimpin bary dan memberikan dorongan bagi mereka yang merasa enggan ataupun gentar akan tugas-tugas berat yang harus dipikulnya ;
Jika kita percaya kepada Allah, maka Ia akan melakukan perbuatan-perbuatan besr dan bahkan keajaiban sesuai dengan kehendakNya. Dan orang lain akan melihat hal-hal besar yang dilakukan Allah di dalam hidup kita, dan merekapun akan mau hidup takut akan Allah ;
Mematuhi Firman Allah akan memberikan kemuliaan bagi namaNya dan juga memberikan berkat perkenanan TUHAN di dalam hidup kita.
Pertanyaan Untuk Diskusi :
Di dalam kitab Ulangan 33, kita membaca tentang kata-kata berkat yang diucapkan Musa bagi suku-suku Israel mendekati saat ajalnya, dan hal ini mengingatkan kita kembali tentang berkat-berkat yang diberikan Yakub kepada anak-anaknya di dalam kitab Kejadian 49, walaupun tampaknya berkat-berkat Musa bagi suku-suku Israel terdengar lebih ‘positif’. Pelajaran apakah yang dapat kita peroleh tentang sikap Musa menghadapi kematiannya, dan hal-hal apakah yang dapat kita pelajari tentang karakter-karakter kepemimpinan Musa ? Apakah ia layak disebut sebagai seorang pemimpin yang besar bagi ummat Israel?
Dan….hari ini kita mengakhiri pembacaan Pentateuch atau Kitab tentang Hukum, atau lima kitab pertama di dalam Perjanjian Lama! ; Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan. Pelajaran dan kesan apakah yang kita peroleh melalui pembacaan kelima kitab pertama di dalam Perjanjian Lama tersebut? Apakah ada berkat-berkat baru yang Anda peroleh melalui pembacaan seluruh Kitab Hukum di dalam Perjanjian Lama ini? Bagikanlah.
Ayat Hafalan Hari Ini :
Yosua 1 : 7 “Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi.”
