Bacaan Alkitab : Bilangan 8 : 5 – 9:15 – 10:36
(Kurun waktu : diperkirakan 1.446 – 1.444 S.M.)
“Mengorganisir Kekuatan Pertahanan”
download versi word file : Renungan Harian – Tgl 2 Maret
Sebelum menghadapi musuh di dalam peperangan, suatu negara harus mengorganisir suatu kekuatan pertahanan. Jika diperlukan, laki-laki (dan kadang-kadang juga perempuan) dapat direkrut ke dalam angkatan bersenjata yang dimiliki negara tersebut. Sesudah itu, hal terpenting yang harus dilakukan adalah mengorganisir pasukan, melatih dan mendidik agar seluruh pasukan siap untuk mematuhi perintah. Ketika sang komandan mengeluarkan perintah untuk bergerak maju, maka pasukan harus bergerak secara tertib dan effisien. Jika komandan berkata tetap tinggal, maka pasukan pun harus tetap di tempat. Saat komandan berkata bergerak, maka mereka harus bergerak, Meskipun mungkin komandan tersebut tidak terlihat, tetapi ia mengetahui di mana pasukannya berada, kondisi pasukannya tersebut, serta keadaan musuh mereka. Ia membuat keputusan dan para pasukannya harus percaya kepadanya. Hal ini sama seperti keadaan ummat Israel pada jaman Musa, dan Allah adalah Komandan bagi mereka.
Ummat Israel telah dipersiapkan secara rohani untuk menghadapi pertempuran. Allah telah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir, dan telah melindungi serta memelihara hidup mereka di padang gurun Sinai. Allah menetapkan hukum yang mengatur ummatNya, juga Tabernakel untuk mempersembahkan korban dan melakukan penyembahan bagi TUHAN, dan Ia juga telah menguduskan para imam dan suku Lewi untuk menolong dalam tugas melakukan persembahan korban ataupun perawatan Tabernakel. Namun demikian sebelum seluruh jemaat bergerak untuk mendapatkan tanah warisan mereka di Kanaan, mereka perlu disiapkan secara fisik untuk menangani musuh; mereka memerlukan suatu pasukan dan juga perlu diorganisir.
Dua minggu setelah Hari Raya Paskah, Allah memerintahkan Musa untuk melakukan sensus yang lain, kali ini adalah untuk perekrutan kekuatan militer (Bilangan 1 : 1 – 3). Laki-laki orang Israel yang berumur 20 tahun ke atas, yang sehat secara fisik, diwajibkan untuk melayani sebagai anggota pasukan Israel (terkecuali bagi orang Lewi yang diikhususkan untuk melayani TUHAN di Tabernakel). Bahkan anggota pasukan pun dianggap telah melayani TUHAN, meskipun tidak dapat juga dikatakan bahwa pasukan Israel tersebut telah melakukan Perang Suci (untuk membela TUHAN), seperti yang kemudian akan mereka lakukan. Jumlah orang yang tercatat sebagai anggota pasukan adalah 603.550 (Bilangan 1 : 46). Mereka mengorganisir suatu kekuatan pertahanan.
Berbicara secara rohani, seorang Kristen harus mengorganisir suatu pertahanan – bukan untuk peperangan secara fisik, tetapi untuk hal rohani.
“(10:4) karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. (10:5) Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus (2 Kor. 10 : 4 – 5).
Bagaimana cara mengorganisir suatu kekuatan pertahanan? Efesus 6 : 10 – 18 memberikan perintah yang kita perlukan :
“(6:10) Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. (6:11) Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; (6:12) karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. (6:13) Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. (6:14) Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, (6:15) kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; (6:16) dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, (6:17) dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, (6:18) dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,”
Sesudah pelaksanaan sensus tersebut, pasukan Israel diorganisir ke dalam divisi yang masing-masingnya beranggotakan tiga suku. Di bawah panji-panji yang mereka miliki, mereka berkemah di sekeliling kediaman suku Lewi dan para imam (atau sedikit ber jarak dengan kediaman mereka). Suku Lewi berkemah di dekat Tabernakel. Para pasukan tersebut dimaksudkan untuk melindung suku Lewi dan tabut perjanjian, baik selama masa perkemahan mereka, maupun saat mereka harus berangkat kembali sesuai perintah Allah.
Bagaimana mereka dapat mengerti saat yang baik untuk bergerak kembali ataupun saat nya untuk tetap tinggal? Bagaimana mereka tahu tentang saatnya untuk melawan musuh? Ada dua cara : melalui tiang awan dan tiupan sangkakala. Kehadiran Allah di tengah-tengah ummatNya dinyatakan seperti tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari ( juga dikenal dgn istilah kemuliaan Shekinah). “Dan setiap kali awan itu naik dari atas Kemah, maka orang Israelpun berangkatlah, dan di tempat awan itu diam, di sanalah orang Israel berkemah.” (Bilangan 9 : 17). Kadang-kadang tiang awan tersebut diam menetap untuk beberapa lama, dan kadang-kadang juga hanya sebentar.
Apakah kita telah menyadari akan kehadiran TUHAN di dalam hidup kita? Pada masa kini, kehadiran Allah dinyatakan tidak dalam bentuk seperti tiang awan, tetapi jika kita adalah orang-orang yang sungguh-sungguh percaya kepadaNya, maka kehadiranNya dinyatakan melalui Roh Kudus Allah yang berdiam di dalam diri kita (Roma 8 ; 6). Apakah kita mematuhi segala perintahNya? Untuk melakukannya, yang pertama adalah bahwa kita harus patuh kepada FirmanNya, Alkitab ( 2 Timotius 3 : 16-17); itu adalah perintah utama yang harus dilaksanakan. Kemudian pahamilah tentang cara kerja Allah, kita harus memperhatikan cara Allah menyatakan kehendakNya dan harus peka terhadap perintahNya. Ini merupakan tuntunan rohani, tetapi Allah akan selalu dapat menyatakan cara-cara untuk menunjukkan pimpinanNya dalam hidup kita.
Cara yang ke dua bagi ummat Israel untuk mengetahui saatnya untuk bergerak berangkat berdasarkan pembagian divisi mereka, ataupun untuk pergi berperang, adalah melalui suara tiupan nafiri dari perak (Bilangan 10 : 1 – 9). Ummat Israel harus memperhatikan tentang tiupan nafiri yang berbeda-beda, yang memberi tanda untuk kegiatan yang harus dilakukan (meskipun tidak seluruhnya merupakan kegiatan yang berhubungan dengan militer: Bilangan 10 ; 10). Hal ini sangat mirip dengan perkemahan tentara pasukan pada masa perang, dan meskipun kita sudah cukup maju dalam hal technology, kita pun dalam hal-hal tertentu masih menggunakan cara tersebut dalam lingkungan militer masa kini. Tiupan nafiri yang berhubungan dengan kegiatan kemiliteran dalam jaman Musa dan Yosua tidak hanya berfungsi sebagai panggilan untuk bersiap angkat senjata; tiupan nafiri tersebut juga dimaksudkan untuk memberi semangat kepada ummat Israel, bahwa TUHAN Sang Pelindung dan Penyedia segala kebutuhan mereka, ada di tengah-tengah mereka. Secara rohani, mungkin saja kita tidak dapat mendengar suara nafiri Allah secara harafiah, tetapi seringkali suara panggilan dari TUHAN tersebut bentuknya adalah kebutuhan untuk membantu orang yang sedang memerlukan uluran tangan kita ataupun yang berkekurangan, membela orang-orang yang tidak memiliki daya, kemampuan dan dana, ataupun panggilan untuk berbicara bagi pembelaan hak-hak rakyat sipil maupun kepentingan agama. Maukah kita menjawab panggilan-panggilan seperti itu?
Hal terpenting yang dapat kita pelajari melalui Renungan Harian hai ini adalah untuk berjalan maju bersama Allah. Jika hanya mengandalkan kekuatan sendiri, tentu akan sangat sedikit yang dapat dicapai. Hanya Allah lah sumber kemenangan.
“Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.” (I Petrus 4 :11).
Untuk Direnungkan dan Dilakukan :
- Apakah Anda termasuk pasukan milik Allah? Ia menawarkan pengampunan, kedamaian dan hidup rohani yang indah. Ia berjanji untuk menjadi penolong dan perlindungan terhadp setiap musuh kita ;
- Secara rohani, sebagai ummat Kristiani, kita harus mengorganisir suatu kekuatan pertahanan; bentuknya bukan melakukan peperangan fisik, tetapi pertempuran rohani. Kita harus kuat di dalam TUHAN, mengenakan perlengkapan senjata rohani, selalu berdoa dan berjaga-jaga terhadap terhadap musuh kita si Iblis.
- Bagaimana cara kita mengikuti pimpinan Allah? Yang pertama, kita harus mematuhi perintahNya, yang terdapat di dalam Alkitab; ini adalah perintah utama yang harus dilaksanakan. Kemudian dengan memahami bagaimana Allah bekerja, kita harus memperhatikan karya-karya Allah bagi hidup kita dan siap untuk berangkat ataupun untuk tetap berdiam, sesuai arahan TUHAN ;
- Kita perlu menjawab panggilan Allah dalam hal pertahanan, untuk membantu kaum yang membutuhkan uluran tangan/ kaum papa dan yang tidak berdaya, ataupun mau berbicara membela kepentingan hak-hak rakyat ataupun kepentingan agama, tetapi kita perlu melakukannya sesuai arahan Allah dan dengan kekuatan yang diberikanNya, sehingga segala kemuliaan hanya diberikan kepadaNya.
Pertanyaan Untuk Diskusi :
- Dari bacaan dan informasi mengenai sensus dan perhitungan laskar pasukan ummat Israel untuk membentuk suatu kekuatan pertahanan yang tunduk sepenuhnya pada kekuatan Allah, Pelindung ummat Israel, kita dapat menarik pelajarannya secara rohani tentang peperangan spiritual yang kita hadapi di dalam perjuangan hidup kita di padang gurun menuju Tanah Perjanjian Kekal; Bagikanlah, menurut perenungan kita tentang kondisi rohani kita saat ini, bagaimanakah posisi inventarisasi rohani kita saat ini? Apakah kita sungguh-sungguh siap melakukan peperangan rohani? Apa saja kekuatan dan kelemahan rohani yang kita miliki saat ini? Maukah kita bersiap siaga mematuhi segenap perintah Allah untuk ‘bergerak maju’ ataupun ‘tetap sabar menetap’?
Ayat Hafalan Hari Ini :
- Mazmur 115 : 11 “Hai orang-orang yang takut akan TUHAN, percayalah kepada TUHAN! –Dialah pertolongan mereka dan perisai mereka.”
