Bacaan Alkitab :Kej. 22 – 24
(Kurunwaktu :diperkirakan 2.224 – 2.184 S.M.)
“Ujian Iman Yang Sulit”
download versi word file : RH – Tgl 21 Januari-1
Pernahkah Allah meminta Anda melakukan sesuatu hal yang berat sebagai bentuk ujian iman Anda? Apakah seluruh emosi dalam diri Anda kemudian menjadi terkuras memikirkan apa yang harus dilakukan? Mungkin Anda, sama seperti Abraham, tokoh pendahulu iman kita di dalam Alkitab, harus pindah ke negara lain atau suatu daerah baru di mana tidak ada sanak saudara atau teman yang dikenal. Mungkin Anda sedang mengalami keadaan keuangan yang sulit ataupun bisnis yang mengalami masa kekeringan, dan Anda sedang bingung bagaimana harus membayar tagihan-tagihan keuangan dan menyediakan makanan sehari-hari. Mungkin saja saat ini Anda harus menghadapi tekanan untuk berbohong ataupun mengkompromikan integritas Anda selama ini. Hal-hal seperti ini adalah ujian yang sulit bagi iman. Renungan hari ini adalah tentang ujian yang sangat sulit bagi iman Abraham. Mudah-mudahan contoh yang indah dari kehidupan Abraham dapat memberi dorongan bagi kita untuk tetap percaya kepada Allah dalam setiap kondisi yang kita alami.
Abraham dan istrinya telah menunggu selama 25 tahun untuk dapat memiliki anak yang dijanjikan Allah. Setelah menunggu selama 10 tahun, iman mereka mulai surut dan bimbang, dan mereka mulai berusaha ‘membantu’ Allah. Abraham mengambil seorang istri lagi, Hagar, dan memiliki seorang anak laki-laki bernama Ismael, tetapi Allah berfirman bahwa ia bukanlah anak yang akan mewarisi berkat janji Allah. Setelah menunggu 15 tahun kemudian, akhirnya Sara mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Mereka menamai anak itu Ishak, yang berarti “Tawa”. Abraham dan Sara tertawa penuh sukacita karena meskipun mereka sudah sangat lanjut umurnya, namun telah diberkati Tuhan dengan cara yang mustahil – akhirnya mereka memiliki keturunan, seorang anak laki-laki yang akan penjadi pewaris keluarga dan penerus keturunan!
Seperti yang dapat kita bayangkan, Abraham dan Sara sangat memanjakan anak laki-laki mereka, anak yang telah dijanjikan Allah. Lalu bayangkanlah perasaan Abraham yang terguncang ketika pada suatu hari Allah meminta nya untuk mempersembahkan anak kandungnya yang tunggal dan sangat dikasihinya itu, sebagai kurban bakaran di Gunung Moria. Mengapa Allah melakukan permintaan yang sangat keterlaluan seperti itu? Apakah Allah tiba-tiba menjadi berubah sifatNya? Apakah Allah tidak ingat bahwa Ishak adalah penerus keturunan Abraham dan pewaris berkat yang telah dijanjikanNya? Apa yang diperintahkan Allah kepada Abraham tampaknya sulit dimengerti. Apa yang sedang dilakukan Allah melalui semua ini? Mungkin Anda pun sedang mengalami keadaan yang membingungkan dan juga sedang mempertanyakan pertanyaan yang sama kepada Allah.
Dalam kasus Abraham, tampaknya Allah sedang menguji kesetiaannya kepada Allah. Kej.22 : 1 memberitahukan kepada kita bahwa permintaan ini merupakan sebuah ujian: “apakah kasih Abraham kepada anaknya tersebut lebih besar daripada kasihnya kepada Allah?”
Bagaimanakah tanggapan Abraham atas perintah Allah? Apakah ia dengan tegas menolak permintaan tersebut, lalu melarikan diri dari Allah ataupun menyembunyikan anaknya? Ini merupakan respon yang wajar. Apakah Abraham memberitahukan istrinya terlebih dahulu tentang perintah Allah tersebut? Tidak, ia bangun saat pagi dini hari , mengenakan pelana pada keledainya, menyiapkan kayu bakar dan obor secukupnya untuk menyediakan korban bakaran, lalu ia, hamba-hambanya dan Ishak berangkat menuju Gunung Moria (Kej. 22 : 2). Wow, bukankah ini sungguh suatu respon yang hebat, ya? Apakah kemudian Abraham berubah pikiran dalam perjalanannya menuju Gunung Moria dan memutuskan kembali pulang? Kita akan dapat mengerti jika ia melakukan hal tersebut. Seberapa banyak kah dari kita semua yang mau merelakan anaknya untuk menjadi kurban bagi Allah? Menurut Kej. 22 : 9, kemudian Abraham mulai bersiap mempersembahkan anak laki-laki nya yang beranjak dewasa tersebut sebagai kurban persembahan (bayangkanlah bagaimana Ishak pun memiliki sifat yang sangat patuh dan mempercayai ayahnya, sehingga ia pun mau menjalankan kehendak ayahnya).
Bagaimana Abraham dapat melakukan hal tersebut? Apakah yang ada dalam Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke. sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.”pikirannya saat itu? Petunjuk pertama kita temukan di Kej.22 : 5 :“ Petunjuk ke dua terdapat dalam kitab Ibrani 11 : 17-19 : “(11:17) Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, (11:18) walaupun kepadanya telah dikatakan: “Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.” (11:19) Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali.”
Wow, itulah iman yang sejati! Apa yang terjadi? Allah tetap konsisten dengan sifat diriNya, lalu Allah menghentikan Abraham untuk mempersembahkan anaknya sebagai korban dan menyediakan domba jantan sebagai ganti kurban persembahan. Apakah yang kita lakukan saat kita merasa tidak bisa memahami maksud Allah dalam hidup kita? Kita harus tetap percaya padaNya dan tetap mengikuti Dia, karena mungkin Ia sedang menguji kesetiaan kita.
Kemudian setelah lanjut usianya, Sara, istri Abraham, meninggal dunia. BIasanya pada jaman itu pemakaman dilakukan di tanah asal leluhur, namun Abraham tidak membawa jenazah Sara kembali ke kota Ur tempat asal mereka. Sebagai gantinya, dan juga sebagai bukti atas kesaksian yang senyap dari iman Abraham bahwa Allah pasti akan memberikan tanah Kanaan kepadanya (Kej.23), lalu Abraham membeli tanah di Kanaan untuk menjadi tempat makam bagi istrinya, kemudian juga untuk dirinya dan keturunan-keturunannya. Abraham telah membeli sebagian dari Tanah Perjanjian yang dijanjikan Allah dan menamainya tanah kelahirannya yang baru (The Bible Knowledge Commentary of the Old Testament by Walvoord and Zuck, copyright 1985, p.66). Tindakan iman apakah yang kita lakukan sebagai wujud klaim atas janji-janji Allah bagi hidup kita?
Memilih pasangan hidup juga merupakan suatu ujian iman yang sulit bagi kebanyakan orang. Apakah kita bersedia untuk meminta Allah yang memilihkan pasangan bagi kita, ataukah sebaliknya, kita berpikir bahwa kita dapat mengendalikan hal tersebut sendiri? Abraham telah melakukan tindakan iman dalam memilihkan pasangan hidup bagi anak laki-lakinya, Ishak. (Kej.24) Abraham mengerti bahwa sungguh suatu ide yang buruk untuk memilihkan istri seorang Kanaan, karena penduduk Kanaan terkenal sangat jahat. Dengan sikap iman, Abraham menyuruh hambanya untuk pergi ke rumah sanak saudaranya di barat laut Mesopotamia, untuk mencarikan istri bagi Ishak. Dalam budaya kita saat ini, kita berhak untuk mencari sendiri pasangan hidup yang sepadan dengan diri kita, namun di jaman Abraham, adalah tugas orang tua untuk mencarikan istri bagi anak laki-laki mereka. Abraham percaya bahwa Allah sendiri yang akan mencarikan pasangan hidup bagi anaknya, dan kemudian melalui serangkaian kondisi yang sungguh-sungguh telah diatur oleh Allah, kemudian Abraham mendapatkan jawaban iman nya. Mungkin keputusan yang perlu Anda lakukan saat ini bukanlah tentang memperoleh pasangan hidup, tetapi Anda tetap dapat mempercayai Allah yang akan memimpin hidup Anda.
Untuk Direnungkan dan Dilakukan :
- Apa yang kita lakukan saat merasa tidak mengerti tentang maksud Allah bagi hidup kita? Kita tetap harus percaya kepadaNya dan tetap mengikut Dia. Mungkin Allah sedang menguji kesetiaan kita.
- Lakukan tindakan iman untuk meraih janji-janji Allah
- Keputusan-keputusan sulit apakah yang harus Anda lakukan? Percayakanlah semuanya kepada Allah yang akan memimpin hidup Anda.
Pertanyaan Untuk Diskusi :
- Belajar dari contoh iman Abraham ; dapatkah kita menarik kesimpulan tentang hubungan antara ‘iman’ dan ‘kepatuhan’?
- Iman Abraham sungguh tetap teguh, bahwa Allah akan memberikan Tanah Perjanjian seperti yang dijanjikanNya. Bagi kita keturunan rohani dari bapa leluhur iman kita, Abraham, seberapa yakin dan rindu kah kita kepada Tanah Perjanjian di surga bersama dengan Allah? Atau hal-hal apa saja yang membuat Anda masih lebih terikat dengan kenyamanan hidup di dunia ini, dibanding dengan kerinduan akan kehidupan di surga?
- Hal-hal apakah yang dapat kita pelajari dari pertimbangan-pertimbangan Abraham untuk memilihkan pasangan hidup yang tepat/ baik bagi anaknya?
Ayat hafalan hari ini :
- Galatia 3 : 6 “Secara itu jugalah Abraham percaya kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran”
