“Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik.”
(Kis. 9:19b)
Setiap orang Kristen sudah tentu dipastikan akan rindu untuk semakin menikmati persekutuan dengan saudara-saudara seiman di dalam Tuhan. Tetapi yang menjadi persoalan dan seringkali menghambat persekutuan di dalam Tuhan dan dengan saudara seiman kita adalah karena adanya pelanggaran dan dosa yang belum kita akui di hadapan Tuhan dan tidak menunjukkan pertobatan kepada Tuhan dan terhadap sesama kita. Atau, alasan lain yang menghambat kita tidak bisa menikmati persekutuan dengan Tuhan dan saudara seiman kita adalah karena kita terus hidup dengan rasa bersalah.
Amsal 28:23 mengatakan bahwa, “Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi”. Ini berarti Tuhan selalu siap memberi kita kesempatan yang baru dan ini adalah fondasi dalam kekristenan yang harus kita fahami. Bahwa sesungguhnya Allah tidak ingin kita hidup dalam rasa bersalah dan dosa yang berkepanjangan. Rasa bersalah akan menghancurkan kepercayaan diri kita, merusak hubungan kita, membuat kita terjebak di masa lalu, dan bahkan mengganggu kesehatan kita. Satu hal yang harus kita sadari adalah bahwa Tuhan menginginkan sesuatu yang lebih jauh dan bermanfaat dari kita yaitu supaya setiap kita boleh semakin menikmati persekutuan di dalam Tuhan. Dan inilah kebenaran penting yang harus selalu kita pegang, yaitu kita tidak perlu hidup dengan rasa bersalah dan Tuhan ingin kita hidup dengan memegang janji-Nya dan harapan. Dia bahkan dapat mendatangkan kebaikan dari setiap keputusan salah yang telah kita perbuat, apabila kita menyerahkan segala kelalaian itu kepada-Nya seperti pengalaman hidup Saulus pada waktu itu (Kis. 9:1-2;19-20, 22). Lebih jelasnya, silahkan baca Kis. 9:19b-31!
Bagaimana caranya kita dapat semakin menikmati persekutuan di dalam Tuhan? Hanya dengan mengakui di hadapan Tuhan bahwa kita telah membuat kesalahan dan bertobatlah secara total di hadapan Allah dengan memperbaharui hidup dan pikiran kita di dalam roh (Efs. 4:23) meskipun mungkin pertobatan kita diragukan oleh banyak orang (Kis. 9:21). Pembaharuan pikiran bukan hanya berarti mengubah cara kita berpikir tentang Yesus; tetapi itu juga mengubah cara kita berpikir tentang kekurangan dan cacat cela kita. Ingat bahwa kasih Allah melampaui segala akal pengetahuan manusia, dan sulit bagi kita untuk memahami betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus bagi setiap kita (Efs. 3:17-19), dan “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,” (Flp. 2:5).
Jadi Saudara sekalian, marilah kita semua melakukan perubahan hidup secara benar supaya kita dapat menikmati persekutuan di dalam Tuhan dengan indah. Perubahan membutuhkan pemikiran baru, dan tentunya untuk bisa berubah, kita harus belajar tentang kebenaran Tuhan dan mulai memilih pilihan-pilihan yang baik, namun kita juga harus mengubah cara berpikir kita. Tuhan Yesus memberkati.
(AP07072022)
Pokok Doa:
- Berdoa untuk kegiatan G20 agar Indonesia dapat menjadi tuan rumah yang baik dan membuat nama Indonesia lebih dikenal dan dipandang positif oleh dunia;
- Berdoa untuk cuaca cerah selama kegiatan G20 dan tidak ada pihak-pihak yang akan menimbulkan kerusuhan;
- Pelaksanaan Rapat Kerja Panitia PI GBIK tanggal 4-8 Juli 2022 dengan Gembala-Gembala Sidang Cabang GBIK;
- Berdoa bagi aparat keamanan dan penyelenggara G20 supaya semua peserta dapat merasa aman dan nyaman selama berada di Indonesia.
Pokok Doa Cabang LYMAN MUNSON, Sibolga, Sumatera Utara
- Bersyukur atas pelaksanaan kegiatan SIL pada tanggal 28-30 Juni 2022;
- Kesetiaan jemaat beribadah pada Tuhan semakin meningkat;
- Para pelayan Tuhan semakin menyala-nyala dalam mengasihi dan melayani Sang Raja.

Amin!