“Juga orang bodoh akan disangka bijak kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya.”
(Ams. 17:28)
Ayat firman Tuhan di atas menyatakan pada kita bahwa kata-kata kita menyatakan siapa kita. Orang bodoh pun disangka bijak kalau dia berdiam diri. Sebaliknya seseorang yang dengan sembrono mengeluarkan kata-kata, ia dianggap bodoh dan bebal (Ams. 29:11). Itu berarti kita harus bijak dalam berbicara oleh karena kata-kata kita dapat menyembuhkan hati yang luka (Ams. 12:18), dapat melukai hati (Mzm. 52:4), menipu dan merugikan orang lain (Mzm. 39:2). Karena itu jika kita tidak dapat mengatakan sesuatu yang baik lebih baik berdiam diri. “Siapa menghina sesamanya, tidak berakal budi, tetapi orang yang pandai, berdiam diri” (Ams. 11:12). Mungkin karena itulah Tuhan memberikan dua telinga dan satu mulut, dan bukan dua mulut, satu telinga, supaya kita lebih banyak mendengar dan bukan lebih banyak berkata-kata. Tetapi berdiam diri, bukan tidak berkata apapun, atau juga tidak melakukan apapun.
Ada saat-saat dimana kita harus menjadi seorang murid Tuhan yang “tidak mengerjakan apa-apa”, walaupun saat seperti itu banyak orang berlarian dalam kekacauan dan kebingungan dengan adanya pandemic yang tidak kunjung usai. Banyak sekali kekuatan rohani kita dapatkan saat kita berdiam diri dan tidak mengerjakan apa-apa. Tinggal diam tidak berarti masa bodoh, berdukacita, dan berkabung sambil menaruh abu di kepala seperti yang diperbuat oleh Ayub saat mengalami penderitaan yang luar biasa (Ayb. 2:8). Tetapi tinggal diam dalam pengertian membiarkan Allah bertindak menggantikan kita. Karena saat kita merasa tidak berdaya, bodoh, lemah, dan tidak mampu, itulah kesempatan bagi Allah untuk menyatakan kuasa-Nya “Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak pada kekuatanmu.” Tetapi kamu enggan” (Yes. 30:15). Betapa tidak rasional perintah Musa untuk berdiam diri saja saat musuh memburu dengan ganasnya. Tidak melakukan apa-apa saat musuh menyerang adalah merupakan puncak kebodohan. Tetapi melalui sikap berdiam dirilah, Allah berperang menggantikan mereka dan hasilnya sangat menakjubkan. Sukses dan musuh dikalahkan. “Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; …. TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.” (Kel. 14:13-14).
Keadaan darurat adalah kesempatan Allah membuktikan diri bahwa Ia mahakuasa dan bagi Dia tidak ada perkara yang mustahil. Itulah yang ditanyakan raja Darius kepada Daniel saat keadaan darurat: “… telah sanggupkah Ia melepaskan engkau dari singa-singa itu?” (Dan. 6:21). Dan Allah sanggup bahkan lebih sanggup menolong orang-orang yang berharap kepada-Nya, kapan saja, dan dimana saja. Berdiam diri adalah salah satu rahasia sukses, karena Allah menolong kita saat kita berdiam diri dan tidak mengandalkan apapun dan siapapun. Amin, Tuhan Yesus memberkati.
(AP02022022)
Pokok Doa:
- Doakan kondisi keamanan NKRI wilayah timur: Maluku dan Papua. Kiranya penegak hukum dan masyarakat dijauhkan dari tindak kekerasan kelompok garis keras;
- Doakan jemaat GBIK yang sedang bersiap mencari sekolah/perguruan tinggi agar mendapat tempat melanjutkan studi yang terbaik.
Pokok Doa Cabang Purwonegoro:
- Doakan Jemaat yang sedang bergumul dalam persoalan rumah tangga;
- Doakan jemaat yang sedang sakit / dalam masa pemulihan dari sakit: Bpk. Yadmadi, Bpk. Budi, Bpk. Saltiel, Bpk/Ibu Condro, ibu Tri, Ibu Nanik;
- Doakan jemaat yang sedang mengandung Ibu Eko (Prediksi akhir 29 mei 2022 melahirkan);

Good reminder.
Amen!!
Amen. “Tinggal diam, biar Allah yang bertindak!”