Bacaan Alkitab : Ayub 22 – 28
(Kurun waktu : diperkirakan 2.324 – 2.224 S.M.)
(Karena ini adalah bahan pembacaan Alkitab selama dua hari berturut-turut, disarankan untuk membaca seluruh ayat yang tercantum di atas pada hari pertama, kemudian melakukan renungan di hari yang ke dua)
“Keadilan Pada Waktu Yang Tepat”
download versi word file : rh-tgl-11-januari-4
Apakah Anda pernah mengalami kerugian/ kehilangan sesuatu dan kemudian dipersalahkan karena mengalaminya? Mungkin beberapa orang agamis akan menuduh bahwa kerugian/kehilangan tersebut terjadi oleh sebab dosa yang telah Anda lakukan.Atau, mungkin mereka berkata bahwa penderitaan yang Anda alami disebabkan oleh kelalaian Anda untuk berbuat baik kepada fakir miskin, janda, yatim-piatu, ataupun oleh karena pelanggaran lainnya, walaupun sebenarnya Anda memang tidak bersalah.Apa yang harus kita lakukan saat harus menderita ketidakadilan dan teguran serta tuduhan palsu yang disampaikan pada saat yang tidak tepat? Tokoh pendahulu iman kita, Ayub, pernah mengalami keadaan yang serupa. Darimanakah kita akan mendapat jawaban atas persoalan tersebut?
Ayub menyebutkan peristiwa-peristiwa ketidakadilan dan pelanggaran hukum yang terjadi pada jaman nya : penyitaan lahan hak milik seseorang dengan cara memindahkan batu-batu pembatas pengukur lahan tersebut (pada masa hidup Ayub, garis batas property seseorang ditandai dengan batu-batu pembatas lahan), sertapenindasan terhadap kaum janda, yatim-piatu dan fakir miskin. Hak mereka untuk mencari penghidupan diabaikan,dan segala harta benda mereka yang tersisa dan hak milik mereka disita, dan mereka dibiarkan hidup menggelandang tanpa pakaian, makanan dan tempat tinggal.Saat itu diperlukan juga keadilan untuk menghukum para pelaku kejahatan, yaitu para perampok, pembunuh dan orang-orang yang berbuat asusila. Ayub mengerti bahwa orang-orang seperti itu pada akhirnya pasti akan kena hukuman yang setimpal, tetapi bagaimana hal nya dengan dirinya saat ini? Ayub juga tengah mengalami penderitaan yang berat, tetapi ia tidak melakukan sesuatupun yang tercela, dan tidak dapat menemukan keadilan.Tampaknya Allah membiarkan Ayub sendiri tanpa dukungan, dan Ayub tidak memahami kondisinya saat itu.
Jawaban yang diberikan Bildad kepada Ayub sungguh merendahkan.Ayub, engkau terlalu remeh bagi Allah untuk mendapat perhatianNya. BagiNya, engkau layaknya seperti berenga / ulat bangkai ataupun ulat kecil (Ayub 25 : 6). ‘Penghiburan’ macam apa yang dilakukan Bildad! Kemudian Ayub menjawab : “…(26:2) Alangkah baiknya bantuanmu kepada yang tidak kuat, dan pertolonganmu kepada lengan yang tidak berdaya! (26:3) Alangkah baiknya nasihatmu kepada orang yang tidak mempunyai hikmat, dan pengertian yang kauajarkan dengan limpahnya! (26:4) Atas anjuran siapakah engkau mengucapkan perkataan-perkataan itu, dan gagasan siapakah yang kaunyatakan? (Ayub 26 : 1-4).
Atau dengan kata lain, Ayub sedang bertanya : “Bildad, engkau berbicara atas gagasan Allah ataukah Iblis? Adalah penting untuk kita perhatikan: ketika hendak mengucapkan kata-kata penghiburan bagi orang yang tertindas, untuk memohon tuntunan Allah tentang hal-hal yang hendak diucapkan.Orang yang menderita tersebut memerlukan penghiburan, dan bukannya penghinaan.Seluruh dunia boleh saja meremehkan orang-orang yang terkena musibah ini, tetapi sebaliknya, kita harus tetap menyatakan pengampunan dan belas kasihan.
Ayub mengerti bahwa Allah adalah pribadi yang Maha Kuasa, dan didalam hikmatNya yang tak terbantahkan dan tak terselami itu, Ia mengijinkan Ayub untuk mengalami penderitaan. Meskipun Ayub merasa tidak mendapat perhatian dari Allah, namun di dalam keputus-asaan nya itu, Ayub tidak mengutuki Allah ataupun bertindak seolah-olah tidak ada Allah. Ayub tetap bertekad untuk bersandar pada sikap hidup yang berintegritas dan benar, karena iapercaya bahwa itu adalah hal yang benar untuk dilakukan, dan bahwa pada akhirnya nanti, ia akan bebas dari segala tuduhan. Kita pun perlu melakukan hal yang sama.
Ayub berkata : “(27:2) “Demi Allah yang hidup, yang tidak memberi keadilan kepadaku, dan demi Yang Mahakuasa, yang memedihkan hatiku, (27:3) selama nafasku masih ada padaku, dan roh Allah masih di dalam lubang hidungku, (27:4) maka bibirku sungguh-sungguh tidak akan mengucapkan kecurangan, dan lidahku tidak akan melahirkan tipu daya. (27:5) Aku sama sekali tidak membenarkan kamu! Sampai binasa aku tetap mempertahankan bahwa aku tidak bersalah.(27:6) Kebenaranku kupegang teguh dan tidak kulepaskan; hatiku tidak mencela seharipun dari pada umurku.(27:7) Biarlah musuhku mengalami seperti orang fasik, dan orang yang melawan aku seperti orang yang curang.”
Biasanya, orang yang jahat lah yang mendapat hukuman, dan bukannya orang benar.Kita tidak mengerti mengapa orang benar harus menderita.Dimanakah kita dapat menemukan jawabannya?Ayub berkata bahwa orang menggali sampai jauh ke kedalaman bumi untuk menemukan harta berharga, jauh ke dalam bumi di mana tidak ditemukan burung-burung ataupun hewan, tetapi dimanakah kita dapat menemukan hikmat dan pengertian? Ayub menjawab bahwa Allah telah mengatakan kepada manusia : “… Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi.” (Ayub 28 : 28). Allah adalah pribadi yang sungguh dahsyat, dan saat kita hendak datang menghadap kepadaNya, kita harus menghampiri Nya dalam sikap takut dan gemetar di hadapanNya.Pada Allah terdapat segala rahasia hikmat dan pengertian.Allah memiliki maksud untuk segala sesuatu, meskipun kita tidak selalu dapat memahaminya.Dengan demikian, kita tidak perlu mempermasalahkan tentang mengapa kita harus mengalami ketidak-adilan, karena yang terpenting adalah kita mengerti bahwa kita dapat mempercayai Allah yang selalu memberikan hal-hal benar dan baik dalam hidup kita.
Bagi orang kristiani, memiliki sikap hidup yang takut akan Tuhan berarti bahwa kita sungguh-sungguh menghormati keberadaan Allah yang kudus dan dahsyat, sehingga kita selalu akan berusaha menyenangkan hatiNya. Hidup yang benar berarti menjalani hidup yang sungguh-sungguh menghormati Allah, dan menutup pintu terhadap setiap godaan si jahat.
Orang yang hidup benar pasti akan mendapat upahnya, namun upah tersebut tidak selalu akan diperolehnya saat ia masih hidup. Dan sama seperti upah surgawi akan menanti orang yang hidupnya benar, demikian pula para pembuat kejahatan pada akhirnya akan menerima kebinasaannya (Mazm.73 : 27). Bagi orang-orang yang bertekun dalam perbuatan baik (orang-orang percaya), pada akhirnya akan memperoleh keadilan dan mendapat upah. Inilah yang menjadi tujuan hidup Ayub, meskipun saat itu ia sangat tertekan oleh penderitaan yang berat. Ia tetap percaya kepada Tuhan. Ia tetap menghormati Allah. Ia berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan integritas dan sikap hidup yang benar, dan percaya bahwa keadilan suatu saat akan terjadi.
Untuk Direnungkan dan Dilakukan :
- Tetaplah memiliki sikap hidup yang takut akan Allah dan berjalan menurut jalan yang ditetapkanNya. Allah pasti akan memberikan keadilan dan perkenananNya bagi Anda. Janganlah berkecil hati, Allah itu Maha Kuasa, dan Ia akan memberikan keadilan pada saat yang tepat.
- Adalah penting bagi kita, ketika hendak menghibur orang yang sedang memiliki masalah, agar dengan hati-hati memohon pertolongan Tuhan bagi setiap kata yang hendak diucapkan. Mereka memerlukan penghiburan, dan bukan hinaan. Seluruh dunia mungkin akan meremehkan orang tersebut saat melihat penampilan ataupun kondisi mereka, namun kita tetap harus menunjukkan sikap mengasihi, mengampuni dan berbelas-kasihan.
Pertanyaan Untuk Diskusi :
- Dalam pembelaannya untuk mencari keadilan Allah, Ayub berkata bahwa dirinya :.”.. juga tidak menyimpang dari perintah-perintah bibir-Nya; aku menyimpan firman-Nya lebih dari bagianku ‘” (Alkitab Millenium – MILT – 2008), atau versi Bahasa Inggrisnya (NIV) berkata: “I have not departed from the commands of His lips; I have treasured the words of His mouth more than my daily bread.”(Aku tidak pernah melanggar perintah-perintah yang keluar dari bibirNya, Aku menyimpan segala perkataanNya dan menganggapnya lebih berharga dari soal-soal penghidupanku sehari-hari); Bagaimanakah dengan Anda? Berapa lamakah dalam sehari, Anda meluangkan waktu untuk mempelajari FirmanNya, dibandingkan dengan waktu yang digunakan untuk mencari penghidupan yang Anda inginkan? Apakah setiap harinya Anda menganggap waktu teduh bersama Tuhan itu lebih berharga daripada waktu untuk hal lain, bahkan untuk hal yang Anda perlukan sehari-hari?
- Dalam pencariannya akan hikmat/ kebijakan dan keadilan Allah baginya, Ayub kemudian menemukan jawabannya, bahwa; “..tetapi kepada manusia Ia berfirman: Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi. “(Amsal 28 : 28)
Bagaimana menurut Anda : apakah Anda percaya bahwa hidup takut akan Allah itu akan mendatangkan hikmat? Apakah Anda juga percaya bahwa menjauhi kejahatan – dan kehidupan yang tidak takut akan Allah -, itu pun akan memberi Anda kebijaksanaan hidup yang Anda butuhkan? Apakah Anda sudah sungguh-sungguh mencari hikmat yang dari Allah tersebut?
Ayat Hafalan Hari Ini :
- Ayub 28 : 28 ““..tetapi kepada manusia Ia berfirman: Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi. “
