Bacaan Alkitab: Kejadian 1 – 3
(kurun waktu : diperkirakan 6.000 – 4.000 S.M.)
Didalam kitab Kejadian, kita dapat mengetahui tentang: awal kehidupan, awal hubungan manusia dengan Allah, awal terjadinya dosa dan karenanya, urgensi atas adanya penebusan yang dapat menghapuskan dosa tersebut di mata Allah Sang Pencipta, asal mula kelompok manusia dan riwayat suatu bangsa, dan awal kisah kehidupan orang-orang tertentu yang dipilih Allah. Nabi Musa diperkirakan sebagai penulis lima kitab pertama dalam Alkitab, yang disebut ‘Pentateuch’ atau ‘lima volume kitab’, dan tentang ini juga dapat kita temukan dalam perkataan Yesus di Lukas 24: 27 maupun tulisan Musa di Mazmur 90. Tampaknya hal-hal mengenai bagaimana Allah telah menciptakan bumi ribuan tahun sebelumnya, telah dinyatakan Allah secara khusus kepada Musa, sehingga ia dapat menuliskannya di kitab Kejadian.
Kemudian pernahkan kita bertanya, mungkin di saat masih kanak-kanak, tentang siapakah yang telah menciptakan burung-burung, binatang melata & hewan lainnya, tanaman, laut dan mahluk-mahluk yang hidup di laut, langit, bahkan matahari, bulan dan bintang? Kitab Kejadian 1 dan 2 menjelaskan kepada kita tentang segala karya Allah yang maha dahsyat tersebut; Allah berfirman, maka terciptalah segala sesuatu. Didalam kisah penciptaan bumi dan angkasa tersebut kita belajar tentang adanya kuasa dan kebijakan Allah Sang Pencipta yang berada di luar jangkauan pemikiran manusia. Jika sedemikan besarnya kuasa Allah Sang Pencipta,maka kita dapat percaya bahwa Ia pasti dapat menolong kita untuk mengatasi segala persoalan hidup kita.
“Siapakah saya dan darimanakah asal keberadaan saya sebagai manusia?” – Kitab Kejadian 1 telah menjelaskan bahwa Anda adalah ciptaan Allah yang paling mulia yang berasal dari Allah sendiri (Kejadian 1 : 26-27). Sama seperti ciptaan Allah lainnya, manusia adalah ciptaan Allah yang sempurna (Kejadian 1 : 31), dan manusia memiliki keunggulan tertinggi dibanding mahluk ciptaan lainnya, karena manusia memiliki daya pikir dan kehendak untuk memilih sesuai keinginannya, serta memiliki perasaan,dan diatas semua keunggulan lainnya, manusia memiliki roh yang bersifat kekal, sesuai dengan gambaran Sang Pencipta.
Apakah tujuan hidup Anda di dalam dunia ini? Allah telah menjadikan kita di dunia ini bagi kesukaanNya (Kej. 1 : 31; Efesus 1 : 3 – 14). Sungguh mengagumkan bahwa, meskipun Allah sedemikian agung, berkuasa dan mulia, namun dari awal kisah penciptaan, kita dapat memahami bahwa Allah menghendaki suatu hubungan yang bersifat pribadi dengan manusia sebagai ciptaan penyandang gambaran Allah tersebut. Kitab Kejadian 3 : 8 nampaknya hendak menjelaskan bahwa Allah senang berjalan-jalan di Taman Eden di suatu senja untuk bercengkerama dengan Adam dan Hawa. Namun sesuatu telah terjadi ; Allah berharap dapat menemui mereka,namun kali ini mereka tengah bersembunyi (kita kemudian paham bahwa tidak hanya anak-anak yang berkelakuan menghindar dan bersembunyi jika telah melakukan suatu kesalahan). Mengapa mereka bersembunyi? Karena dengan sengaja memakan buah dari satu-satunya pohon yang dilarang untuk dimakan buahnya, mereka telah bertindak tidak mematuhi Sang Pencipta yang sedemikian baik dan murah hati kepada ciptaanNya. Inilah bentuk awal dosa: ketidak-patuhan, pemberontakan. Dosa adalah kesalahan atau kegagalan untuk melakukan hal yang benar. Sebagai keturunan dari Adam dan Hawa, secara lahiriah kitapun adalah manusia yang memiliki sifat dosa, dan diperburuk lagi dengan dosa-dosa yang kita lakukan melalui sikap dan keinginan kita masing-masing. Semua sifat manusiawi yang penuh dosa ini berakibat pada kematian fisik dan rohani (Kej. 2 16 -17; 1 Korintus 15:22; Roma 6 : 23 Wahyu 218).
Ketika Adam dan Hawa berdosa dengan tidak mematuhi perintah Allah, mata mereka menjadi terbuka terhadap hal-hal yang benar ataupun jahat, hal-hal yang memalukan dan tercela. Adam menyalahkan Hawa dan Hawa menyalahkan ular atas dosa yang mereka perbuat. Kemudian dosa tersebut berakibat pada kutuk yang menimpa laki-laki, perempuan dan ular. Maka kemudian Allah mengorbankan binatang dan memakai kulit binatang tersebut untuk menutupi aib dan ketelanjangan Adam dan Hawa (kemudian hal tersebut dipraktekkan dalam ketentuan korban penghapus dosa di kitab Perjanjian Lama, yang juga melambangkan korban darah Yesus sebagai penebus dosa, yaitu berupa anak domba berumur setahun yang tidak bercela). Kini Allah telah memberikan kepada kita suatu korban penghapus dosa yang lebih sempurna, yaitu melalui Yesus Kristus, Allah telah memberikan korban penyucian bagi segala dosa kita (Ibrani 10 : 10). Melalui iman percaya kita kepada pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib bagi dosa kita, maka segala pelanggaran kita telah dihapuskan dan seluruh dosa kita telah disucikan (I Yoh, 1 : 7). Maka setelah hubu ngan kita dengan Allah Sang Pencipta menjadi pulih, kita mendapatkan kehidupan rohani yang kekal. Hubungan dengan Allah yang telah menjadi pulih ini kemudian memampukan kita untuk memenuhi tujuan penciptaan manusia yang sejati : untuk menyukakan hati Allah dan memuiakan namaNya. Halleluyah!
Untuk Direnungkan dan Dilakukan :
• Allah yang Maha Perkasa dan Dahsyat telah menciptakan seisi dunia ini. Sedemikian berkuasanya Allah kita, sehingga kita percaya bahwa Ia juga Allah yang berkuasa menolong kita ketika kita menghadapi berbagai masalah hidup;
• Allah adalah pribadi yang amat baik; Ia telah merencanakan hal-hal yang baik dalam hidup kita dan akan menyediakan setiap kebutuhan hidup kita;
• Kita diciptakan secara khusus dan sempurna menurut gambar dan rupa Allah;
• Kita diciptakan untuk menyenangkan hati Tuhan, dan Allah menghendaki persekutuan pribadi dengan kita sebagai ciptaan yang dikasihiNya;
• Mendengarkan bujukan Iblis (Ular Tua, di Wahyu 12:9) dan tidak mematuhi perintah Allah menyebabkan rusaknya hubungan dengan Allah Sang Pencipta dan menyebabkan berbagai jenis kejahatan yang berujung pada kematian. Kita memerlukan penyucian dosa agar dapat memulihkan hubungan dengan Allah Yang Maha Kudus, dan penyucian dosa yang sempurna tersebut hanya kita dapatkan didalam Yesus Kristus, Anak Allah (Yoh. 3 : 16).
Pertanyaan Untuk Diskusi :
• Apakah Anda yakin bahwa Anda telah diciptakan sesuai dengan gambaran Allah? Apakah kebenaran Alkitab ini cukup menguatkan Anda untuk memasuki tahun 2017 : apakah hal ini memberi keyakinan bahwa Anda mampu menghadapi segala sesuatu di tahun mendatang ini? Apakah hal ini juga menyebabkan Anda sadar bahwa Anda telah diciptakan untuk suatu maksud yang indah dan mulia di dunia ini?
• Dalam Kej.2 : 3 dikatakan bahwa Allah memberkati hari yang ke tujuh dan menguduskannya dan pada hari yang ke tujuh tersebut Allah beristirahat dari pekerjaan penciptaanNya. Suatu hari perhentian, satu hari dalam seminggu. Apakah di tahun 2017 ini Anda akan menguduskan satu hari sebagai Sabbath bagi Tuhan? Apakah yang akan Anda lakukan pada hari Sabbath bagi Tuhan tersebut?
• Setelah membaca kitab Kejadian 3, kita diingatkan kembali bahwa dosa telah menyebabkan kejatuhan dan kerusakan dalam hidup manusia. Apakah Anda sungguh menyadari bahwa dengan bujuk rayu nya, Iblis masih berkuasa menipu manusia sampai saat ini? Bagaimana pendapat Anda tentang ‘pencobaan’, tentang keberadaan ‘Si Jahat’? Kemudian menurut Anda, bagaimanakah cara efektif untuk membentengi diri Anda terhadap segala tipuan Ular Tua tersebut? Apakah membaca Alkitab dan melakukan Saat Teduh setiap hari merupakan salah satu cara agar terhindar dari bujuk rayu dan tipuan Si Jahat? Apakah ‘penangkal-penangkal’ lainnya?
Ayat Hafalan Hari Ini :
Ibrani 11 : 6 “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.”
Pengantar Kitab I Tawarikh
(Sumber: http://www.sabda.org dan https://bible.org/article/introduction-first-and-second-chronicles)
Isi Kitab Tawarikh
Kitab Tawarikh merupakan buku sejarah yang khususnya menceritakan pemerintahan Raja Daud (1000-961 SM), sehingga disebut juga sebagai ‘Kitab Sejarah Raja Daud’, seperti terdapat di I Tawarikh 27:24. Pasal-pasal pembukaan (1Ta 1-9) merupakan ringkasan tentang sejarah mula-mula bangsa Israel dengan menuliskan silsilah keturunan yang dimulai dari Adam dan seterusnya. Meskipun kitab ini secara singkat juga menyebutkan kejatuhan Saul dan kenaikan Salomo, namun sebagian besar isinya mengisahkan tentang kehidupan Daud.
Cara Penulisan Kitab Tawarikh
Kitab Tawarikh tidak ditulis oleh seorang penulis, tetapi oleh seorang penyusun tulisan yang dengan pandainya menggabungkan sejumlah tulisan yang terdahulu (lihat 1Ta 9:1; 29:29,30) untuk dijadikan suatu kesatuan sejarah. Tradisi Yahudi menegaskan bahwa si penyusun itu ialah Ezra (The Jewish Babylonian Talmud), ataupun jika orang lain, adalah seorang Imam keturunan Lewi, karena cukup banyak penggambaran mengenai bait Allah (Andrew E. Hill, and John H. Walton, A Survey of the Old Testament, 217; See R. K. Harrison, Introduction to the Old Testament: With a Comprehensive Review of Old Testament Studies and a Special Supplement on the Apocrypha, 1157; Eugene H. Merrill, 1, 2 Chronicles, 12.)
Kitab ini merupakan bagian dari suatu karya yang terdiri dari empat jilid, yang termasuk didalamnya 2 Tawarikh, Ezra dan Nehemia.
Jika Ezra dianggap sebagai penyunting, maka kitab itu kemungkinan disusun dalam abad keempat sebelum Masehi.
Tujuan Penulisan Kitab Tawarikh
Kisah sejarah yang terdapat dalam I Tawarikh ditulis dengan suatu tujuan tertentu; tidak hanya mencatat fakta-fakta sejarah, tetapi juga mengemukakan arti dari apa yang terjadi. 1 Tawarikh merupakan kitab sejarah yang ditulis menurut pandangan Tuhan. Kitab ini ditulis pada waktu umat Allah hidup dalam lingkungan yang bersifat sangat duniawi. Negeri mereka telah hancur karena perang, akibatnya banyak dari mereka yang runtuh imannya. Mereka tidak lagi dapat melihat campur tangan Allah dalam masalah-masalah mereka atau percaya bahwa Dia adalah Allah yang menepati apa yang telah dijanjikannya. I Tawarikh menjelaskan mengapa peristiwa sejarah berjalan sedemikian rupa dan mengapa masih mungkin untuk tetap bertekun dalam iman.
Apakah Kitab Tawarikh Ini Dapat Dipercaya?
Si penyusun seakan-akan memilih peristiwa sejarah untuk membuktikan argumentasinya, dan sebagai akibatnya banyak fakta sejarah bangsa Israel yang terlewatkan dan gambaran sejarah yang disusunnya agak berbeda dengan yang ditemukan dalam Samuel atau Raja-raja. Dari kisah-kisah yang dihilangkan terdapat kisah Elia dan peristiwa-peristiwa yang kurang berkenan dalam kehidupan Daud. Walaupun demikian, tidak dapat dikatakan bahwa I Tawarikh tidak akurat. Si penyusun tidak mengada-ada, ia semata-mata memakai apa yang ada untuk menarik pelajaran tertentu untuk masa itu. Sejarah masih ditulis dengan cara seperti itu. Sebenarnya, sukar untuk menulis sejarah tanpa memilih fakta yang dapat dibuktikan. dan itulah yang dilakukan oleh si Penyusun.
Garis Besar Isi Kitab I Tawarikh
[1] Sejarah Keturunan Bangsa Israel Dari Adam Sampai Anak-Anak Yakub (1Tawarikh 1:1- 9:44)
[2] Sejarah Pemerintahan Daud (1Tawarikh 10:1- 29:30)
