Bacaan 18 Mei 2026
Ayub 4-7
“Tetapi aku, tentu aku akan mencari Allah, dan kepada Allah aku akan mengadukan perkaraku.”
Ayub 5:8
Ada 2 bagian penting yang terdapat didalam Ayub 5:8 yang diharapkan dapat menolong kita untuk menjalani lika-liku kehidupan; baik saat kita sedang berada didalam tekanan permasalahan maupun ekspektasi tinggi yang tidak kesampaian. Karena terkadang tekanan permasalahan maupun ekspektasi tinggi membuat beban tersendiri bagi kehidupan ini. Dan mungkin saja hal-hal tersebut akhirnya membuat kita jatuh dan terpuruk. Lantas bagaimana cara kita mengatasinya?
Tekanan dan masalah kehidupan bukan tanda iman kita gagal atau tanda bahwa Tuhan tidak berkenan, melainkan pengingat bahwa kita hanya manusia biasa yang terbuat dari debu tanah yang terbatas dan rentan oleh tekanan kehidupan. Seringkali, reaksi pertama kita sebagai manusia adalah mencari sandaran dibumi dengan cara berlari kepada sesama, mengandalkan logika, atau mencari pelarian instan untuk sekadar menenangkan kericuhan hati dan pikiran. Namun ketika semua pintu di bumi tampak tertutup, kemana lagi jiwa yang lelah ini harus melangkah?
Ketika Ayub kehilangan harta, anak, kesehatan hingga kesetiaan istrinya; ia mengalami tekanan mental yang luarbiasa hingga batinnya hancur penuh luka. Dan mungkin saja kita sedang berada didalam fase yang sama?
Ketika ia mengalami itu semua, Ayub jujur dan terbuka atas kelemahannya. Ayub sadar bahwa ia tidak bisa terus menerus berpura-pura kuat agar tidak dihujat oleh dunia atau teman sejawat. Dan terlebih dari itu, Ayub mengerti bahwa Tuhan tidak pernah meminta ia untuk berpura-pura kuat di hadapan-Nya karena menjadi rapuh di hadapan Allah bukanlah dosa. Kelemahan batin justru menjadi ruang kosong yang siap dipenuhi oleh kekuatan kasih kuasa-Nya. Ketika kita menyadari bahwa kekuatan kita terbatas, di situlah pencarian yang sungguh-sungguh akan Allah dimulai.
Bagian pertama, frasa “Tetapi aku, tentu aku akan mencari Allah…” menuntut sebuah tindakan aktif di tengah kelumpuhan emosional yang sedang kita alami. Tindakan aktif untuk mencari Allah perlu menjadi keputusan utama ketika kita sedang berada didalam tekanan permasalahan. Jangan sampai kita malah menarik diri ketika masalah menumpuk karena kecewa atau merasa tidak layak. Namun, “jalur langit” adalah jalur kasih karunia dimana jalur itu tidak memerlukan syarat untuk sampai ketujuan. Mencari Allah berarti mengalihkan pandangan kita dari besarnya badai kepada besarnya Pribadi yang memegang kendali atas badai. Ini adalah keputusan iman untuk mendahulukan Allah di atas segala solusi manusiawi.
Bagian kedua dari ayat tersebut terdapat sebuah lanjutan yang sungguh indah, “…dan kepada Allah aku akan mengadukan perkaraku.” Kata “mengadukan” dalam bahasa Ibrani “suwm” mengindikasikan sebuah tindakan membeberkan kasus hukum atau menyerahkan seluruh argumen kepada penegak hukum karena tau bahwa kita sedang berada dihadapan hakim yang akan menilai secara adil semua argumen dan keluhan kita.
Tuhan adalah Hakim yang Adil sekaligus Bapa yang Penuh Belas Kasihan. Oleh sebab itu kita diundang untuk menuangkan seluruh isi hati kita tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi. Mari menangislah dihadapan-Nya, sampai semua kebingungan, ketakutan, dan rasa sakit kita. Dan bawa “perkara” rumit kehidupan kita yang terasa tidak memiliki jalan keluar logis ke pengadilan surgawi.
Ketika kita menyerahkan perkara kita ke jalur langit, maka kita sedang melepaskan hak kita untuk mengendalikan situasi dan mengizinkan kedaulatan Allah bekerja dengan cara-Nya yang ajaib. Mengadukan perkara kepada Allah tidak selalu berarti masalah kita langsung hilang dalam semalam. Namun ada satu hal yang pasti yaitu di dalam hadirat-Nya, beban batin kita akan ditukar dengan damai sejahtera yang melampaui segala akal.
“saat dunia terasa menakutkan dan mencekam; mari teduhkan hati kita dan masuklah dalam ruang doa untuk mengambil jalur langit dan mengadukan segala perasaan serta beban yang menekan. Bagian kita adalah mencari dan mengadu; bagian Allah adalah bertindak dan memulihkan.”
Tuhan Yesus memberkati
YG180526
Pokok Doa SRHI GBIK
Senin, 18 Mei 2026
1. Berdoa bagi anak-anak yang menghadapi ujian sekolah supaya dapat belajar dengan baik dan Tuhan memberikan hikmat sehingga mereka dapat mengerjakan setiap soal ujian dengan baik dan benar.
2. Berdoa untuk Panitia Penerima Tamu agar dapat melaksanakan tugas pelayanannya dengan baik dan penuh sukacita.
3. Berdoa untuk proyek infrastruktur nasional dan daerah, terutama proyek yang mengambil sebagian jalan raya supaya dapat segera dituntaskan sehingga dapat mengurangi kemacetan.
Pokok Doa untuk Cabang Sekadau, Kalimantan Barat
1. Berdoa untuk pergumulan jemaat, kiranya Tuhan memberikan kekuatan, kesabaran dan jalan keluar bagi setiap permasalahan yang dihadapi oleh jemaat di Cabang Sekadau.
2. Berdoa untuk guru Sekolah Minggu supaya tetap setia mengajar dan menjangkau anak-anak lainnya.
3. Berdoa untuk Pdt. Sebunbia beserta keluarga supaya diberikan kesehatan, hikmat dan kemampuan dalam melayani jemaat, serta terus setia dalam mengunjungi jemaat yang sudah lama tidak ke gereja.
