“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”
Filipi 4:7
Ketika kita bertanya kepada orang dunia tentang damai sejahtera, maka mereka akan menyatakan bahwa damai sejahtera merupakan kondisi dimana manusia berada dalam kenyamanan tanpa perselisihan, tanpa perang dan tanpa bencana. Bahkan beberapa memberikan pernyataan bahwa damai sejahtera merupakan kondisi dimana manusia tercukupi kebutuhannya, keinginannya dan masa depannya. Lantas apakah pengertian tersebut salah?
Secara harafiah pengertian tersebut tidaklah salah, namun pengertian tersebut tidaklah kekal. Hal ini didasarkan pada realita kehidupan manusia yang telah rusak oleh dosa yang membawa manusia kepada situasi dimana manusia akan selamanya diperhadapkan dengan permasalahan. Dasar dari argumentasi diatas terdapat pada peristiwa yang tertulis dalam Kejadian 3:17 dimana Allah mengutuk tanah (Adamah) yang merupakan unsur pembentuk dari manusia (Adam) dan kutukan tersebut tidak pernah dicabut oleh Allah sampai detik ini dan selamanya. Sehingga dengan begitu maka selama manusia menginjakkan kaki ditanah (Adamah), maka manusia (Adam) akan selamanya diperhadapkan dengan permasalahan. Dengan realita tersebut apakah damai sejahtera yang dipahami oleh orang dunia merupakan damai sejahtera sejati? Tentu saja tidak.
“Karena jika damai sejahtera hanya didasarkan pada aspek fisik atau ego diri manusia, maka damai sejahtera tersebut bersifat sementara”
Harta habis? Damai sejahtera bisa hilang, sakit? Damai sejahtera bisa hilang, mengalami penderitaan? Damai sejahtera bisa hilang; dan banyak contoh-contoh lain yang dapat diambil untuk dapat melawan argumentasi damai sejahtera fana manusia.
Lantas bagaimana damai sejahtera yang sejati itu? Damai sejahtera yang sejati bersumber dari Yang Sejati dan tidak bersumber dari aspek fisik maupun ego diri. Damai sejahtera yang sejati diberikan oleh Yang Sejati didalam sanubari yang membawa kepada pengharapan serta iman didalam Yesus Tuhan. Damai sejahtera tersebut memampukan orang percaya untuk dapat melewati realita kehidupan yang senantiasa akan diperhadapkan dengan permasalahan-permasalahan dengan kasih, kuasa, penyertaan dan mujizatNya.
Damai sejahtera yang sejati tersebut tidak serta merta membuat orang percaya lepas dari permasalahan, tetapi memampukan orang percaya dapat melewatinya dengan nyaman dan aman. Hal ini tergambar jelas ketika Sadrakh, Mesakh dan Abednego dapat berjalan-jalan ditengah api permasalahan karena damai sejahtera bersama dengan mereka sehingga mereka dapat mendapatkan pertolongan dan mujizat yang dari pada-Nya.
Oleh sebab itu maka kita perlu memaknai damai sejahtera dengan benar sehingga kita tidak menjalani kehidupan yang beorientasi kepada dunia dan tidak mudah jatuh karena dikecewakan oleh dunia. Pahamilah bahwa damai sejahtera yang sejati bersumber dari Yang Sejati dan membawa kepada iman serta pengharapan dalam menjalani kehidupan yang selamanya akan diperhadapkan dengan permasalahan.
Tuhan Yesus memberkati
YG101125
Pokok Doa SRHI GBIK
Senin, 10 November 2025
1. Mengucap syukur untuk Ibadah Minggu, Sekolah Minggu dan Persekutuan Harmoni yang telah berlangsung. Bersyukur untuk Jemaat yang melayani dengan setia.
2. Berdoa untuk pertumbuhan dan kedewasaan rohani Jemaat, kiranya setiap jemaat bertumbuh dalam iman, pengharapan, dan kasih, menjadi terang serta garam di tengah-tengah masyarakat sekitar.
3. Doakan agar semangat Nasionalisme terus menyala, kiranya Tuhan menanamkan semangat cinta tanah air, kejujuran, dan keberanian dalam setiap hati anak bangsa, baik didalam negeri maupun yang sedang merantau di luar negeri.
Pokok Doa untuk Cabang Eklesia, Pelita, Halmahera Utara
1. Berdoa untuk jemaat yang sakit, Tuhan berikan kesembuhan, dan seluruh Jemaat dilindungi dari kecelakaan maupun marabahaya lainnya.
2. Doakan supaya Jemaat tetap setia dalam beribadah, baik ibadah Minggu maupun kegiatan gereja lainnya, dan mengajak saudara atau teman untuk ikut beribadah di gereja.
3. Berdoa bagi Gembala Sidang Pdm. Yunus Tuwongadil dan Keluarga supaya diberikan kesehatan, hikmat dan kemampuan dalam menggembalakan jemaat.
