“Yakobus 2:26Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian juga iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.”
(Filipi 1:27-30)
Pagi ini kita akan merenungkan firman Tuhan dengan judul “Injil Hidup Dalam Hati Orang-orang Yang Percaya,” yang diambil dari Filipi 1:27-30. Minggu yang lalu, kita telah membicarakan apa itu Injil. Injil adalah Kabar Baik, seperti yang dijelaskan oleh Rasul Paulus dalam 1 Korintus 15:3-6: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu, Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal.”
Sekarang mari memperhatikan firman Tuhan yang menyatakan kepada kita apa yang seharusnya terjadi dalam hidup kita apabila Injil hidup dalam hati kita. Untuk itu, mari membuka Alkitab Saudara pada Filipi 1:27-30. Pada ayat-ayat ini, ada empat hal yang seharusnya terjadi dalam hidup setiap orang, apabila Injil hidup dalam diri mereka. Dalam ringkasan khotbah ini, hanya dimuat dua saja.
KONSISTEN
Konsisten merupakan kualitas utama dalam mengikut Kristus serta hidup dalam Injil. Ayat 27 berkata: “Hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus.” Perhatikan frase berpadanan (πολιτευόμαι / politeuomai) – berperilaku sebagai warga negara (BIS), sesuai dengan tuntutan Injil (FAYH), selalu hidup sebagaimana layaknya orang Kristen.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, apakah Saudara hidup berperilaku sebagai warga negara surgawi? Rasul Paulus menulis dalam Filipi 3:20: “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.” Apakah hidup Saudara sesuai dengan tuntutan Injil? Apakah Saudara selalu hidup sebagaimana layaknya orang Kristen, sehingga apabila aku datang aku melihat, atau apabila aku tidak datang aku mendengar bahwa hidup Saudara sesuai dengan tuntutan Injil?
KESATUAN
Bagian kedua dalam khotbah pagi ini ialah, jika Injil hidup dalam diri kita sebagai orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, maka harus ada kesatuan. Perhatikan ayat 27 bagian akhir: “Supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil.” Rasul Paulus mempunyai keyakinan bahwa dia akan dilepaskan dari penjara di Roma dan bisa bertemu lagi dengan mereka. Tetapi dia juga memikirkan kemungkinan lain, bahwa dia tidak akan bertemu lagi dengan orang-orang yang dikasihinya ini. Rasul Paulus menulis kepada mereka bahwa dia bisa bertemu dengan mereka, dan bisa melihat mereka lagi. Tetapi kalau dia tidak bisa lagi bertemu dengan mereka, dia bisa mendengar bahwa mereka berdiri dalam satu roh, mereka sehati sejiwa berjuang untuk iman karena Injil.
Saudara-saudara, ini adalah istilah yang biasa dipakai oleh militer/tentara/seorang prajurit. Istilah yang dipakai oleh Rasul Paulus dalam ayat ini adalah stay’ko (berdiri diam, bertahan): berdiri teguh pada pendirian, berdiri teguh pada keyakinan.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, apakah Saudara masih berdiri teguh dalam keyakinan Saudara bahwa Tuhan Yesus adalah Juruselamat Saudara? Apakah Saudara masih berdiri teguh pada keyakinan bahwa Alkitab ini adalah firman Allah yang diwahyukan untuk menuntun kita kepada hidup yang berkenan kepada Tuhan? Apakah Saudara masih berdiri teguh pada keyakinan bahwa karena Tuhan Yesus bangkit, maka kuasa-Nya juga akan membangkitkan kita dan memberi kita hidup yang kekal? Apakah Saudara masih berdiri teguh pada keyakinan bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali dan akan membawa kita ke dalam kerajaan-Nya dan memerintah bersama-sama dengan Dia?
Yang menarik dalam bagian ini ialah Rasul Paulus tidak berhenti pada frase “berdiri teguh” saja, tetapi melanjutkan dengan kalimat: “Dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil.” Terkesan bahwa dalam kalimat ini ada lebih dari satu orang. Ada kesatuan berdiri teguh bersama-sama berjuang untuk iman. Kata yang dipakai dalam ayat ini adalah συνθλέω (“soon-ath-leh’-to”) – bergulat bersama-sama, bekerja sama, berjuang bersama-sama. Jadi orang Kristen yang hidup dalam Injil rela bekerja bersama-sama dengan orang lain.
