“Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”(Luk. 5:1-5)
Di mana ada kemauan, di situ ada jalan, demikian kata pepatah. Maksudnya adalah orang yang memiliki kemauan yang keras untuk mencapai dan memiliki sesuatu, ia akan mendapatkannya. Apalagi tidak ada seorang pun yang mau jatuh dalam kekurangan bahkan kemiskinan, sehingga untuk mencapai semuanya itu orang akan berusaha dengan keras meski mengerjakan hal-hal yang sulit sekali pun demi memenuhi kebutuhan pokoknya, yaitu papan, pangan, sandang, serta pendidikan.
Kendati demikian, seringkali kita lupa bahwa untuk memperoleh keberhasilan itu sebenarnya tidak hanya dengan kerja keras dan mengandalkan kepandaian kita, melainkan perlu adanya penyerahan total kita kepada Tuhan. Oleh karena campur tangan kuasa Tuhanlah yang sangat menentukan. Dan ini hukumnya adalah wajib. Dalam Injil Lukas 5:1-11 adalah satu gambaran yang sangat tepat untuk kita renungkan bersama bagaimana kita dapat melihat Simon Petrus, Yakobus, dan Yohanes yang profesinya adalah nelayan telah bekerja ekstra mencari ikan guna memenuhi kebutuhan hidupnya meski pun hasilnya adalah nihil (ay. 5a), bahkan karena konsentrasinya adalah bekerja dan mendapatkan hasil sehingga ketika di tepi pantai danau Genesaret orang banyak mengerumuni Yesus untuk mendengarkan pengajaran tentang Allah mereka pun tidak menghiraukan sama sekali baik kepada Yesus maupun kepada kumpulan orang banyak itu sendiri. Dan inilah yang sungguh sangat aneh dan menjadi pelajaran berharga bagi kita. Karena ambisi untuk berhasil maka seringkali kita tidak peduli dengan sesama bahkan kehadiran Tuhan (ay. 1-2).
Adalah hal yang sangat menarik lagi untuk kita perhatikan adalah ketika Tuhan Yesus selesai mengajar di atas perahu Simon Petrus dan memerintahkannya untuk menolakkan perahunya ke tempat yang lebih dalam dan menebarkan jalanya untuk menangkap ikan (ay. 4), Petrus mewakili teman lainnya memberi jawaban yang sangat mengejutkan dan jawaban-jawabannya inilah yang menjadi penghalang menuju penyerahan total kepada Tuhan, yaitu dan diantaranya adalah; Pertama; “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa….. (ay. 5a)”. Perkataan ini menunjukkan sikap pesimis atau keputusasaan Petrus dan yang lainnya karena jerih lelahnya sepanjang malam mencari ikan tidak mendapatkan hasil apa-apa meski pun yang memberi perintah adalah Yesus yang dikenal sebagai Guru dan pembuat mujizat (Luk. 4:16-21; 31-37; 38-41) mereka tidak dengan segera melakukannya tetapi malah menggerutu. Dan sikap ini bisa dikategorikan kurang adanya iman. Kedua; “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa….. (ay. 5a)”. Untuk perkataan Petrus yang sama ini dapat diartikan lain bahwa mereka menunjukkan sikap merasa paling bisa sesuai nalarnya. Tentu pernyataan ini adalah wajar-wajar saja kalau dilihat dari sudut pandang logika manusia, karena yang memberi perintah adalah seorang Nasaret yang pekerjaannya adalah tukang kayu sementara Petrus adalah orang Genesaret yang pekerjaannya adalah tukang mencari ikan. Selain itu mungkin menurut logika Petrus, Yesus adalah seorang Guru spiritual yang tidak tahu tentang melaut jadi untuk apa mereka menuruti perintah Yesus. Meski pun pada akhirnya mereka menuruti-Nya dan tersungkur di hadapan Tuhan karena mujizat yang Ia nyatakan (Luk. 5:8). Ketiga; “… Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa”. Kalimat ini kelihatannya adalah baik dan tidak ada yang salah. Tetapi kalau kita perhatikan lebih dalam sesungguhnya makna kalimat ini adalah menunjukkan sikap pribadi yang rendah diri. Sudah tahu bahwa ia adalah seorang berdosa dan tahu bahwa Yesus bukan hanya Guru tetapi Tuhan (ay. 5&8), maka sangatlah mengherankan jika Petrus harus berkata demikian. Seharusnya Petrus dengan berani dan bersukacita berkata kepada Yesus untuk mengikuti-Nya selain mengakui dosanya.
Melalui perenungan di atas, maka sangatlah jelas bahwa seringkali tanpa disadari, kita melakukan hal-hal yang menjadi penghalang menuju penyerahan total kepada Tuhan. Oleh karena itu, mari menyerahkan hidup kita secara total kepada-Nya supaya kita semakin diberkati dan layak di hadapan Tuhan kita Yesus Kristus. Amin.
(AP17062024)
Pokok Doa GBIK:
- Bersyukur untuk pemeliharaan Tuhan dan kasih karunia-Nya yang terus diberikan untuk Jemaat GBIK.
- Berdoa untuk pelaksanaan persekutuan WBI dan PBI agar melalui kedua persekutuan itu, semua dapat memuliakan Tuhan dan saling menguatkan.
- Berdoa untuk pembangunan IKN dan perpindahan ke Ibu Kota Negara diberikan kelancaran.
Pokok Doa TPW FILADELFIA, Todokuiha, Halmahera Utara

- Doakan penjangkauan dan penginjilan melalui KPW tiap bulan serta Ibadah Doa dapat memenangkan banyak jiwa baru.
- Doakan pemulihan kesehatan jemaat, Bapak Frangki dan Ibu Melci.
- Doakan proses pembelian tanah di samping gereja dapat terlaksana secara baik.
